Penulis
6 bulan lalu · 250 view · 4 menit baca · Politik 88332_26389.jpg
www.thenyman.in

Fundamentalisme Islam dalam Geopolitik Global

Perspektif Teori Tindakan Komunikatif Jurgen Habermas

Teori tindakan komunikatif Jurgen Habermas ini bertitik tolak pada adanya diskusrus atau dialog antara satu dengan yang lain dengan mengedepankan rasionalitas. Habermas berharap bahwa melalui jalur ini, setiap permasalahan akan dapat terselesaikan melalui mekanisme komunikasi, di mana komunikasi merupakan inti dari keberadaan bahasa.

Modernitas sebagai cita-cita bersama masih tampak memiliki banyak cacat dan lahirnya gerakan post-tradisionalisme, menurut Habermas, justru menciptakan kecacatan baru pada tubuh modernitas. Dalam konteks ini, Habermas masih membertahakan unsur-unsur hakiki dari modernitas dengan membenahi kekurangan-kekurangannya.

Dalam konteks politik, teori tindakan komunikatif ini mengacu secara khusus pada permasalahan yang terjadi dalam sistem demokrasi liberal. Dalam liberalisme, individu-individu dibayangkan sebagai atom-atom dengan identitas universal yang lepas dari identitas cultural mereka. Masyarakat liberal mengenali individu lebih sebagai individu dari pada sebagai anggota suatu kelompok.

Sementara itu, jika konsep warga negara dimengerti sebagai “partisipan diskursus”, warga negara bukanlah “individu yang netral dari kultur”. Setiap partisipan diskursus selalu bertolak dari konteks kulturalnya masing-masing. Konteks cultural inilah yang mendorong dan memberi isi komunikasi.

Namun, bagi Habermas, “individu” yang berakar pada konteks identitas kulturalnya ini bukanlah ukuran bagi identitas individu dalam masyarakat yang kompleks. Dalam masyarakat terglobalisasi seorang muslim atau seorang Kristen, misalnya, tidak identik dengan agama mereka, karena mereka juga memiliki relasi-relasi yang lebih luas daripada kelompok mereka.


Sebagai partisipan diskursus, menurut Habermas, identitas kultural hanyalah titik tolak dan bukan ukuran. Praksis deliberatif diskursif mendorong para partisipan untuk mengatasi perspektif etnosentris mereka dan mengambil peran sebagai warna negara yang berorientasi pada keseluruhan (Hardiman, 2007).

Dalam konteks di atas, kegagalan yang paling fatal dari kelompok fundamentalisme adalah melihat bahwa diri mereka menjadi ukuran bagi identitas kultural secara universal. Kelompok fundamentalisme Islam secara inheren, tidak bisa mengatasi perspektif etnosentris dalam mengambil peran sebagai warna negara ataupun hubungan dengan negara lain.

Pasalnya, bukan ukuran-ukuran demokrasi dan kemanusiaan yang dijadikan landasan hukum, melainkan hukum-hukum Tuhan. Hal ini paling tidak, menyulitkan mereka dalam menjalin komunikasi secara internasional. Khususnya dengan Amerika sebagai negara yang dianggap oposisif.

Sementara itu, Amerika dengan segala sistem sekuler dan demokratisnya, lebih dapat dianggap positif dari sudut teori tindakan komunikatif. Amerika telah lama menganut sistem demokrasi, dan segala persoalan harus menjurus pada wilayah itu.

Di Amerika, agama apapun dan kebudayaan apapun bisa hidup bebas dan hukum membolehkanya, sementara di dunia Islam bagian Timur Tengah, tidak selalu seperti itu. Dua sistem politik yang berbeda ini, antara Amerika yang bertitik tolak pada demokrasi, dan kemauan kelompok fundamentalisme Islam di Timur Tengah yang ingin menerapkan sistem syariat sebagai landasan negara, tampaknya sangat sulit menyatukan kesepahaman di antara keduanya.

Namun, secara universal, Islam sebenarnya mengajarkan pengertian tentang keadilan sosial, kesetaraan, toleransi, dan welas asih praktis di garis depan hati nurani muslim selama berabad-abad. Kaum muslim tidak selalu hidup sesuai dengan cita-cita ini dan sering menemukan hambatan untuk mewujudkannya dalam lembaga-lembaga sosial dan politik mereka.


Tetapi, perjuangan untuk mencapai ini selama berabad-abad merupakan dorongan utama spiritualitas Islam. Orang Barat harus menyadari bahwa merupakan kepentingan mereka juga apabila Islam tetap sehat dan kuat. Barat belum sepenuhnya bertanggung jawab atas bentuk ekstrimisme Islam, yang telah membudidayakan kekerasan yang melanggar kanon yang paling suci dari agama.

Tidak seharusnya kelompok fundamentalisme Islam ini dianggap sebagai kelompok yang mewakili Islam secara keseluruhan. Secara intrinsik, persoalan cara pandang yang mewarnai pola piker kelompok fundamentalisme ini jelas berangkat dari dampak kehidupan orang-orang Barat  yang telah dianggap sebagai ancaman bagi keberadaan Islam, dan secara keseluruhan dalam wilayah modernitas itu sendiri.

Dari kedua belah pihak, sebenarnya adalah kesamaan nilai-nilai universal yang perlu ditonjolkan, yakni kemanusiaan, toleransi, keadilan sosial, dan lain-lain. Kesamaan-kesamaan ini seharusnya dijadikan tolak ukur untuk menentukan sikap satu sama lain. Bukan melihat perbedaan-perbedaan mendasar keduanya, seperti halnya melihat perbedaan agama dan sistem politiknya, yang sebenarnya dua hal ini telah diwaliki oleh nilai-nilai universal yang menjadi pandangan hidup kedua belah pihak.

Dengan demikian, teori tindakan komunikatif memberikan satu sudut pandang penting terhadap permasalahan ini melalui pendekatan-pendekatan yang lebih alami melalui kesamaan-kesamaan yang dimiliki oleh dunia Barat dan Islam, diskursus yang harus dilakukan adalah dengan mengedepankan misi-misi kebaikan universal yang ingin dicita-citakan. Ini adalah satu bentuk dialog yang tidak bisa ditawar-tawar untuk mencapai satu titik perdamaian dunia.

Sebagai masyarakat yang sudah cukup rasional, etika komunikasi politik lebih diutamakan dari pada memupuk citra buruk terus menerus, karena jika problem ini terus terjadi, yang akan mendapatkan dampak buruk adalah masyarakat secara luas yang justru tidak tahu menahu tentang problem krusial ini.

Sebagaimana uraian di atas, poin-poin penting dalam tulisan ini dapat disimpulkan sebagai berikut: pertama, teori tindakan komunikatif adalah suatu upaya untuk menemukan arah baru bagi perkembangan kesadaran umat manusia dalam wawasan kritis dan universal.

Kedua, paham teologi politik fundamentalisme Islam adalah suatu gerakan kaum muslim tertentu yang menginginkan suatu pemerintahan dan kekuasaan politik berbasis pada hukum-hukum Tuhan, gerakan mereka sangat politis, tetapi berbasis dan berideologikan Islam. Mereka tidak percaya demokrasi dan menggap bahwa hanya Tuhanlah yang berdaulat memimpin kehidupan ini.


Ketiga, secara instrinsik, gerakan fundamentalisme memang memiliki wawasan yang kritis terhadap Barat, lebih-lebih mereka memiliki pandangan yang universal tentang kehidupan. Sementara Barat, yang wakili oleh Amerika, memiliki corak yang sama sekali berbeda, bahkan bertentangan. Pada titik inilah, keduanya sulit disatuhan dalam suatu kesepahaman. Namun demikian, ada nilai-nilai universal yang menyatukan mereka, seperti keadilan sosial dan toleransi. Kedua belah pihak harus saling mengerti satu sama lain, Barat yang selama ini telah salah kaprah memahami Islam harus instropeksi diri dan melihat realitas dunia Islam sebagai suatu tanggung jawab bersama dalam realitas politik global, bukan semata-mata dilihat sebagai ancaman.

Artikel Terkait