Seiring kemajuan teknologi komunikasi khususnya di bidang internet, penduduk dunia semakin terkoneksi satu sama lain. Sebuah peristiwa yang terjadi di belahan dunia yang jauh dapat segera diperoleh dalam tempo beberapa jam atau beberapa menit. Batas-batas antarnegara semakin samar dan setiap orang dapat berinteraksi tanpa sebuah kehadiran. Teknologi internet menjadi salah satu fenomena yang berkontribusi – meminjam istilah Thomas L. Friedman penulis buku The Flat Earth – “mendatarkan” (flatten) dunia.

Apakah istilah ini berkaitan dengan fenomena pseudosains bernama FlaEarth atau bumi datar? Tidak sama sekali. Sekalipun Friedman tidak memberikan definisi akademis mengenai istilah The Flat Earth, namun ia memberikan sejumlah contoh dari berbagai peristiwa fenomenal yang dialaminya di berbagai belahan dunia yang ia kunjungi. Ia melihat bagaimana teknologi informasi telah mengubah pemetaan kehidupan ekonomi, sosial, budaya, politik tiap-tiap negara sehingga dapat terkoneksi dengan begitu cepat, secepat cahaya.

Friedman memulai ulasannya dengan membagi “tiga wilayah globalisasi” beserta karakteristiknya yang semakin mencirikan kedataran dunia. Pertama, Globalisasi 1.0 yang berlangsung sejak 1492 ketika Columbus berlayar, membuka perdagangan antara Dunia Lama dan Dunia Baru hingga sekitar tahun 1800. 

Pelaku utama globalisasi pada periode ini adalah negara dengan memberdayakan seluruh kekuatan alam dan sumber daya manusia dan hewan untuk dimanfaatkan dalam kegiatan produksi. Proses globalisasi di periode ini menyusutkan dunia menjadi ukuran sedang. 

Kedua, Globalisasi 2.0 yang berlangsung sejak tahun 1800 hingga 2000 yang diselingi masa Depresi Besar dan Perang Dunia 1 dan 2. Pendorong perubahan di era ini adalah perusahaan-perusahaan multinasional. Proses globalisasi di periode ini menyusutkan dunia dari ukuran sedang menjadi ukuran kecil. 

Ketiga, Globalisasi 3.0 yang terjadi sejak tahun 2000 hingga kini. Pada era ini, terjadi penyatuan global dengan dimotori oleh jatuhnya biaya telekomunikasi berkat penyebaran telegraf, telepon, PC, satelit, serat optik, World Wide Web versi awal yang melahirkan ekonomi global dan pasar global. 

Pendorong perubahan di era ini adalah kekuatan baru yang ditemukan untuk bekerjasama dan bersaing secara individual dalam kancah global melalui kekuatan teknologi informasi. Proses globalisasi di periode ini menyusutkan dunia dari ukuran kecil menjadi sangat kecil (The Flat Earth: Sejarah Ringkas Abad 21, 2009: 9-10).

Dalam bukunya, Friedman dengan gemilang mengulas sepuluh tren yang menyebabkan dunia mengalami “pendataran” alias semakin mudah terkoneksi satu sama lain baik dalam hubungan sosial, informasi, pekerjaan, politik dll. Salah satu kekuatan yang berkontribusi mendatarkan tersebut adalah teknologi internet yang diberi kode “09/08/95 (Zaman Konektivitas: Ketika Web Mendunia dan Netscape Memasyarakat)”. 

Kode tarikh tersebut merujuk pada sejumlah peristiwa di tahun 90-an yaitu munculnya internet World Wide Web sebagai alat konektivitas global yang murah dan Web browser murah yang dapat mengunduh materi-materi yang diperlukan yang tersimpan dalam Web site serta menayangkannya di layar komputer pribadi. Ini adalah revolusi di bidang konektivitas yang terjadi secara tiba-tiba dan menghasilkan gaya pendataran yang utama (hal 64). 

Jika konsep World Wide Web dikembangkan oleh ahli komputer Ingris Tim Barners-Lee, maka browser komersial dan budaya web browsing diperkenalkan oleh Netscape, sebuah perusahaan kecil yang berdiri di Mountain View, California. Netscape go public pada 9 Agustus 1995 dan sejak itu dunia berubah drastis. 

Netscape menjadi kekuatan pendatar besar karena beberapa alasan. Pertama, browser Netscape tidak hanya menghidupkan internet, tetapi juga mudah diakses siapa pun dari umur 5 sampai 90 tahun. Permintaan ini dipenuhi oleh kejadian lain: peluncuran Windows 95 terjadi 15 hari setelah Netscape menjual sahamnya kepada publik. Dalam waktu singkat, Windows 95 menjadi sistem operasi yang digunakan oleh kebanyakan orang di seluruh dunia."

Apalagi sejak teknologi internet dilekatkan pada alat telekomunikasi handphone (telpon gengam) sehingga memiliki nama lain yaitu smartphone. Secara singkat, smartphone didefinisikan sebuah perangkat yang memungkinkan seseorang melakukan panggilan telepon, sekaligus memiliki fitur yang di masa lalu hanya bisa ditemukan pada personal digital assistant (PDA) atau komputer – seperti kemampuan untuk mengirim dan menerima e-mail dan editing dokumen, misalnya.

Sebelum smartphone dikenal luas, terdapat dua produk berbeda yaitu ponsel dan personal digital assistant (PDA). Ponsel terutama digunakan untuk menelpon, sementara PDA digunakan sebagai semacam asisten digital pribadi.

Istilah smartphone tentu merujuk pada sejumlah perbedaan dan kelebihan yang dimilikinya dibandingkan istilah handphone. Salah satunya adalah sistem operasi dan web acces (akses internet). smartphone memiliki sistem operasi yang memungkinkannya menjalankan berbagai aplikasi. iPhone Apple memiliki sistem operasi iOS, BlackBerry menggunakan OS BlackBerry. 

Selain itu, dikenal pula sistem operasi lain seperti Google Android OS, WebOS HP, dan Microsoft Windows Phone. Smartphone dapat mengakses internet pada kecepatan yang lebih tinggi, berkat pertumbuhan 4G dan jaringan data 3G, serta penambahan dukungan Wi-Fi untuk banyak handset.

Istilah 4G membedakannya dengan istilah sebelumnya yaitu 1G, 2G, 3G. Istilah 1G artinya Generasi Pertama yang diperkenalkan mulai 1970-an. Teknologi 1G bekerja memanfaatkan transmisi sinyal analog. Saat itu, teknologi ini hanya dapat digunakan untuk panggilan telepon saja. Ukuran ponsel 1G pun tergolong besar bila dibandingkan dengan ponsel masa kini. Belum ada teknologi internet. 

Kemudian berkembang teknologi 2G alias Generasi Kedua. Jika teknologi 1G menggunakan sinyal analog, maka teknologi 2G menggunakan sinyal digital. Ponsel yang menggunakan teknologi 2G mulai diperkenalkan pada kurun 1990 dan sudah dapat digunakan untuk berkirim dan menerima data dalam ukuran kecil semisal short message system (sms). 

Tahun 1998-an munculah teknologi 3G alias Generasi Ketiga karena kemampuannya mengakses internet dan bisa digunakan sebagai pengganti koneksi internet melalui kabel. Teknologi 4G alias Generasi Keempat menawarkan kecepatan unduh (download) hingga 100 Mbps dan kecepatan unggah (upload) hingga 50 Mbps dan di Indonesia diperkenalkan sekitar tahun 2015.

Istilah Android merujuk pada suatu sistem operasi yang berjalan pada smartphone dengan menyesuaikan spesifikasi di kelas low-end hingga high-end. Hampir semua vendor saat ini mengembangkan produknya dengan sistem operasi android, karena peminatnya yang semakin meningkat tajam. 

Kelebihan sistem android bukan hanya sekadar user friendly (mudah dipergunakan) dan tidak memerlukan waktu lama untuk mempelajari dan mengoperasikan sistem dalam smartphone, namun juga kemudahan memperoleh sejumlah aplikasi mulai dari game hingga kamus bahkan kitab suci berbahasa sumber dan terjemahannya.

Di era yang lazim disebut era digital, segala sesuatu dapat direduksi menjadi lebih singkat, padat, cepat sesuai kebutuhan. Dinamakan era digital karena memanfaatkan teknologi yang berbasis sinyal elektrik komputer, di mana sinyalnya bersifat terputus-putus dan menggunakan sistem bilangan biner, kemudian bilangan biner tersebut akan membentuk kode-kode yang merepresentasikan suatu informasi tertentu. 

Setelah melalui proses digitalisasi, informasi yang masuk akan berubah menjadi serangkaian bilangan biner yang membentuk informasi dalam wujud kode digital. Teknologi digital yang telah bersenyawa dengan smartphone menghasilkan banyak kemudahan, baik dalam bertransaksi dan pemenuhan kebutuhan lainnya, termasuk jasa layanan makanan, jasa layanan transportasi yang bersifat digital dan online.

Dari penjelasan di atas, dapat dimaklumi mengapa seseorang yang memiliki smartphone nampak tergila-gila dan tidak bisa lepas dari perangkat teknologi ini. Bagaimana tidak, dunia hanya dalam satu genggaman tangan dan satu sentuhan telunjuk. Informasi apa pun dapat kita peroleh dalam hitungan waktu yang begitu cepat. Bahkan berbagai kebutuhan yang bersifat transaksi dan transportasi dapat dipenuhi melalui benda kecil ajaib bernama smartphone.

Smartphone bukan hanya hasil dari sebuah perkawinan teknologi namun juga menghasilkan perubahan pola perilaku dan komunikasi individu dan kelompok masyarakat. Fenomena ini kerap dikhawatirkan dan dikeluhkan oleh banyak pihak mulai dari agamawan, sosiolog, budayawan. 

Kita mulai terbiasa melihat pemandangan di antara deretan kursi penumpang di stasiun kereta api atau di dalam kereta yang melaju, masing-masing orang sibuk memainkan smartphone-nya dan terhubung dengan dunia maya di mana dia berkelana, berkomunikasi, berinteraksi.

Kita memang tidak bisa menghindari daya tarik gadget (perangkat teknologi) ini, apalagi membuat saran ekstrem untuk tidak mempergunakannya sama sekali. Yang paling penting untuk menumbuhkan kesadaran bahwa gadget hanyalah alat untuk memudahkan komunikasi. Gadget bukanlah tuan tapi alat, dan manusia sebagai pencipta dan penggunanya adalah tuan.

Kesadaran tersebut diperlukan agar manusia tidak jatuh dalam kesadaran palsu yang membelenggu dan membalikkan kedudukan pemilik dan kedudukan alat. Kedudukan alat/benda, mengingatkan kita kepada seorang filsuf bernama Martin Heidegger. Filsuf asal Jerman tersebut menulis Sein und Zeit (Being and Time) saat menjelaskan perbedaan eksistensi manusia dengan eksistensi non manusia, khususnya dengan alat dan benda-benda ciptaan manusia. 

Beberapa istilah yang menarik untuk kita telaah adalah Zuhandenes, Vorhandenes, Mitdasein. Zuhandenes diartikan sebagai alat/perangkat seperti palu, pisau, gunting. Adapun Vorhandenes diartikan sebagai benda-benda yang bukan alat seperti batu, pohon, pantai. Sementara Mitdasein bermakna sesama manusia atau orang lain.

Kehadiran atau cara mengada masing-masing istilah tersebut berbeda. Zuhandenes kehadiran atau cara mengadanya melalui “untuk sesuatu” (um-zu/in order to) alias sebagai alat untuk melakukan sesuatu. Misalnya palu untuk memukul atau dalam konteks kekinian, handphone untuk berkomunikasi. 

Adapun Vorhandenes, bentuk kehadiran atau cara mengadanya tersedia begitu saja. Alam di sekeliling manusia ada begitu saja. Sementara Mitdasein kehadiran atau cara mengadanya melalui interaksi dengan sesama manusia. 

Seperti dikatakan F. Budi Hardiman, “Dengan menguak struktur “untuk” sebagai cara mengada alat-alat, Heidegger menyumbangkan sesuatu yang penting: distingsi cara-cara mengada itu sekaligus memperlihatkan bagaimana seharusnya bersikap terhadap Mengada-mengada itu. Jadi, sikap terhadap alat-alat adalah memanipulasi atau memperalat dan sikap ini tidak tepat jika diterapkan pada Dasen (manusia) yang memiliki cara mengada yang bukan ‘untuk sesuatu’ yang lain”(Heidegger dan Mistik Keseharian, 2016:66). 

Penguakkan struktur masing-masing istilah di atas diperlukan untuk melakukan sikap ontologis yang tepat. Dasein (manusia) bersikap terhadap Zuhandenes (alat) dengan cara Besorgen (menangani/mengurus). Dasein bersikap terhadap Vorhandenes (benda yang bukan alat) dengan tanpa minat menanganinya. Sementara sikap terhadap Mitdasein (sesama) melalui Fusorge (merawat/memelihara).

Kembali ke masalah gadget berupa smartphone. Dia hanyalah alat (zuhandenes - equiptment). Sebagaimana dikatakan Heideger, 

“Taken strictly, there 'is' no such thing as an equipment. To the Being of any equipment there always belongs a totality of equipment, in which it can be this equipment that it is. Equipment is essentially 'something in-order-to...’ (etwas um-zu). A totality of equipment is constituted by various ways of the 'in-order-to', such as serviceability, conduciveness, usability, manipulability - 

Secara ketat, tidak ada peralatan sedemikian. Untuk keberadaan peralatan apa pun selalu ada totalitas peralatan, yang menjadikannya sebagai peralatan . Peralatan pada dasarnya adalah ‘sesuatu untuk' (et was um-zu). Totalitas peralatan dibentuk oleh berbagai cara dari ‘sesuatu untuk’, seperti dapat dipergunakan, kondusifitas, dapat digunakan, dapat dimanipulasi. (Being and Time, 2001:97)

Sebagai alat, maka gadget berupa smartphone sudah seharusnya diperlakukan sebagaimana peralatan lainnya baik itu palu, pisau, gergaji, gunting, komputer, senter, televisi, radio yang semuanya itu adalah produk kultural dan intelektual manusia. Memperlakukan gadget seperti memperlakukan manusia dan sesama tentu saja berlebihan dan sebentuk kesadaran palsu yang telah menindas kesadaran diri sebagai tuan dan pemilik terhadap alat.

Kearifan Jawa menggunakan istilah Eling (sadar) sebagai bentuk kontinuitas kesadaran untuk senantiasa menjaga jarak dengan realitas agar muncul kejernihan berpikir dan bertindak. Seberapa pun kita tidak bisa menghindari daya pikat gadget karena keberfungsiannya yang luar biasa, berupayalah senantiasa eling bahwa itu hanyalah zuhandenes. 

Kitalah pemiliknya yang berkuasa untuk menghentikan dan menggunakan tanpa sebuah kemelekatan dan kebergantungan yang berlebihan.