Francis Fukuyama di tahun 1992 berhasil menulis sebuah buku sebagai sebuah karya fenomenalnya yang berjudul The End of History and The Last Man. Dari karya pentingnya inilah, Ia menjadi dikenal oleh banyak orang bahkan dunia, terutama kalangan intelektual. Fukuyama menulis buku The End of and The Last Man seperti diketahui merupakan lanjutan tesis dari jurnalnya sendiri yang diberi judul “The End of History?” yang ditulisnya di The National Interest pada tahun 1989.

Pada jurnal itu Fukuyama mengatakan bahwa yang kita saksikan sekarang bukan saja akhir dari Perang Dingin, atau berlalunya masa-masa sejarah pasca perang, melainkan akhir dari sejarah itu sendiri, yaitu akhir dari evolusi ideologi manusia dan universalisasi demokrasi liberal Barat sebagai bentuk pemerintahan manusia paling akhir.[1]

Bahwa pada perang dingin yang saat itu terjadi setelah berakhirnya perang dunia I dan II, dunia disajikan dengan pertarungan dua ideologi besar dengan segala kepentingannya, yakni liberalisme-kapitalisme dari blok Barat yang diwakili Amerika Serikat dan sekutunya versus sosialisme-komunisme dari blok Timur ada Uni Soviet dan sekutunya.

Perang dingin berakhir tahun 1991 dengan ditandai pecahnya negara Uni Soviet sebagai bentuk kekalahan mereka dan kemenangan liberalisme-kapitalisme yang fakyanya adalah terciptanya sistem politik pemerintahan secara demokrasi liberal dihampir seluruh dunia dan menaklukkan ideologi-ideologi pesaing lainnya seperti monarki turun temurun, fasisme, dan komunisme. Kehidupan masyarakat dunia pun terutama pada aspek ekonomi sangat terlihat terbentuknya masyarakat kapitalis di abad ini.

Sejarah dan dinamika kehidupan manusia sejak dulu hingga sekarang meneguhkan keuggulan demokrasi dibandingkan dengan sistem-sistem politik yang lain seperti monarkhi, teokrrasi, dan sejumlah varian dari otoriterisme. Bahkan, karena terdapat pengakuan universal atas keunggulannya, demokrasi juga dilekatkan pada sistem-sistem politik yang pada dasarnya tidak demokratis. Sejak 1990-an, atau tepatnya setelah perang dingin berakhir, terjadi pertambahan pesat jumlah negara yang mengadopsi sistem politik demokrasi di berbagai belahan bumi. Sekarang ini, kurang dari 10 negara dari 200 negara yang ada di dunia ini.[2]

Berdasarkan hal-hal di atas, penting kiranya kita mengetahui alam pikirannya yang bagi saya masih relevan sampai saat ini ketika dikaitkan dengan berbagai fenomena yang sedang berlangsung di masyarakat dan lingkungannya.

Pengaruh Pemikiran

Dalam sejarah pemikiran filsafat di seluruh dunia, bahwa setiap cara berpikir seseorang pasti dipengaruhi oleh orang lain. Misalkan, seorang Plato yang pemikirannya banyak dipengaruhi sahabat sekaligus gurunya Socrates[3], begitu juga dengan Aristoteles yang dipengaruhi gurunya Plato[4]. Hal itu juga terjadi pada Fukuyama yang pikiran-pikiranya banyak terpengaruh oleh G.W.F Hegel, Karl Marx, serta Alexandre Kojeve.

Metodelogi yang dipakai oleh Fukuyama dalam analisanya adalah berlandaskan teori filsafat sejarah Hegel dan analisa kritis terhadap pemikiran Marx dalam teori sosialisme. Apabila Hegel memahami akhir sejarah melalui alur dialektika ide yakni tesis, antitesis, sintesis, dan ruh transendensi sebagai penggeraknya, sedangkan Marx lebih pada ekonomi deterministik, maka Fukuyama meyakini logika sains alam modern sebagai roda penggerak menuju akhir sejarah.

Fukuyama sendiri sepakat dengan mendalam beberapa hal, namunn ia lebih sepakat dengan filsuf Jerman Hegel setelah menbaca karya-karya Alexandre Koveje. Kojeve berpendapat bahwa arus sejarah harus diarahkan menuju berdirinya negara universal  dan homogen dengan unsur-unsur demokrasi liberal atau sosial.

Sejarah Berakhir

Sejarah selalu terjadi dari segala perbuatan dan tindakan-tindakan manusia secara universal. Apa yang menjadi catatan sejarah adalah apa yang pernah dilakukan seorang maupun kelompok manusia dengan objektifitas di sekitarnya. Anthony Giddens pada pengantarnya dalam buku Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme karya Max Webber, menjelaskan bahwa penitikberatan atas sentralitas sejarah dalam studi tentang tingkah laku manusia, termasuk dalam aksi ekonomi dan bidang-bidang lain. Itu karena nilai-nilai kultural yang memberikan pada kehidupan manusia diciptakan oleh proses spesifik dari perkembangan sosial. Sebab, antara kehidupan manusia sebagai individu dan perkembangan sosial masyarakat saling ketergantungan dan mempengaruhi.

Seperti apa yang dikatakan Kojeve kalau proses sejarah adalah jalan menuju berdirinya negara universal  dan homogen dengan unsur-unsur demokrasi liberal atau sosial. Tetapi Marx mengkritik dengan melihat bahwa negara tidak mengabdi kepada kepentingan seluruh masyarakat dalam rangka melihat masa depan sosial sebagaimana pendapat Thomas Hobbes, John Locke, dan J.J. Rousseau, melainkan hanya melayani kepentingan klas-klas sosial tertentu saja, menjadi alat klas dominan untuk mempertahankan kedudukan mereka atau status quo. Klas-klas sosial tertentu; klas dominan ini yang disebut juga kelompok kapitalisme.

Meskipun lawan besar Marx adalah kapitalisme dan borjuasi sebagai kelas yang menjadi pendukung kapitalisme, janganlah kita mengira bahwa Marx membenci borjuasi. Sebaliknya, Marx sangat mengagumi prestasi-prestasi borjuasi, kelas yang mengembangkan kapitalisme. Dalam Manifesto Komunis ia menulis: “Selama masaa kekuasaannya yang baru seratus tahun kelas borjuasi telah menciptakan tenaga-tenaga produktif yang lebih meluas dan lebih raksasa daripada yang telah diciptakan oleh semua generasi terdahulu sekaligus. Marx tidak hanya mengagumi prestasi borjuasi, ia juga menilainya lebih jujur daripada feodalisme sebelumnya.[5]

Berdasarkan hal tersebut yang dengan dominasi kelas memaksa setiap individu, sejauh dia terlibat di dalam sistem hubungan pasar, untuk menyesuaikan diri dengan aturan-aturan dan tindakan kapitalistik. Kapitalisme sekarang telah mendominasi kehidupan perekenomian, mendidik dan memilih insan-insan ekonomi yang dibutuhkannya melalui suatu proses “survival of the fittest” dalam bidang ekonomi.

Ekonomi kapitalistik masa sekarang adalah suatu kosmos raksasa tempat di mana manusia dilahirkan dan menghadapkan dirinya kepada manusia, setidak-tidaknya sebagai individu, sebagai suatu tatanan segala hal yang tidak berubah yang di dalamnya dia harus hidup. Hal ini memaksa setiap individu, sejauh dia terlibat di dalam sistem hubungan pasar, untuk menyesuaikan diri dengan aturan-aturan dan tindakan kapitalistik.

Hegel maupun Marx percaya bahwa evolusi masyarakat manusia tidaklah "open ended" tetapi akan berakhir bila manusia telah mencapai suatu bentuk masyarakat yang sempurna yang terdalam dan memiliki hasrat yang fundamental. Selanjutnya kedua pemikir tadi menyatakan suatu "akhir sejarah" yaitu: Hegel dengan negara liberal, sedangkan Marx dengan masyarakat komunis.[6]

Yang dikatakakan oleh Hegel dan Marx di atas semuanya sudah terjadi bahwa telah ada negara liberal dan ada pula masyarakat komunis pada negara-negara di dunia. Itulah tanda yang artinya sejarah telah berakhir sesuai dengan kata Francis Fukuyama. Walaupun dalam pandangan Huntington bahwa Islam mampu hadir sebagai sebuah peradaban yang mampu melawan Barat dengan berbagai variannya. Tetapi di sisi lain, seorang Lenin dan Stalin yang merupakan Marxisme tulen melihat Islam ini ke depan akan berpotensi sekali menjadi masyarakat kapitalis dan menganut demokrasi liberal.


Catatan Kaki:

[1] Francis Fukuyama, The End of History?, The National Interest, 1989.

[2] Seymour Martin Lipset, Political Man: Basis Sosial Tentang Politik, terj. Endi Haryono, Yogyakrta: Pustaka Pelajar, 2007, h. v

[3] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, Yogyakarta, 2012, h. 33

[4] Ibid,

[5] Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010,  h. 162

[6] Francis Fukuyama, The End of History and The Last Man: Kemenangan Kapitalisme dan Demokrasi Liberal, terj. M.H. Amrullah, Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2016, h. 3