Publik Indonesia sedang digegerkan dengan beredarnya video di media sosial berdurasi 53 detik dengan memperlihatkan sejumlah orang mendatangi Rumah Sakit Pancaran Kasih di Manado. Dalam konten video itu mengklaim bahwa Rumah Sakit tersebut memanfaatkan pandemi sebagai lahan bisnis dengan modus 'memvonis' pasien terjangkit Covid-19. 

Selain itu,  muncul fenomena baru terkait viralnya foto mayat terbujur kaku dibungkus plastik karya Joshua Irmandi. Foto tersebut membuat gempar di jagat media sosial maupun media mainstream, bahkan banyak public figure yang menanggapi hal tersebut.

Melalui media sosial masyarakat terhubung dengan internet dan mudah mendapatkan sebuah informasi baru. Munculnya informasi yang simpang siur di media sosial menjadikan masyarakat resah dengan ketidakpastian sebuah informasi. Pasalnya di masa pandemi ini, informasi di media sosial menjadi cara pandang masyarakat dalam menghadapi Covid-19.

Sikap masyarakat terhadap sebuah informasi akan sangat beragam dan tentu saja tidak sedikit yang akan mengutarakan pendapatnya. Pendapat serta komentar dari masyarakat di media sosial dapat menunjukkan pandangan, permasalahan, serta cara berpikir mereka. Pendapat-pendapat yang diutarakan di media sosial tersebut beragam dan tidak sedikit yang bersifat kritis dan berupa kritik.

Sebelum saya menjelaskan bagaimana fungsi kritik masyarakat dalam menghadapi informasi di media sosial selama pandemi, saya akan membahas terlebih dahulu berkaitan dengan media sosial dengan politik Post-truth yang sangat terkait dengan peredaran informasi di media sosial.

Media Sosial dan Post-truth

Media sosial adalah alat komunikasi yang digunakan oleh pengguna dalam proses sosial (Mulawarman, 2017: 37). Kegiatan sosial yang terjadi tentunya melibatkan berbagai pengguna internet. Pengguna internet ini akan saling berinteraksi, bertukar informasi, serta mengutarakan pendapatnya. Proses sosial yang terjadi juga pasti akan menyebabkan beberapa pengguna mengutarakan opini berupa kritik.

Media sosial yang digunakan secara luas oleh masyarakat terhubung dengan internet. Dengan demikian akses terhadap informasi baru akan menjadi sangat mudah. Kemudahan dalam menyebarkan informasi ini sangat membantu dalam praktik politik Post-truth

Andrey Miroshnichenko (dalam Setiawan, 2017: 1) menjelaskan bahwa menurut Oxford, post-truth menggambarkan keadaan di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini dibandingkan daya tarik emosi dan keyakinan personal. Dengan kata lain di era post-truth masyarakat tidak tertarik dengan fakta tetapi dengan pandangan-pandangan yang sejalan dengan paham mereka.

Dampak informasi Post-truth di Masyarakat 

Lahirnya post-truth juga masih diperdebatkan, salah satu alasan yang disebut adalah paham postmodern. Pada postmodernisme kebenaran tidak ada yang mutlak tetapi relatif dan subjektif. Dengan demikian orang-orang memiliki kebenaran mereka sendiri yang mereka anggap lebih benar karena mereka tidak percaya lagi dengan kebenaran-kebenaran yang lain, karena kebenaran itu relatif.

Dengan pandangan yang seperti itu maka politik post-truth mencoba menyebarkan informasi yang dapat ditangkap oleh masyarakat dengan tujuan menyebarkan kebenaran-kebenaran mereka. Reaksi masyarakat terhadap informasi tersebut akan sangat beragam karena mereka tidak lagi melihat fakta dibalik informasi tetapi kebenaran yang mereka rasa cocok dengan kebenaran yang mereka miliki.

Kalau kita kaitkan dengan beredarnya video yang menganggap terjadinya kecurangan di Rumah Sakit, respons masyarakat cukup beragam. Bahkan banyak yang langsung percaya tanpa melihat fakta sebenarnya, hal ini dikarenakan masyarakat lebih mementingkan emosi daripada memastikan kebenaran sebuah informasi.

Informasi-informasi yang dihadirkan di masyarakat merupakan informasi yang telah dirancang pihak-pihak yang memiliki kekuasaan untuk kepentingan tertentu. Sehingga hal ini sangat berdampak pada tatanan masyarakat.

Fungis Kritik Masyarakat di Media Sosial

Jika kita ingin melihat fungsi kritik di media sosial, maka kita lihat dulu bagaimana proses kritis serta kritik yang muncul di media sosial. Proses kritik yang terjadi di media sosial tidak memiliki batasan, dengan artian bahwa pengguna media sosial yang mengutarakan kritik tidak membedakan status, ras, dan usianya. Hal tersebut menunjukkan bahwa kritik di media sosial dapat diutarakan dan ditanggapi oleh siapa saja.

Sebagai contoh yang saya jelaskan di awal, ketika masyarakat menerima informasi tentang beredarnya video kecurangan Rumah Sakit serta foto mayat karya Joshua melalui media sosial. Berbagai kritik tentang informasi tersebut dapat dengan mudah kita temukan di kolom komentar. 

Kritik tersebut juga diberikan oleh pengguna dari berbagai golongan, mulai dari masyarakat biasa bahkan sampai dengan public figure. Semua bebas mengutarakan kritik dan opini mereka.

Kondisi mengutarakan kritik atau pertukaran ide di media sosial yang tidak dibatasi oleh kekuasaan ini sesuai dengan pandangan Habermas tentang ruang publik. Bahwa media sosial terbentuk dari sebuah ruang publik, tempat dimana masyarakat (pengguna internet) dapat dengan leluasa menyampaikan opininya. Baik dari golongan atas maupun bawah semuanya dapat mengutarakan kritiknya terhadap informasi yang diterima melalui media sosial.

Hal tersebut sesuai dengan pandangan Eagleton tentang fungsi kritik, bahwa fungsi kritik pada media sosial dapat dikatakan sebagai sarana untuk bertukar pendapat, memunculkan opini baru yang bersifat terbuka dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Sehingga semua golongan berhak untuk mengutarakan opininya dalam sebuah informasi di media sosial.

Dengan adanya anggapan bahwa kita berada di era post-truth, dimana informasi-informasi yang beredar ditujukan untuk menggiring opini atau menyulut emosi publik. Fungsi kritik hadir sebagai jawaban untuk bertukar pendapat secara terbuka, tetapi hal ini akan menimbulkan dua respon yang terjadi di masyarakat. 

Pertama, tukar pendapat yang terbuka di media sosial bisa menghasilkan sebuah kesepakatan yang menyatukan antarmasyarakat. Kedua, tukar pendapat bisa jadi menyebabkan perpecahan antar masyarakat yang semakin tidak suka dengan kebenaran diluar dirinya.

Berdasarkan pandangan konsep Eagleton mengenai fungsi kritik, dapat diasumsikan bahwa informasi yang beredar di media sosial memuat sebuah “kebenaran” yang relatif dan subjektif. “Kebenaran” hadir dari pihak yang memiliki kuasa, pengetahuan, dan sarana. Sehingga masyarakat harus mampu mempertanyakan lagi kebenaran-kebenaran tersebut.

Kritik di media sosial tidak boleh hanya sekadar menjadi tempat bertukar pendapat, tetapi harus juga mengungkapkan permasalahan serta asal-usul dari “kebenaran” yang beredar.