Bagaimana Menghidupi Hidup Yang Layak Dihidupi merupakan ringkasan atas buku “Hidupmu Layak Dihidupi Filsafat Hidup Kristiani” yang ditulis oleh Fulton J. Sheen (1895-1979, Teolog Katolik dan Filsuf berkebangsaan Amerika).

Penyebab Pertama Kehidupan

Tulisan Fulton J. Sheen mengajak rasio kita untuk  mencari dan memahami siapa penyebab pertama kehidupan ini. Dalam realitas kita mengalami peristiwa hidup. Dalam prosesnya, peristiwa hidup yang terjadi disebut sebagai  pengalaman. Pengalaman kemudian menjadi sejarah.

Sejarah lalu direfleksikan dan dimaknai sebagai momen yang membentuk makna hidup. Bergerak dari dimensi sejarah, lahirlah pertanyaan eksistensial, yakni siapa penyebab pertama kehidupan ini dan bagaimana seharusnya kita bisa hidup dengan baik?

Yang Transendental yakni Tuhan adalah jawaban dari siapa penyebab pertama kehidupan ini. Sedangkan interiorisasi sikap dan tindakan yang sesuai tataran moral dan religi menjadi landasan ultimum bagaimana seharusnya kita bisa hidup dengan baik.

Faktanya, kita tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Melalui Tuhan kita bisa menjadi tuan atas seluruh sejarah hidup. Walaupun demikian, kita pun tidak bisa hidup tanpa yang lain. Meminjam Istilah Emmanuel Levinas, yang lain adalah bagian dari diri kita. Hanya dengan yang lain kita merealisasikan diri kita dan mencapai tujuan hidup yang sejati.

Sejauh keberadaan kita, Tuhan adalah sebuah “jalan” yang terus dicari dalam proses kehidupan. Di titik ini, kita diingatkan dalam filsafat prosesnya Whitehead, Tuhan dipahami sebagai “dalam proses”, Ia adalah wujud aktual bersama wujud-wujud aktual lainya sehingga menjadi aspek awali dan aspek akhiri.  

Sejalan dengan Whitehead, Fulton. J. Sheen pun memandang bahwa Tuhan adalah awal dan akhir (Alfa dan Omega). Orientasi pandangan ini menegaskan bahwa segalanya bersumber dari Tuhan dan pada akhirnya semuanya kembali kepada Tuhan. Maka, sejauh keberadaan kita, kita tidak bisa memungkiri bahwa Tuhan adalah penyebab pertama kehidupan ini.

Bagaimana Menghidupi Hidup Yang Layak Dihidupi

Pertama, Yang Ilahi dan yang insani. Pada tema pertama, Sheen menulis tentang Tuhan dan manusia (kita). Tuhan adalah objek yang Transenden sedangkan kita adalah subjek yang intransenden. Sebagai intransenden kita menyadari sekaligus mengimani kehadiran kita di dunia semata-mata karena Tuhan.

Disposisi kesadaran kita sebagai yang diciptakan dari Tuhan didasarkan pada apa yang disebut Sheen sebagai hati nurani. Hati nurani adalah sanggar suci, tempat bagi bersemayamnya Tuhan. Melaluinya terjadi  relasi personal antara kita dan Tuhan.

Relasi itu dapat tercapai karena hati nurani bersifat melarang, menilai atau mengakui, dan memberitahu kita akan suatu tindakan yang dilakukan. Orientasi hati nurani terarah pada menaati hukum-hukum Tuhan demi kebahagiaan abadi.

Pada akhirnya, relasi yang personal dengan berbasis pada hati nurani menghantar kita untuk menjalin komunikasi imanen dengan Tuhan. Komunikasi imanen mengarahkan kita untuk mengenal dan mengidentifikasikan proses kehidupan ini supaya sungguh-sungguh menjadi berarti.

Kedua, Yang Ilahi dan umatnya. Tema kedua mengarahkan kita untuk memahami akan pentingnya Gereja sebagai umat Allah dan tubuh mistik Kristus. Konsep ini berakar pada sejarah iman sejak manusia pertama, Adam dan Hawa jatuh dalam kedosaan akibat kehendak bebas mereka memakan buah pohon terlarang.

 Lalu, dosa yang sama, dosa asal,  diwariskan kepada kita hingga kini.  Sejak itu, kita pun dikendalikan oleh kehendak bebas. Sekalipun demikian, dalam kehendak bebas, Tuhan menginginkan kita untuk tetap menjalin komunikasi dengan-Nya, sebab sekalipun berdosa Tuhan tidak ingin membiarkan kita pergi.

Bagaimana cara Tuhan menjalin komunikasi? Dari sekian banyak bangsa di dunia, Tuhan memilih bangsa Israel sebagai umat-Nya. Ia kemudian berkomunikasi dengan mereka melalui seorang manusia yang ditunjuk-Nya sebagai kepala dan representasi.

Baca Juga: Dilema Kehidupan

Yang pertama adalah Abraham, selanjutnya Ishak, Yakub, Musa, Para Raja, dan Para Nabi. Melalui mereka, Tuhan memanggil, memerintahkan, melarang, dan memberikan hukum-hukumnya sebagai dasar untuk hidup yang lebih layak.

Melalui mereka, Tuhan memberi nama khusus kepada bangsa pilihan-Nya yang dalam bahasa Ibrani disebut Qahal yang berarti “pilihan Tuhan”. Selanjutnya ketika Perjanjian Lama diterjemahkan dari bahasa Ibrani ke Yunani, kata Qahal  diterjemahkan dengan kata Ecclesia. yang berarti “Gereja”.

Jadi, ketika kita menyebut diri sebagai anggota Gereja, maka sesungguhnya kita adalah orang pilihan Tuhan. Tak hanya sampai di situ, dengan bangsa Israel sebagai representasi pilihan-Nya untuk semua bangsa, Ia juga membuat perjanjian dengan mereka. Melalui para Nabi, Ia bernubuat bahwa akan lahir seorang penyelamat bagi seluruh umat manusia.

Nubuat itu menjadi kenyataan. Lahirlah Kristus dari Seorang Perawan yang bernama Maria. Ketika berusia tiga puluh tiga tahun, Ia mulai mengajar dan mewartakan Sabda-Nya. Ia memilih dua belas orang sebagai rasul-Nya kelak ketika Ia kembali kepada Bapa-Nya. Kepada dua belas rasul ia meninggalkan dasar  iman yang berorientasi pada keselamatan.

Kepada semua yang percaya kepada-Nya,  Ia sebut sebagai Qahal, sebagai Ecclesia, sebagai Gereja, yang kelak memperoleh keselamatan. Jadi, di dalam gereja sesungguhnya kita memperoleh keselamatan akan suatu hidup yang tidak akan pernah berakhir, kita adalah “umat pilihan-Nya”.

Ketiga, Tentang Dosa, Sakramen, Dan Hidup Yang Kekal. Pada tema ketiga, keempat, dan kelima Sheen menulis tentang relasi antara dosa, sakramen dan hidup yang kekal. Sebagai ciptaan mulia dari Tuhan, dalam diri sejak  kita lahir telah  bersemayam dosa asal.

Dosa asal bersumber dari kejatuhan manusia pertama, Adam dan Hawa. Selain dosa asal kita juga melakukan dosa yang oleh ajaran Gereja disebut sebagai dosa ringan dan dosa berat. Penyebutan ini tergantung pada kapasitas tindakan dosa yang kita perbuat. Jadi, hakikatnya, kita adalah manusia yang “terluka” dari sejak lahir hingga kelak mati.

Sebagai manusia yang “terluka” kita tentu membutuhkan penitensi dan “penyembuhan”. Di mata Sheen, sakramen adalah penyembuhan paling tepat bagi orang-orang yang berdosa. Sakramen, khususnya sakramen pengampunan dosa adalah sakramen fundamental yang  membuat kita kembali kepada bersatu dengan Tuhan.

Sakramen pengampunan dosa mencurahkan rahmat pengampunan Tuhan, menyembuhkan luka-luka kita. Secara jasmani kita diampuni dan secara spiritual kita kembali kepada Sang Sumber Kasih. Ketika kita berdosa dan memiliki keinginan dan  kesadaran untuk kembali bertobat, maka sesungguhnya kita tahu kelak kepada siapa kita kembali.

Kita tidak menginginkan jiwa kita terbelenggu, tetapi kita mau supaya nanti jiwa kita bersatu dengan Tuhan. Satu-satunya jalan adalah menyadari dosa, bertobat, dan membaharui diri. Hanya melalui jalan ini, kita mencapai apa yang kita inginkan.

Dengan demikian, akan lahir suatu komunikasi iman yang permanen, yakni kita adalah “Pilihan Allah” bukan saja di dunia tetapi juga di kehidupan kekal. Maka, Dengan lima point ini, setidaknya Fulton J. Sheen menguraikan jawaban bagaimana seharusnya kita menghidupi hidup yang layak dihidupi.