Orang-orang mulai ramai berkumpul di halaman rumahku. Mereka bersiap memasang tenda, menyusun meja dan kursi. Sebagian lainnya sibuk membuat hiasan janur dan pernak-pernik pesta dari kertas dan plastik.

Keluarga besar sudah berkumpul di rumah besar ini. Mereka datang dari berbagai penjuru nusantara. keluargaku memang banyak yang merantau ke luar daerah, namun tetap mencintai kampung halaman yang damai ini.

Campur aduk perasaan ini, karena besok hari adalah hari indah anak gadisku. Hari yang pastinya akan selalu diingat sepanjang hayat dikandung badan. Besok adalah hari pernikahannya dengan seorang lelaki pilihannya sendiri. Lelaki yang sudah lama dikenalnya saat sama-sama mengeyam pendidikan master di luar negeri.

Bahagia, tentu saja kurasakan saat ini. Sedih? juga iya, karena anak gadisku akan pergi dengan bahteranya sendiri. Iri? ya, sepertinya aku juga iri.

Tak kuhiraukan ramainya handai hilir mudik di rumahku. Aku di sini, duduk  di samping jendela, memandang keluar, melihat keceriaan, canda tawa mereka yang akan menyiapkan pesta.

***

Aku, duduk di samping jendela, sambil melambaikan tangan, ketika dahulu melepaskan dia pergi untuk melanjutkan studi di luar pulau Kalimantan. Dia yang dahulu pernah dekat sekali dengan ku saat sama-sama kuliah S1 di kota ini.

Tidak menyangka, saat itu lah terakhir kali kulihat dia. Hari itu, dia pamit ke aku dan kedua orang tua ku untuk melanjutkan studi S2-nya. Sementara aku tidak mendapatkan izin untuk studi lanjut. Aku anak perempuan pertama dari abah dan mama keturunan Arab.

Abah dan mama memang berasal dari garis keturunan Syarif dan Syarifah. Keluarga besar mereka memegang tradisi untuk mempertahankan garis keturunan yang mereka anggap mulia. Mereka memilih jodoh pendamping dari garis keturunan yang sama.

Harapan yang sama tertuju kepada ku. Abah dan Mama menghendaki aku pun mendapatkan jodoh dari kalangan Syarif.

“Namamu, Syarifah Masniah, lebih baik kamu bersuamikan dari kalangan Syarif juga”, kata-kata abah itu lah yang selalu terngiang di telingaku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanyalah anak gadis kampung yang kental dengan nuansa agamis. Anak yang dituntut untuk menurut apa kata orang tuanya.

Itulah mengapa, kepergian dia, teman dekatku dianggap membahagiakan bagi kedua orang tuaku. Sementara aku, pasrah dengan tradisi nenek moyang pendahuluku.

Hari-hari kulalui dengan merindu. Meniti hari, menunggu minggu, menenun bulan, dan menghabiskan tahun. Menanti juru rindu untuk menghempaskan rindu.  

***

Tiba-tiba, Abah Mama menghampiriku dan berkata: “Nak, Syarif Zainuddin dan orang tuanya akan melamarmu besok”. Aku terkejut. Lidahku kelu, membeku seakan tak bisa digerakkan. Aku terdiam sesaat.

Hatiku mencoba untuk menolak, mencoba untuk mengatakan tidak. Tetapi pelukkan mama membuatku terdiam. Tangannya memegang tanganku sangat erat. Seolah ingin mengatakan “Aku harus kuat”. Akhirnya , Aku mencoba sumarah dengan roman hidupku ini.

Lamaran diterima. Aku sudah resmi menjadi pinangan seorang bernama Syarif Zainuddin. Dia adalah anak dari sepupu jauh Abahku. Masih terkait keluarga jauh. Dia pun patuh dan taat kepada orang tuanya yang juga dari kalangan Syarif-Syarifah.

Dijodohkan? Tidak. Ini bukan perjodohan. Roman cinta seperti ini galib terjadi dalam keluarga besarku. Alasan terbesar adalah melanggengkan keturunan nenek moyangku. Pada dasarnya aku boleh menolak, menampik lamaran ini. Namun cintaku ke Abah Mama lebih besar dari pada cinta egoku

***

Sejak saat itu, denyut kehidupanku dihabiskan di rumah saja. Aku ditempatkan dalam tempat spesial, sangat privat, namun teristimewa. Aku dipingit dalam sebuah ruang pingit di rumah besar orang tuaku.

Sepi, sendiri menanti hari pernikahanku dengan seorang yang jauh lebih dewasa dariku. Lima belas tahun beda umurku dengannya.

Ruang pingit berada di sebuah loteng rumah adat kami. Rumah Gajah Baliku, begitu orang-orang menyebutnya. Loteng yang dipagar dengan ukiran kayu ulin yang kuat.

Aku diistimewakan menjelang hari pernikahanku. Di loteng tempat aku dipingit, aku menjalani ritual sebelum pernikahan. Batimung (mandi uap) dan Balulur (luluran) adalah dua krida ritus yang harus aku lakukan. Ku lakukan setiap hari sampai hari pernikahan, di loteng Gajah Baliku.

***

Waktu terasa begitu cepat. Hari ini, ramai orang-orang lalu-lalang dengan kesibukan masing-masing. Aku masih terduduk di samping jendela Gajah Baliku. Aku adalah gadis dalam Gajah Baliku yang dahulu dipingit dalam loteng rumah ini.

Sekarang, aku sudah memiliki gadis yang akan mengarungi bahtera kehidupannya sendiri. Gadisku tidak lagi dipingit. Gadisku tidak lagi bersuamikan Syarif. Gadisku tidak lagi berjodoh dengan pilihan keluarganya.

Kini, gadisku punya pilihan sendiri. Kini gadisku akan bahagia dengan cara bahagia yang lain dari bahagiaku.

“Umi”, suara parau tiba-tiba terdengar jelas dari telingaku.

Ku toleh ke belakang, ternyata suamiku, Syarif Zainuddin, menghentikan lamunanku. Tatapan matanya masih setajam dan seindah ketika dia pertama kali datang untuk melamarku. Tangannya kekar namun penuh kelembutan berlabuh dipundak kananku.

“Iya Abi”, jawabku lembut.

 Seolah tahu dengan apa yang sudah aku lamunkan, dia membisikan lembut di telingaku: kemuliaan bukan dari pitarah, tapi dari hati yang tak patah.