Turunkan bendera kalian, " Pekik vokalis bertubuh ceking yang identik dengan celana hitam bergambar tulang kaki di Alun-Alun Pemda Wonosari. Seketika bendera hitam bertuliskan FSTVLST itu langsung diturunkan dan diamankan oleh penonton lain, lalu diserahkan kepada penguasa panggung malam itu.

Sirin Farid Stevy, pria kelahiran Playen, Gunungkidul itu memberi imbauan kepada para ratusan penggemarnya agar tidak membawa bendera FSTVLST selama pertunjukan musik berlangsung. Tidak hanya sekali, hampir setiap pementasan jika ada yang membawa bendera, sang frontman group band yang juga digawangi oleh Roby, Mufid, Danish, dan Rio itu, "mengharamkan" pengibaran bendera bertuliskan nama atau simbol band tersebut di mana pun berada.

Entah apa maksud di balik penurunan bendera tersebut, yang jelas saya sendiri mulai kenal dengan FSTVLST (dulu Jenny) sekitar tahun 2009, tepatnya saat masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Awal kenal bukan karena lagu-lagu mereka, melainkan dari kaos berwarna putih bertuliskan Jenny Manifesto di belakangnya.

Kaos itu saya dapatkan seorang kawan bernama Bayu, seorang pemuda asal Tawarsari yang dianggap sebagai penyambung lidah bagi band-band indie Jogja. Selain karena doktrin Bayu dengan segala ceritanya, yang membuat saya tertarik dengan band yang konon dibentuk tahun 2003 itu, karena ada foto empat pemuda gondrong di depan dan simbol manuk di belakangnya.

Bagi remaja yang dibesarkan di era acara Inbox dan Dahsyat seperti saya, melihat band dengan logo manuk, tentu menganggapnya tidak lazim dan gumunan. Terlebih ada informasi bahwa ada dua personil Jenny yang asli dari Gunungkidul. Seketika hal tersebut membuat saya semakin penasaran ingin mendengarkan lagu-lagunya.

Saya pun mulai mendengarkan lagu-lagu Jenny dan mengikuti kemana pun band itu tampil, terutama jika manggung di Wonosari. Beberapa lagunya seperti Mati Muda dan Hujan Mata Pisau, menjadi lagu andalan saat jagongan bersama teman-teman dusun. Selain lirik lagunya yang menurut saya "berbahaya", aksi tengil Farid Stevy ketika di atas panggung menjadi magnet tersendiri untuk terus saya ikuti.

Lama tidak terdengar, tiba-tiba Jenny bongkar pasang personel, berganti nama menjadi FSTVLST, dan tahun 2014 merilis album terbaru mereka, HITS KITSCH. Dalam album ini, lirik-lirik lagu FSTVLST menjadi lebih beragam dan semakin berani mengungkapkan segala kegelisahannya. Hal ini jelas terlihat dalam beberapa lagunya seperti Tanah Indah untuk Para Terabaikan dan Orang-orang di Kerumunan, yang serat akan kritik sosial.

Album HITS KITSCH juga berhasil membawa nama FSTVLST semakin dikenal luas oleh masyarakat indie.  Kekuatan lirik dalam lagu-lagu di album tersebut, mampu mewakili keresahan dan kegelisahan atas kondisi sosial yang sedang terjadi. Tak heran, jika album ini masuk dalam daftar 20 album terbaik versi majalah Rolling Stones edisi Januari 2015.

Sepanjang tahun 2015 hingga 2019, FSTVLST berhasil menjadi raja pensi, khususnya di Jogja dan sekitarnya. Hampir setiap ada pamflet event musik di pinggir jalan raya, nama band yang memiliki konsep almost rock balery art tersebut selalu terpampang.

Setelah penantian cukup panjang, akhirnya pada Juni 2020, secara resmi FSTVLST merilis album baru bertajuk “FSTVLST II”. Setidaknya ada sembilan lagu dalam album ini, yakni Gas, Opus, Kamis, Vegas, Hayat, Rupa, Mesin, Syarat, dan Telan. Sama seperti lagu-lagu dalam album sebelumnya, di album ini tema yang diusung juga masih sarat akan kritik sosial, politik, dan agama.

Meski begitu, ada beberapa perbedaan yang cukup terlihat pada album “FSTVLST II” ini. Selain judul lagu-lagunya yang menggunakan satu kata, lirik-lirik lagu dalam album ini cenderung lebih “berani transparan” dari album sebelumnya. Hal ini terlihat pada lagu Kamis, bagaimana Farid dengan sangat baik memotret para aktivis dan keluarga korban yang tengah berjuang untuk menuntaskan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dalam aksi Kamisan.

Kamisan sendiri adalah aksi damai yang dilakukan para korban maupun keluarga korban pelanggaran HAM di Indonesia. Aksi yang sudah ada sejak tahun 2007 itu, biasa dilakukan setiap hari Kamis mulai Pukul 16.00 hingga 17.00 di depan Istana Presiden. Dengan berpakaian serba hitam dan berpayung hitam, mereka berdiri diam menuntut keadilan, seperti penggalan lirik yang ditulis Farid Stevy berikut:

......................................


Kamis pun terbuang


Siang berubah remang


Usang harapan


Kau 'kan tetap terbilang


.......................................


Di balik payung hitam ini


Di balik awan hitam nanti


Selama masih bermatahari


Hitam 'kan menagih janji


.........................................

Kepekaan seorang Farid Stevy dalam memaknai sebuah peristiwa tentu sudah tidak bisa diragukan lagi. Jelas ini terlihat dalam penggalan lirik lagu di atas, bagaimana ia berpihak pada “keluarga korban” yang tidak pernah lelah untuk menagih janji para penguasa  untuk menuntaskan kasus pelanggaran HAM di Tanah Air.

Sebagaimana kita tahu, banyak sekali pelanggaran HAM berat di Indonesia yang hingga saat ini belum menemui titik terang. Beberapa di antaranya yakni Tragedi 1965, Trisakti, Tragedi Semanggi, Peristiwa Tanjung Priok, Tragedi 13-15 Mei, dan lainnya. Meski sudah dilakukan hampir 14 tahun dan belum juga menemui titik terang, namun apa yang sudah diperjuangkan para korban, keluarga korban, dan para aktivis, akan tetap berharga dan tidak sia-sia.

Peka dan tajam, begitulah karakter seorang Farid Stevy ketika menulis lirik dalam lagu-lagunya. Seperti kata Jimi Multhazam, meski lirik lagu yang ditulis Farid bertebaran isme-isme tetapi para "kimcil" sanggup sing a long di sepanjang konser. Ini artinya, FSTVLST telah memberi ruang bagi “orang-orang biasa” untuk menikmati lagu-lagu filosofis dan sarat makna yang dikemas dengan cara paling sederhana.

Dari semua lagu yang ada di album FSTVLST II, Hayat menjadi salah satu lagu yang membahas persoalan agama, yang tentu saja sangat sensitif, tetapi mampu dikemas dengan sederhana dan tengil. Di mana dengan ajaib lirik seperti Cinta beda agama, cie beda agama atau Panitia kiamat sudah rapat bersiap bisa dimasukkan dengan lucu dan apik.

Di samping itu, mengeluarkan album baru di tengah kondisi Covid-19 seperti sekarang, tentu memiliki banyak tantangan. Jelas, tentangan terbesar baik personel maupun penggemar adalah rindu band-bandnan dengan suara sound system yang menggelegar di setiap sudut perhelatan dan suasana riuh penuh ludah. Tentu tidak ada hal lain yang bisa diperbuat selain berdoa, menunggu, memutar lagu FSTVLST di Spotify sambil wedangan.

Terlepas dari itu semua, FSTVLST hingga kini masih konsisten mengangkat isu-isu sosial, kemanusiaan, dan kesetaraan. Tak hanya isi di dalam lirik lagunya, upaya mereka untuk menindak tegas para penggemarnya untuk menurunkan “bendera kebangsaan” saat menghadiri pertunjukannya, seolah FSTVLST ingin menunjukkan bahwa kita semua sama, tidak ada yang jauh lebih tinggi dari kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Wallahu a'lam...