Aku memanggilnya "Gadis Gerimis".

Pertama, karena saat pertama kali bertemu dengannya, gerimis sedang hadir di kota ini. Kedua, karena sinar matanya selalu sayu dan mengandung mendung yang terlihat, seakan siap memuntahkan hujan kapan saja. Ketiga, karena saat gerimis di sore hari, selalu bayangannyalah yang terlintas.

Kepalanya selalu tertunduk saat berjalan, seolah tak ingin siapa pun melihat mendung di kedua matanya yang sewarna kayu manis. Senyum manisnya akan terkembang bila kutanya apa yang sedang dirasakannya dan dia akan menjawab: "Aku tak apa-apa, Mas".

Aku tahu dia berbohong.

Dia sedang menyembunyikan cinta. Cintanya pada seseorang yang dia tahu tak akan bisa dimiliki. Cinta yang selamanya hanya akan tetap jalan di tempat. Dia sedang mencoba mengobati, mungkin. Saat itulah aku hadir dan memaksakan masuk ke dalam hatinya yang sedang terluka. Iya, memaksa. Karena sebenarnya aku paham dia tak siap, tapi tak kuasa menolak.

Aku merasa menjadi superhero yang bisa menyelamatkan hatinya dan mengembalikan senyum di matanya. Tapi semakin lama, mendung itu semakin gelap. Kepalanya tertunduk semakin dalam, dan senyumnya semakin penuh paksaan. Aku memilih mengakhirinya. Bukan hakku untuk memaksanya memberikan hati untukku. Ditemani gerimis sore di sudut warung kopi aku berkata padanya bahwa aku menyerah.

Dia bertanya: "Kenapa?"

"Tak apa-apa, Dek." aku memilih berbohong, "siapa tahu setelah lepas dariku kau akan lebih bahagia."

Dia tersenyum. Gerimis menetes dari sudut matanya.

Kini, di warung kopi yang sama, gerimis yang sama. Kulihat dia melintas berjalan bersama seseorang. Orang itu merentangkan sebuah payung untuk melindungi mereka dari gerimis. Tak dapat kutahan senyumku. Berbahagialah, Dek. Sampai kapanpun kau tak akan bisa mencintai seorang laki-laki. .


Suara Ketukan

Ada suara ketukan.

Dua.

Tiga.

Tujuh.

Kuhampiri pintu, kubuka.

Tak ada siapa. Tak ada apa - apa.

Aneh.

Lalu ada suara gaduh.

Ramai. Ribut. Berisik.

Siapa? Apa? Dimana?

Aneh

Mendung gelap mulai mendekat. Kubuka daun jendelaku lebar-lebar. Aku siap menyambut mendung, hujan, dan segala kenangan yang akan datang. Aku mengira di kota yang baru ini, yang berjarak ribuan kilometer darimu harusnya juga memberi jeda pada kenangan kita tapi ternyata tak semudah itu. Aku semacam buronan yang dikejar-kejar oleh bayangan dan kenangan. .

Gerimis datang.

Suara ketukan kembali terdengar.

Apakah itu kau yang sedang mengetuk?

Bukan di pintu, melainkan di benakku. Kau terus mengetuk, mengharap masuk. Berlindung dari rinai gerimis.

Ketukan itu semakin kuat, gaduh.

Tidak, sayang.

Tolong.

Bantu aku untuk menjadi kuat. Tidak tergoda oleh kedatangan kenangan. Semanis apapun, kenangan tetaplah kenangan. Dan tentangmu, tentang kita, biarlah kukubur dalam-dalam. Kusertakan bersama ragamu yang telah tertimbun tanah, sayang.

Bahagialah kau disana.

Biarkan ku bahagia dengan caraku sendiri disini.


Aku dan Bangku

Aku memang berjodoh dengan bangku taman dan mendung. Keluar dari Stasiun kota ini, aku berjalan menuju taman kota dipayungi mendung abu-abu. Gila memang, menempuh lima jam perjalanan dengan kereta hanya untuk mengenangmu di sini.

Hmm, hawanya masih sama. Sejuk. Tidak terlalu penuh dengan polusi. Tapi taman kota ini cukup banyak berubah. Sudah banyak kafe-kafe bergaya metropolis di sekelilingnya. Ada beberapa bangku dan meja yang memang disediakan untuk nongkrong berlama-lama.

Kupilih satu bangku di tengah setelah memesan kopi robusta dan kopi susu. Kenapa dua macam? Iya, kopi susu untukku dan kopi robusta untuk(bayangan)mu. Dulu itu adalah menu wajib kita berdua. Sembari menyandarkan kepalamu di bahuku, kau akan mulai menebak parfum apa yang kupakai saat itu. "Kok parfumnya beda?" adalah pertanyaan andalanmu setelah menanyakan kabar.

Lalu kita akan mulai saling bertukar cerita. Tentang kegiatanku di kantor, tentang aktivitasmu di beberapa komunitas, tentang tanaman-tanaman kesayangan bapakku yang sudah mulai berkembang, juga tentang kontes memasak yang diikuti ibumu.

Kau tahu aku suka memasak layaknya ibumu, karena itulah katamu kau menyayangiku, mas. "Kamu suka membaca juga suka memasak. Perpaduan yang unik, Dek" ucapmu. Lalu kau mulai menunjukkan beberapa makanan yang terkenal di kotamu ini. Soto di depan pasar, bakso di sudut perempatan, juga sate ayam yang ada di komplek rumahmu.

Dulu saat kita duduk di taman ini, kau akan mulai mematikan gawai punyamu juga punyaku. Kau tak ingin siapapun mengganggu momen kita berdua. Lalu kau akan mulai memainkan gitarmu dan bernyanyi. Suaramu tidaklah bagus, mas. Hahaha. Tapi aku suka. Dan detik ini, aku rela melakukan apapun bahkan membayar berapapun hanya untuk mendengar suaramu lagi.

Aku mendatangi kotamu hanya untuk menziarahi kenangan. Kemarin saat memesan tiket, aku kira akan bisa merelakanmu dengan cara seperti ini. Tapi aku salah besar, mas. Lukanya semakin basah. Aku menikmati perihnya. Aku mungkin sudah kecanduan rasa sakitnya sehingga kubiarkan saja luka ini menganga. "Aku rindu kamu, Mas." kudentingkan cangkirku ke cangkirmu sebelum kusesap kopiku. 

Pedih.