Ini tentang seorang gadis cilik, cantik, dan periang, yang entah kapan tepatnya berubah jadi sulit diatur, mudah tersinggung, dan penuh kecemburuan. 

Gadis ini tumbuh dewasa. Ia tidak kesulitan dalam berelasi dengan orang-orang yang baru dikenalnya. Namun dalam tempo singkat, mereka akan menjauhkan diri karena merasa tidak nyaman di dekatnya.

Ia penuh keluhan dan tuduhan terhadap orang-orang di sekitarnya. Menghabiskan waktu dengannya beberapa jam saja membuat kita, seperti dirinya, merasakan yang manis sebagai getir.

Berteman dengannya harus siap jika tiba-tiba ia meledak. Kita seperti berjalan di atas telur: kapan saja, sewaktu-waktu, meski baru saja kita menikmati momen menyenangkan dengannya, ia memanas dan mengeluarkan caci maki yang tidak akan kita duga dapat keluar dari bibirnya.

Terpuruk ia dengan kegagalan demi kegagalan bercinta, dengan persahabatan yang tidak berlangsung lama, dengan hubungannya yang tak pernah membaik dengan orang tua. Tetapi alih-alih berintrospeksi, ia merasa diri sebagai korban dan menyalahkan orang lain sebagai penyebab “penderitaan”-nya.

Ada saatnya ia menyadari telah bersikap kasar, ia pun meminta maaf. Tidak lama kemudian, ia kembali menuduh orang tersebut telah menghunjamnya dua kali karena ia yang meminta maaf padahal ia yang telah “dilukai”. 

Kepada teman-teman dekatnya, ia sering mengungkit cerita mengenai “kejahatan-kejahatan” orang-orang ini. Jika salah-salah kata menanggapi ceritanya, ia menuduh sahabat-sahabatnya ini tidak memahami penderitaan yang ia alami. 

Saya beri tanda kutip pada kata-kata penderitaan, dilukai, dan kejahatan, karena ini adalah persepsi subjektifnya, bukan berarti yang sebenarnya terjadi.

Ini bukan fiktif. Saya mengenal baik gadis ini. Bersamanya, saya menghabiskan masa kanak-kanak saya. 

Suatu hari, ketika kami sedang berbincang-bincang, kami sampai pada topik pembicaraan mengenai seorang pria yang dulu kami panggil “abang”, yang mengajarkan kitab suci kepada kami. 

Ia menuturkan, dengan datar, tanpa emosi, bahwa pria ini melakukan kekerasan seksual kepadanya selama bertahun-tahun ketika ia masih kecil. Kemudian ia terdiam, dan saya termangu, sebelum akhirnya kami sama-sama terisak. 

Tiba-tiba waktu seperti berputar di hadapan saya. Saya teringat masa-masa itu ketika saya bertanya-tanya mengapa kawan saya ini berubah menjadi pemarah dan senang memaki siapa saja di sekitarnya. 

Hari ini ia terlibat pertengkaran dengan si A, dua hari kemudian dengan si B. Adiknya juga sering menjadi korban labilitas emosinya; kadang ia sangat peduli, kadang ia tampak sangat membencinya.

Ayahnya sering hilang sabar dan menghukumnya, ibunya menangis dan mengelus dada. Pilu hati saya membayangkannya, tidak menyangka bahwa sepanjang waktu itu, ia mengalami peristiwa terkutuk itu.

Perilaku negatif anak sebagai sinyal dan kegagalan orang tua menangkap sinyal

Saya jadi diingatkan bahwa orang tua (atau figur signifikan lain) hendaknya peka menangkap sinyal-sinyal yang berusaha disampaikan anak yang mengalami kejadian traumatis. Sinyal-sinyal ini tampil dalam bentuk perilaku negatif: rewel, kasar, agresif, memberontak, dll.

Anak, dengan keterbatasannya, dalam ketidakmengertiannya, sulit mengungkapkan secara eksplisit apa yang ia alami. Perilaku negatif mereka merupakan ekspresi dari kegelisahan dalam diri, dari semua emosi yang berkecamuk tanpa mereka dapat menamakannya. 

Anak mengharapkan orang tua mampu memahami apa yang terjadi, menyingkap yang tersembunyi, yang tidak dapat mereka ceritakan. 

Seringkali saya mendapati mereka yang pernah menjadi korban kekerasan/pelecehan seksual bertanya mengapa dulu orang tua (baca: ibu) tidak dapat “menangkap” perubahan sikap dan perilaku mereka, tidak dapat “melihat” bahwa mereka mengalami peristiwa yang mengerikan?

Pertanyaan ini tentu membangkitkan rasa bersalah pada diri orang tua. Tidak jarang terapi pemulihan korban kekerasan di masa kanak-kanak membutuhkan proses pemaafan orang tua. Orang tua sendiri perlu memaafkan dirinya yang seperti “buta” pada saat kejadian.

(Harus diakui, ada orang tua yang “membutakan” diri, yang menyangkal mengetahui bahwa peristiwa itu terjadi, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Khususnya bila pelaku adalah anggota keluarga).

Ketika orang-orang terdekat tidak mampu menangkap atau memahami sinyal yang diberikan anak, mereka akan menanggapi sinyal ini dengan cara-cara yang memperburuk kondisi anak.

Korban pelecehan/kekerasan seksual di masa kanak-kanak pun rentan mengalami bentuk kekerasan lainnya sebagai respons terhadap dampak pelecehan/kekerasan yang ia alami. 

Kawan saya, tidak hanya sering dimarahi dan dihukum ayahnya, ia harus pula menerima dirinya senantiasa dibanding-bandingkan dengan adiknya yang memang manis, lembut, tak pernah berulah, nyaris sempurna. (Kita lihat juga rantai kekerasan ketika si adik menjadi sasaran pelampiasan kakaknya).

Kepribadian yang tersayat

Anak yang mengalami kekerasan seksual pada masa kanak-kanak cenderung menampilkan gambaran kepribadian yang khas, yang saya namakan sebagai kepribadian yang tersayat, semacam perpaduan antara pasif-agresif, borderline, dan paranoia.  

Ambivalensi sikap yang ditampilkan pelaku (antara merayu dan mengancam, tertarik tetapi menyakiti) dan ambivalensi perasaan yang muncul akibat tindakan si pelaku (antara kenikmatan dan ketidaknyamanan/jengah/malu/jijik), keduanya berpotensi mengacaukan emosi korban. 

Korban jadi sangat sensitif, karena terbentuk untuk selalu waspada. Bayangkan korban pelecehan/kekerasan yang senantiasa berjaga-jaga, khawatir kalau-kalau pelaku beraksi ketika anggota keluarga lain sudah terlelap. 

Korban mudah curiga dan meyakini bahwa orang lain sengaja menyakiti dirinya (ide paranoia). Dalam pandangan mereka, manusia terbelah sebagai baik dan jahat (split, sebagai ciri kepribadian borderline).

Sebagai bentuk pertahanan dan perlawanan, mereka bersikap kasar terhadap orang yang mereka anggap menyakitinya. Mereka menyerang balik orang yang “menyerang” dirinya. Sebagian di antara mereka akan menyesalinya, meminta maaf, lalu kemudian kembali merasa telah disakiti sehingga kembali agresif.

Serangan mereka tidak harus eksplisit, tetapi secara ambigu, diam-diam, dalam bentuk pembalasan dendam, atau dalam bentuk sarkasme, menjadi nyinyir dengan perbendaharaan kata-kata pedas (karakteristik pasif-agresif).

Mereka cenderung memproteksi diri, dengan menunjukkan diri sebagai yang paling benar, yang paling tahu, dan sulit menerima pandangan orang lain, apalagi kritikan. Orang luar melihatnya sebagai bentuk narsisisme, tetapi mekanisme yang sebenarnya adalah perlindungan diri untuk tidak (lagi) disakiti.

Tidak sedikit di antara mereka yang mengembangkan iri hati dan kecemburuan. Dimulai terhadap adik atau kakak, dengan pertanyaan: “Mengapa saya yang harus mengalami ini?” Beranjak dewasa, iri hati dan rasa cemburu akan meluas terhadap teman, rekan kerja, dan bahkan pasangan sendiri.

Gambaran ini hanyalah sebagian dari dampak umum yang mungkin mereka alami. Ada dampak-dampak lain yang lebih khusus yang berbeda pada setiap orang. Dapat dibaca selengkapnya mengenai seksualisasi traumatis, bagian akhir dari tulisan Kekerasan Terhadap Istri dan Anak.

Kini gadis cilik kawan saya telah menjadi ibu. Dengan mencintai anak-anaknya, ia belajar mencintai dirinya. Ia rangkul masa lalunya sebagai bagian dari dirinya, ia kumpulkan puing-puing diri yang berserakan.

Kecenderungan pasif agresif dan paranoia tidak semudah itu ia hilangkan. Tetapi kesadaran bahwa ada yang tersayat dari kepribadiannya, membantunya untuk mulai menutup sayatan itu. Kini ia lebih terbuka, mau mendengarkan sudut pandang orang lain, dan melihat dunia secara lebih positif.

Dengan pelukan, untuk seorang kawan.