Satu bulan yang lalu ketika saya pulang kampung saya banyak menemukan berbagai pengalaman dari beberapa kejadian yang secara kasat mata saya lihat, tepatnya dipelosok Kabupaten Nias Selatan. Dari beberapa pengalaman yang saya dapat tersebut ada pengalaman menarik yang menurut saya membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak, secara khusus di sektor pendidikan. Disana saya mengamati bagaimana kegiatan pelajar dipelosok dalam memanfaatkan gadget sebagai alat produktif dalam membangun wawasan dan sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Waktu itu dengan tidak sengaja saya sedang duduk bersama dengan adik adik pelajar (siswa) dikampung dimana saya tinggal. Sambil mereka main gedget antara satu dengan yang lain, saya pun mulai berpikir sejauh mana gadget ini membawa pengaruh terhadap kualitas dan kompetensi diri pelajar dipelosok?. Melihat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang pesat pada zaman ini terlebih di dunia pendidikan, tentu sangat berpotensi dalam mempengaruhi sikap dan perilaku pelajar.

Mereka dengan gawai dan sibuk memegang handphonenya masing-masing meski dengan kualitas jaringan internet yang kurang memadai. Pada akhirnya saya mencoba bertanya dengan mereka. "Bagaimana pengaruh gadget terhadap perkembangan belajar yang adik-adik rasakan? Lantas mereka menjawab biasa biasa saja". Adik-adik pelajar tersebut sepertinya hanya menjadikan gadget sebagai teman akrabnya, namun bukan untuk memupuk pontesi dalam meningkatkan kualitas belajar. “handphone adalah teman disaat sepi,” begitu katanya.

Banyak pelajar di pelosok yang masih belum paham dalam memahami dan memanfaatkan gadget seutuhnya sebagai alat produktif untuk mengakses segala informasi dalam membangun wawasan serta pengetahuan. Hal ini sejalan dengan pengalaman saya ketika pulang kampung, terlihat para pelajar dipelosok hanya memahami gadget sebatas alat untuk bermedia sosial seperti buka Facebook, Instagram, dan WhatsApp. Memang Bersosial media sudah menjadi rutinitas sehari-hari bagi siapapun. Tetapi bagi pelajar dipelosok jauh lebih kompetitif jika gadget digunakan sebagai alat untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dengan memanfaatkan fitur-fitur kreatif untuk mendongkrak produktivitas pelajar.

Benda kecil serba guna ini tentu memiliki dampak tertentu bagi para pelajar dipelosok. Apakah pengaruhnya membawa prestasi bagi siswa cukup baik atau malah memperburuk kualitas siswa itu sendiri? Saya membayangkan bahwa jika gadget hanya dimanfaatkan sebagai alat bersosial media belaka oleh pelajar, bisa jadi para pelajar dipelosok menjadi tertinggal dan akan tertinggal jauh dari persaingan pendidikan berbasis teknologi yang semakin berkembang dari masa ke masa.

Berdasarkan hasil Penelitian Cambridge International melalui  Global Education Census (13/11/2018) menunjukan siswa Indonesia sangat akrab dengan teknologi, bukan hanya media sosial namun juga untuk kebutuhan pembelajaran. Lebih dari dua per tiga pelajar (67%) di Indonesia menggunakan smartphone (HP) di dalam pelajaran kelas, dan bahkan lebih sering untuk mengerjakan pekerjaan rumah (81%).

Proses belajar yang di dukung oleh gedget saat ini memang sangat penting terhadap kualitas pelajar dalam mengasah ketajaman berpikir untuk menjadi lebih kreatif dan inovatif. Banyak ilmu pengetahuan yang bisa diakses untuk mengembangkan kompetensi diri terhadap tantangan semakin besar kedepan, secara khusus di bidang pendidikan. Namun hal tersebut berbanding terbalik dengan nasib pelajar dipelosok dengan pemanfaatan gedget yang buruk ditambah dengan literasi media digital yang masih kurang.

Menurut hemat saya bahwa peran guru sangat penting dalam hal ini untuk melatih dan membina para pelajar di pelosok dalam memanfaatkan gadget. Sebagaimana yang dititahkan bahwa guru merupakan artikulasi sepadan dari posisi guru, tidak saja menjadi sumber pengetahuan terpercaya (Transfer of knowledge) akan tetapi dapat menanamkan sikap dan nilai didalam diri pelajar (Ttransfer of value). Dimana guru menjadi figur sentral dalam kegiatan pembelajaran.

Pada prinsipnya Guru sebagai kompas utama dalam mengarahkan dan mendidik pelajar, bahkan bisa dikatakan satu-satunya. Dimana guru mempunyai tanggungjawab besar terhadap semangat belajar siswa. Agar gadget dapat dipahami secara utuh oleh pelajar, pertama guru harus memastikan para pelajar bisa menggunakan gedget dengan bijak. Kedua, guru harus melakukan budaya litarasi yang terus menerus dengan memperkenalkan buku-buku digital untuk meningkatkan imajinasi pelajar.

Bila mengingat kembali ketika saya dulu sekolah di kampung,  gadget hanya dimiliki oleh sebagian guru apa lagi siswa pada saat itu. Kami hanya dintuntun belajar dengan menggunakan perangkat tradisional yakni papan dan buku tulis. Sekarang sudah jauh berbeda, gadget sudah menjadi kebutuhan primer yang dimiliki oleh banyak kalangan yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber informasi, edukasi dan hiburan kapan dan dimana saja. Tak terkecuali adalah para pelajar dipelosok.

Belajar lewat teknologi seperti gadget saat ini sangat membantu para pelajar dalam menciptakan suasana belajar yang efektif dan efesien. Namun, Sayangnya, tak sedikit yang menyalahgunakan. Salah satunya, pelajar menggunakan gadget tanpa melihat waktu, termasuk pemanfaatannya untuk belajar. Prestasi menurun karena terus menerus memainkan gedget dengan berbagai fitur-fitur yang tidak penting, sehingga berdampak pada kualitas pendidikan pelajar di pelosok menjadi semakin buruk atau tertinggal.