Staf Pengajar
1 bulan lalu · 187 view · 3 min baca menit baca · Agama 53121_97526.jpg
Maison de la Poste, Cagnes (1906 - 1907) by Auguste Renoir

Front Penghasut Intoleransi

Seharusnya sudah menjadi kewajiban bersama bagi kita untuk saling mengingatkan bahwa jangan sampai paham-paham intoleransi yang mengatasnamakan agama terus menghasut masyarakat untuk bertindak menjadi lebih radikal dalam kebencian. 

Kita membutuhkan pemikiran yang membimbing masyarakat menuju jalan lurus, bukan mengecam untuk mengkafirkan. Mengkafirkan bukanlah sesuatu yang harus ada, kita menjalin silaturahmi dalam berbagi ide-ide berupa kemanusiaan. 

Intoleransi adalah kesesatan, pemecah belah bangsa. Hal ini harus dihentikan sebab intoleransi bukanlah permainan dalam politik. Agama seharusnya tak ikut campur dalam politik, agama tak harus mengambil peran, karena yang menjadi utama adalah kepentingan kita bersama dalam suatu perbedaan.

Filsafat membimbing manusia menuju kesadaran toleransi, bahwa mereka yang terbuka pada pemikiran adalah mereka yang mampu menerima yang lain, sebab dunia tanpa perbedaan adalah dunia yang tanpa warna. 

Inilah kehidupan yang bukan ditempati pada satu agama melainkan beragam agama bebas berdiri tanpa harus mencaci agama yang lain. Yang menjadi permasalahan bagi agama mayoritas adalah merasa dirinya paling suci sehingga agama lain adalah agama kafir, tidaklah relevan bila prinsip tersebut terus digencarkan. 

Jika kita merasa berada di jalan yang benar maka ajaklah seseorang berbuat kebaikan, jangan sampai menjadi kaum munafik yang bicara agama paling ricuh begitu mencegah untuk tidak korupsi tidak mampu. 


Kita terlalu sibuk mempersoalkan agama sampai lupa untuk bersaing secara maju dengan negara lain, betapa tertinggalnya negara kita dan kasihan sekali bila negara tetangga menganggap kita adalah bangsa yang sibuk membahas agama sementara lupa berpikir lebih maju lagi dalam membangun peradaban.

Beragama dengan bersikap santun kini telah mulai hilang, kita tak ingin membuang bahwa iblis telah masuk kepada kepada topeng agama, namun keadaan kini telah menunjukkan tanda-tandanya, dan masyarakat sudah cerdas untuk bisa membedakan mana pemuka agama yang santun dan pemuka agama yang penuh dengan kebencian. 

Namun permasalahan akan terus ada dan yang kini tengah kita hadapi adalah sulitnya menyadarkan pemuka agama rasis itu. Ketika kita mengajukan suatu pendapat untuk terbuka pada perbedaan maka kita dituduh kafir. 

Mereka yang rasis adalah mereka yang merasa paling suci diantara keberagaman lainnya adalah kutukan bagi negeri Indonesia ini. Jangan sampai Intoleransi terus mewabah merusak ideologi Pancasila lalu kita menjadi teror bagi lahirnya satu agama dalam satu negara. 

Kita telah melihat di timur tengah konflik yang terus berkecamuk karena egoisme suatu kaum untuk mendirikan negara khilafah. Kita melihat bahwa tidak ada satupun negara yang bertahan menjadi lebih maju karena idealis mempertahankan satu agama. Hendaklah bagi pemuka agama untuk merenungkan kembali pentingnya keberagaman itu sendiri. Bukan soal surga dan neraka namun bagaimana agar kita bisa selaras dalam kemanusiaan tanpa cekcok ricuh monoton membahas agama.

Yang terjadi adalah maraknya ajaran agama serta minimnya pembelajaran sosialisme. Negara kita tengah digentayangi hantu-hantu iblis berkedok agama sehingga ketika baca buku kiri saja dituduh komunis. Betapa kacaunya sistem pemikiran seperti itu yang seakan-akan negara ini menjadi penjara bagi lahirnya pemikiran bebas. 

Hilangnya kebebasan dalam pemikiran maka lahirlah kecaman bagi pemikiran bebas. Suntuk sekali bila hidup seperti itu. Kita ingin mengejar ilmu dituduh kafir, sedangkan yang sibuk belajar agama seakan memiliki kunci pegangan surga, otak sakit nafas sesak dengan argumentasi seperti itu.


Memusuhi pemikiran bebas adalah bentuk lantang dan memaki Tuhan. Hendaknya yang dimusuhi adalah merasa paling benar tanpa memiliki pegangan berupa fakta dan data. Pada masa kini orang berbondong-bondong masuk pada sesuatu yang membuatnya heboh serba tak maju tahu kebenaran yang sesungguhnya. 

Hilangnya akal sehat itu menunjukkan bahwa matinya kesadaran. Jangan sampai generasi kita kehilangan kesadaran dengan masuk pada ilusi rasisme. Semakin banyak masyarakat yang merasa paling suci maka akan semakin banyak yang sesuka hatinya menuduh orang kafir.

Dunia ini luas, maka perbedaan harus luas. Alam yang indah memiliki macam tumbuhan serta bunga dan tanaman yang meneduhkan. Seperti itulah kita harus terbuka pada pemikiran bukan pada sentimen agama. Jangan biarkan ormas radikal terus ada di negara ini dan jangan sampai menjadi penyakit dan jangan biarkan pemuka agama ekstrem berkuasa berbicara sesuka hatinya karena itu akan menjadi musibah bagi kehidupan Indonesia di masa depan.

Bagimu agamamu dan bagiku agamaku adalah yang seharusnya yang kita pegang. Jangan sampai ormas radikal menjadi agama baru, yaitu melampaui ketentuan yang ada dalam agama yang sebenarnya. 

Kan gawat bila ormas menjadi agama yang menunjukkan bahwa tanda-tanda akhir zaman itu ada pada ormas radikal bukan pada agama yang sebenarnya. Jadi dengan adanya hal seperti itu mari kita bersama mendesak kepada pemerintah untuk segera membubarkan ormas-ormas yang melawan Pancasila. Negara kita jangan sampai dikotori oleh hal-hal yang berbau rasis seperti itu. Ini Indonesia adalah tempat beragamnya suku bangsa, bukan untuk satu agama semata.

Artikel Terkait