Permainan itu sangat menyenangkan bukan? Dari mulai anak-anak hingga orang dewasa, semua pasti pernah melakukan sebuah permainan. Namun, ada yang beda nih antara gaya bermain anak zaman dahulu dan anak milenial. Dulu, anak-anak suka memainkan permainan tradisional, sedangkan anak generasi milenial ini lebih suka main gadget atau komputer dengan teman online-nya. Emm, kalau kamu masuk generasi mana, nih?

Pertama, yuk kita bahas apa itu permainan tradisional dan apa aja sih contohnya? Permainan tradisional adalah suatu permainan yang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat. Permainan ini biasanya dilakukan oleh dua orang atau lebih. Permainan tradisional sendiri ada banyak banget jenisnya. Ada juga permainan yang dimainkan dengan menggunakan alat seperti saat bermain congklak.

Congklak  hanya bisa dimainkan oleh dua orang saja. Permainan ini membutuhkan sebuah papan yang disebut papan dakon dan juga biji dakon untuk memainkannya. Pemenangnya adalah dia yang berhasil mengumpulkan paling banyak biji. Permainan ini memang tidak membutuhkan banyak gerak namun perlu konsentrasi tinggi. Selain itu, permainan ini mengajarkan kejujuran dan melatih kecerdasan menghitung serta menyusun strategi, loh. Jadi, ga asal main juga, ya.

Salah satu permainan yang sering saya mainkan adalah gobak sodor. Permainan ini dilakukan dengan membentuk pemain kedalam dua kubu. Masing-masing kubu terdiri dari 3-5 orang. Satu kubu bertugas sebagai penjaga untuk menghadang di setiap garis yang telah digambar dengan mengunakan kapur. Dan anggota kubu lain harus bisa melewati garis tersebut tanpa terkena sentuhan fisik dari si penjaga. Bila semua anggota kubu bisa lolos melewati setiap garis secara bolak balik, maka kubu itulah pemenangnya.

Permainan tradisional itu banyak mengandalkan fisik tubuh seperti berlari dan melompat juga membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Jadi selain bermain itung-itung olahraga juga hehe. Banyak permainan yang dimainkan secara berkelompok. Jadi, mau tidak mau para pemainnya harus bekerja sama dengan orang lain, berunding bersama, serta memecahkan masalah bersama. Saat memecahkan masalah pun anak-anak belajar untuk menghargai pendapat orang lain. Dengan demikian, mereka dapat belajar tentang solidaritas dengan cara yang menyenangkan. Karena pada dasarnya memang permainan tradisional tidak hanya untuk tujuan menghibur tetapi untuk memelihara hubungan dengan sesama manusia.

Berbeda dengan anak zaman milenial yang lebih suka bermain gadget. Gadget memang sangat merebak luas di kalangan anak muda saat ini. Anak-anak memang dituntut untuk menguasai teknologi, tapi apakah hal itu diharuskan sejak usia dini? Ditambah dengan kondisi pandemi yang membuat anak-anak tidak bisa lepas dari gadgetnya karena untuk sekolah pun mereka menggunakan gadget untuk berkomunikasi.

Banyak terlihat di berbagai tempat, anak-anak yang selalu memainkan gadgetnya. Bahkan saat ada orang dewasa yang mengajak berbicara, mereka tidak memperhatikan. Tidak jarang juga mereka menjawab dengan singkat dan bahkan hanya dengan gelengan atau anggukan kepala saja. Terlihat sedikit kurang sopan bukan? Dampak terburuknya adalah saat mereka berani membentak orang tuanya saat diminta berhenti bermain gadget. Perilaku agresif ini adalah dampak dari penggunaan gadget oleh anak yang sebenarnya tidak hanya menambah kemampuan menggunakan teknologi tetapi juga menurunkan responsibilitas pada orang lain.

Namun, anak-anak yang kecanduan gadget tidak sepenuhnya salah mereka. Ada peran orang tua dibalik itu semua. Pernah beberapa kali saya menemui orang tua yang justru mengandalkan gadget untuk mengatur atau menenangkan anak mereka. Tujuannya memang baik, supaya anaknya tidak rewel. Tetapi anak-anak yang sudah terbiasa dengan gadget sejak dini akan sulit untuk melepaskan kebiasaan tersebut.

Saat berkumpul dengan teman-temannya pun mereka tidak tertarik untuk bermain bersama. Ngumpul pun jadi ngga asyik karena mereka hanya fokus pada layar persegi panjang yang di pegangnya. Mereka hanya akan berhenti kalau baterainya habis. Ketergantungan ini membuat anak milenial menjadi lebih individualis. Mereka merasa tidak perlu teman bermain karena sudah terhibur dengan gadget di tangannya dan saat ada moment bersama teman, anak tersebut cenderung menyendiri bahkan kurang menyukai komunikasi. Padahal manusia itu makhluk sosial, kalau sampai ngga suka komunikasi, waduh bahaya juga ya.

Berbeda dengan anak zaman dahulu yang sibuk mencari teman saat bosan, anak milenial memilih mencari gadget yang sudah seperti kebutuhan hariannya. Selain itu, pada permainan modern (game online) biasanya disediakan tempat yang nyaman, ber-ac, dan wifi yang memadai. Sangat berbeda dengan permainan tradisional yang dilakukan secara sederhana dipinggiran kota atau desa, Bahkan terkena debu dan sinar matahari langsung sehingga terkadang memberi kesan kalau permainan tradisional itu ketinggalan zaman/kampungan.  

Eksistensi permainan tradisional memudar bukan hanya karena perubahan selera anak-anak saja. Tetapi juga kurangnya peran orang tua, guru, dan pemerintah dalam mengenalkan permainan ini. Padahal, ga cuma asyik tapi ada begitu banyak nilai moral yang didapat melalui permainan tradisional seperti  solidaritas, kerjasama, persatuan, keberanian dan bukankah sayang kalau hal itu hilang begitu saja?