Seneng banget sekarang, ke mana-mana pake masker. Muka saya jadi ga keliatan jeleknya. (@danarjon)

Pandemi Covid 19 masih merajalela. Saat ini, angka kasus bukannya menurun, tetapi malah cenderung meningkat. 

Ada yang menarik dari habit bermasker warga dunia yang sedang berjuang melawan arogansi si virus nyebelin itu. Masker yang sebelumnya hanya dipakai untuk menghindari polusi, keperluan medis, atau menutupi jerawat yang membandel, kini menjadi atribut wajib yang kekinian.

Menurut Gerakan Pakai Masker yang diinisiasi Perkumpulan Semua Peduli Bangsa (PSPB…bukan PSBB ya), memakai masker dengan cara yang benar, menutup hidung dan mulut, menurunkan risiko tertular dan menularkan virus Covid 19 hingga 75%.

Hebat, kan? Berarti masker memang cespleng, dong. Karena hanya tersisa 25% buat kita upayakan dengan jaga jarak, cuci tangan, dan banyak berdoa.

Tapi, bandelnya warga Indonesia (termasuk Anda dan saya), meskipun sudah dinyinyirin kanan kiri dengan berbagai tagar, disodori bukit-bukti ilmiah, sampai dibujuk-bujuk pakai masker gratisan, kesadaran bermasker kita belum meresap menjadi kedisiplinan tinggi.

Maka, sanksi bayar denda atau kerja sosial, sekarang diberlakukan bagi siapa saja pelanggar yang tercokok operasi razia masker. Padahal kalau dipikir-pikir, masker punya ‘sesuatu’ yang lain dari sekadar penangkal virus. 

Coba simak deh empat fungsi lain masker yang perlu Anda ketahui berikut ini.

1. Menambah Rasa Pede, Mengurangi Narsis

Dua hal yang saling bertentangan ini bisa kita pahami dari sudut pandang yang berbeda. Ingat, tidak semua orang sebahagia mas @danarjon yang merasa terselamatkan oleh masker karena sadar kekurangan diri. Kaum narsis yang merasa dianugerahi kecantikan dan ketampanan standar bikinan manusia, ternyata sungguh tersiksa harus menyembunyikan kelebihannya itu.

Kebanyakan yang wanita mengeluh karena percuma sudah pakai lipstik mahal dan perona pipi bermerk kalau ujung-ujungnya cuma separuh bagian atas saja yang tampak. Sedangkan, yang pria merasa sesak karena tidak kuasa menebar pesona dengan segaris senyum maut andalan ala don juan.

Ketika semua bermasker, maka hilanglah rasa minder si muka jelek dan runtuhlah keangkuhan si muka kinclong. Semua menjadi tampak setara karena sama-sama berpotensi cantik atau ganteng.

2. Petunjuk Bagaimana Karakter Orang

Sebelumnya, saya pernah membaca artikel yang menyentil soal menebak karakter orang dari jenis masker yang dipakai. Walaupun kesannya mengada-ngada, tapi ada benarnya. 

Abang sepupu saya seorang yang kalem dan pendiam. Dia menolak memakai masker berwarna merah cabai atau yang motif rame. Pilihannya cenderung polos dengan warna-warna gelap yang netral.

Beda dengan tetangga saya yang senang menarik perhatian. Masker berwarna ngejreng plus beragam motif mencolok mata jadi pilihan dia ke mana-mana. Atau kawan saya yang humoris, hobi banget pakai masker gambar ekspresi mulut macam-macam. Lucu sih, tapi kadang bikin mata jadi pegal, hati mengilu, hingga timbul hasrat meninju.

3. Ajang Promosi, Seni, dan Fantasi 

Saya pernah beli suatu produk di salah satu toko online dengan bonus masker keren. Tapi, yah di garis pipi kanan nyantel logo dari toko online itu. Suara hati sebenarnya gak rela sih, tapi karena masker itu kualitasnya oke, mau gimana lagi? Tetap saya pakai, dong. Salut juga dengan tim marketing yang kreatif mencari celah berpromosi di tengah pandemi.

Nah, di sisi lain, pekerja seni pun melirik masker sebagai media kreasi. Contohnya, proyek kolaborasi seniman Indonesia yang tergabung dalam Kita Art Friend (KAF). Mereka menghadirkan desain masker karya seni yang unik dan menarik. Bila kita memakai masker produk ini, berasa nilai diri kita ikut naik. Karena, orang jadi terpukau dengan keindahan visual yang membalut hidung dan mulut kita.

Selain seni, masker juga jadi obyek fantasi. Bila sekadar gambar kartun lucu atau princess kesayangan sih masih oke. Paling yang lihat malah jadi gemas dan terhibur. Tapi, pernah nggak bertemu orang bermasker aneh? Adik saya pernah mengalami peristiwa ‘menyeramkan’ di toko buku.

Ketika itu, adik saya sedang konsen melihat-lihat  buku di rak paling ujung. Tiba-tiba, nongol seraut wajah ganjil, separuh gorila, dari balik rak. Nyaris adik saya menjerit saking syok ketakutan. Untung si ‘gorila’ itu langsung menjauh.

Belum pulih dari rasa kaget, tiba-tiba di belakang adik saya datang sekelompok orang ‘berwajah tengkorak.’ Akibatnya, adik saya langsung cabut pulang dan tidak jadi beli buku. Ternyata, efek fantasi masker bisa merusak mood seseorang. Parah. Parah.

4. Bisa Membungkam ‘Harimau’ di Mulut

Pernah dengar pitutur Jawa ajining diri ana ing lathi? Yang bunyi terjemahannya kira-kira, kehormatan diri ada pada ucapan(mu). Pesannya, karena lidah tidak bertulang, maka hati-hatilah kalau berbicara. Nah, memakai masker bisa mengurangi mulut nyerocos kemana-mana. Masker ibarat rem, yang berdampak kita jadi malas ngebacot.

Ini terjadi pada kawan saya yang hobi ghibah. Selama musim pandemi ini, dia jadi jarang kasak-kusuk. Dia ngaku kurang nyaman ngomong dengan mulut tertutup. Suaranya mendem. Maskernya juga jadi cepat basah. Baguslah.

So, jangan remehkan penggunaan masker. Apalagi di masa pandemi kayak gini. Pilihlah jenis masker yang Anda sukai, tapi tetap yang sesuai standardisasi pemaskeran ya. Pakailah suka atau tidak suka, selama covid belum enyah dari muka bumi. Uhuk.