Tarian pedang seolah menjadi kondisi alamiah (Naturzustand) di Jagat Mayantara, di mana kedamaian hati (Gelassenheit) seakan enggan untuk hadir. Fabrikasi drama yang kontraproduktif ibarat gerak dialektika (dialektische Bewegung) merupakan resultan ketika satu hal akan melahirkan lawannya sendiri. Keduanya lantas berkoneksi dan saling bertumbukan.

Setelah kita kenyang disuguhi berita seputar Pilpres 2019 dan perpindahan keyakinan yang dilakukan oleh Deodatus Andreas Cahyadi Sunjoyo alias Deddy Corbuzier, kini saga penuh praha kembali menyapa khalayak di dinding-dinding Facebook, yang bersumber dari ranah Pop Culture.

Ketegangan ini berpusat pada sosok Furidacchi, Mojang Priangan asal Garut yang memiliki hobi sebagai Cosplayer (Costume Player), yaitu seseorang yang gemar mengenakan kostum beserta aksesoris dan rias wajah seperti yang dikenakan tokoh-tokoh dalam Anime serta Game dari negeri Matahari Terbit.

Hulu dari Prahara ini tampak ketika tunangan dari Furidachi, seorang pria gempal bernama Ade Ridwan, berkeluh-kesah di akun Facebook miliknya. Ia menyiratkan bahwa tunangannya tersebut telah membagi tubuhnya kepada pejantan lain ketika ia hadir di Ennichisai, sebuah festival budaya Jepang yang tiap tahun dihelat di bilangan Blok M, Jakarta Selatan.

Kisah melankolis tersebut lantas diperkuat oleh kesaksian seorang gadis muda bernama Rosetta Anyosha. Ia menuturkan bahwa lelaki yang telah mengajak Furidacchi bertamasya dalam labirin libidinal tak lain dan tak bukan adalah mantan pacarnya sendiri yang juga seorang cosplayer bernama Zaka Ria.

Rosetta bahkan menambahkan, mantan pacarnya yang bertubuh tinggi dan berkulit gelap itu tak hanya mengajak Furidachhi untuk melakukan olahsyahwat di kamar hotel, namun juga mengabadikan momen erotis tersebut dalam format sebuah film khusus dewasa.

Revelasi yang mengejutkan ini tentu membuat Ade Ridwan mengalami Kecemasan Eksistensial. Ketika momen pernikahan kian dekat, namun wanita yang ia cintai ternyata menggunakan akrobatik tubuh untuk menyembunyikan diri, memainkan pretensi dan menggunakan kedok. Aku berpura-pura, maka aku ada. Simulo Ergo Sum.

Respons warganet sendiri terlihat menunjukkan sikap peduli (Fürsorge) yang didasari empati. Namun tak sedikit juga yang bersikap jujur (Ehrlich) bahwa mereka terdorong oleh kuriositas untuk mengintip isi rekaman di mana kedua makhluk tuhan itu terbakar renjana dan menjerit dalam ekstase. 

Absennya Furidacchi yang menutup seluruh akun medsosnya seolah membenarkan desas-desus yang beredar. Bahwasanya Furidacchi boleh jadi benar-benar telah berbuat serong, seperti tokoh Linda dalam novel berjudul Adulterio karya Paulo Culho.

Namun, kali ini, penulis ingin mengulas sudut pandang yang berbeda. Ade Ridwan selama ini terlihat di publik sebagai pacar yang peduli (Sorge). Ia mengeklaim telah menerima masa lalu Furidacchi dan ia juga mengingatkan Furidacchi ketika Gofood membuka promo hidangan separuh harga.

Asumsikan Ade Ridwan benar-benar seperti yang ada dalam imaji publik, seorang pacar yang penyayang, mengapa Furidacchi (andaikata benar) tetap menukar afeksi demi sebongkah phallus? Apakah kebahagiaan-di-dalam-hubungan (Glück in den Beziehungen) absen dalam kisah cinta mereka?

Mungkin di sanalah letak kesalahan utama kita. Terkadang seorang lelaki terjebak dalam rantai altruisme dan terkungkung dalam sindrom kesatria putih yang naif. Padahal, identitas sejati dari manusia alamiah (natürliche Person) adalah hewan mamalia.

Mengutip pendapat Rolo Tomassi dalam bukunya yang berjudul The Rational Male, seperti halnya hewan betina, wanita cenderung memilih pejantan yang kuat untuk bereproduksi dan meneruskan keturunan. 

Karenanya, wanita memiliki cukup kecenderungan untuk menyeleksi lelaki yang kuat (Alpha Male) secara fisik maupun karakter dan mengeliminasi pria sendu peratap. Serta, untuk beberapa kasus ekstrem, memilih varian lelaki yang memiliki probabilitas berkhianat, lebih tinggi.

Rolo Tomassi juga berkata, wanita lebih mudah memutus ikatan emosional dengan pria. Hal itu disebabkan, ketika terjadi perang, pria umumnya dihabisi. Namun wanita dibiarkan tetap hidup, sebagai tropi para pemenang dan ladang reproduksi. Memutus ikatan emosi menjadi opsi vital untuk terus bertahan hidup.

Teori tersebut berlaku dalam kasus Hoelun dari Suku Olkhunut. Awalnya ia dijodohkan dengan pria dari suku Merkid, namun ia diculik oleh Borjigin Yesugei. Hoelun harus menerima takdir keji ketika Yesugei menginvasi tubuhnya, dan dari hubungan tersebut, lahirlah Temujin atau yang kemudian dikenal sebagai Cenghiz Khan. Hoelun, sejak itu, setia pada Yesugei dan suku barunya.

Selain itu, perlu diingat, wanita kerap menggunakan rasa dalam tiap tindakannya. Sekali perasaannya tergores begitu dalam, maka cinta pada pasangan hidup tak akan pernah sama. Komunitas maupun media sosial dapat menjadi etalase dan jalan tol untuk perselingkuhan. 

Tulisan ini dibuat bukan bertujuan untuk menjustifikasi disloyalitas, deviasi perilaku, dan tindakan ketanpa-nilaian (Wertlosigkeit), namun untuk mengingatkan dua hal. Pertama, agar kita jangan mengantagonisasi seseorang secara hiperbolik, namun hendaknya lebih proporsional. 

Kedua, untuk menstimulasi bangkitnya kesadaran (awareness) bagi para pria bahwa yang bisa merekatkan hubungan dengan kaum hawa bukanlah altruisme, dan bukanlah materi semata, seperti yang digembar-gemborkan para penggemar Hotman Paris Hutapea.

Karakter adalah kuncinya. Mereka membutuhkan sosok alfa, yang tak bisa diremehkan, yang tak gentar pada kehilangan, yang tidak menjadi budak cinta, namun Pejuang Cinta. Seorang pejuang sejati tak boleh terpaku pada ketakutan akan kehilangan, juga tak boleh egois dengan memaksakan standar kebahagiaan kita pada wanita.

Memang sulit. Terkadang banyak wanita yang moody dan asimetris, faktor siklus menstruasi boleh jadi berpengaruh. Terkadang pula pikiran pria beku karena dikuasai afeksi serta obsesi, membuat semuanya menjadi dilematis sekaligus problematis. Tapi konsekuensi yang membuntuti bisa lebih menyakiti.

Karenanya, terutama untuk diri penulis pribadi, seyogianya kita harus terus belajar berusaha menerima serta menyiapkan diri akan kehilangan serta kepergian, dengan cara paling getir sekalipun. Anggaplah itu sebagai dinamika yang merupakan keniscayaan hidup (Lebensnotwendigkeit). 

Semoga kita semua dapat terus mawas diri (Selbstbewusstsein), agar drama romansa beraroma lendir yang menyeret komunitas wibu dan cosplayer kali ini tak perlu terulang lagi di masa yang akan datang (nachhaltig). Insyallah kebaikan bersama (bonum commune) akan kita semua terima pada akhirnya.