Walaupun pandemi Covid-19 telah merepotkan banyak negara, namun masih juga memberi peluang geopolitik strategis bagi segelintir negara di dunia, seperti Rusia. Peluang itu datang pada 22 Maret lalu ketika Rusia mengirimkan bantuan ke Italia untuk membantu menangani virus Corona. Slogan 'from Russia with love' digelar dalam misi bantuan kemanusiaan ke Italia itu.

Semua itu berawal dari telepon PM Italia Giuseppe Conte ke Presiden Rusia Vladimir Putin meminta bantuan melawan wabah Covid-19. Kala itu, Italia dilanda putus asa karena kasus positif meningkat pesat dan korban meninggal tercatat tertinggi di dunia.

Permintaan bantuan ke Uni Eropa (UE) dan beberapa negara Eropa lain--sebagai sesama anggota UE dan NATO--tidak mendapat respons sesuai harapan Italia. Akibatnya, Italia menjadi episentrum baru bagi pandemi Covid-19 di luar Tiongkok. Tidak ada jalan lain, Italia harus meminta bantuan ke negara lain. Salah satu negara itu adalah Rusia.

Normal baru di Eropa

Rusia menjadi satu-satunya negara di benua Eropa yang mampu memanfaatkan krisis pandemi Covid-19 bagi keuntungan geopolitiknya di benua biru itu. Bagi Rusia, bantuan Covid-19 ini merupakan diplomasi ‘balas budi’ atas dukungan politik regional Italia di forum-forum UE dan NATO melalui bantuan kemanusiaan Covid-19. Italia termasuk negara yang berusaha membatalkan sanksi ekonomi kepada Rusia sebagai akibat agresi militernya ke beberapa negara lain.

Bagi Rusia, pandemi Covid-19 ini tidak hanya menjadi entry point, namun bahkan menjadi game changer. Covid-19 seolah menjadi upaya diplomasi Rusia untuk meningkatkan pengaruhnya justru ketika dunia dilanda pandemi Covid-19 ini. Rusia pun menggunakan peluang strategis ini untuk memberikan bantuan kepada berbagai negara, seperti beberapa negara di bekas Eropa Timur (Latvia), benua Afrika, dan, bahkan, ke Amerika Serikat (AS).

Ada normal baru yang terbentuk dalam peta geopolitik di Eropa sebagai akibat dari pandemi Covid-19 ini. Pertama, Eropa dalam hal ini UE dan NATO ternyata tidak solid.

Ketika ditetapkan sebagai pandemi global oleh WHO, berbagai negara menunjukkan respons berbeda terhadap kondisi darurat ini. Unprecedented situation ini memaksa berbagai negara mengambil kebijakan unilateral atau sepihak, tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan negara-negara tetangga atau, bahkan, organisasi regional dari negara itu bergabung, seperti ASEAN di Asia Tenggara atau UE di kawasan Eropa.

Situasi unprecedented ini berkembang menjadi normal baru bagi hubungan internasional, termasuk di Eropa. Walaupun sifatnya masih dinamis dan temporer, negara harus mampu merespons pandemi Covid-19 sesuai dengan kapabilitas domestik dan internasionalnya. Italia, Prancis, dan Spanyol, misalnya, mendapati kenyataan bahwa mereka harus berjuang sendirian tanpa bisa memanfaatkan keanggotaannya di UE dan NATO.

Normal baru kedua adalah Italia terpaksa meminta bantuan ke negara yang selama ini dianggap sebagai rival regional UE dan NATO, yaitu Rusia. Sementara itu, Rusia memiliki pengalaman dan kemampuan dalam menangani wabah Ebola di Afrika. Normal baru di Eropa telah menempatkan Covid-19 menjadi semacam game changer bagi Rusia untuk mengukuhkan diri sebagai penyeimbang AS dalam jagat geopolitik di Eropa.

Tentu saja ambisi regional Rusia tidak dapat dibandingkan dengan ambisi global Cina yang lebih siap secara struktural dan finansial di Eropa. Melalui diplomasi masker, Cina bahkan bisa tampil di atas perpecahan soliditas UE. Dengan inisiatif Belt and Road Initiatives (BRI), Cina bisa membangun rel kereta yang menjangkau hampir semua negara di Eropa itu.

Negara-negara seperti Italia, Prancis, Spanyol telah bergabung dengan BRI. Bantuan Cina dalam penanganan Covid-19 di negara-negara Eropa itu menjadi semacam ancaman bagi soliditas UE dan komitmen AS di NATO.

Situasi regional dalam bentuk tidak adanya kejelasan otoritas regional UE dan NATO, serta orientasi domestik AS menjadi semacam ruang strategis yang dimanfaatkan Rusia. Justru di tengah pusaran pandemi Covid-19 ini, Rusia melalui diplomasi Covid-19 kepada Italia dapat menegaskan kembali kekuatan regionalnya.

Diplomasi Kemanusiaan

Bagi banyak negara di Eropa, Rusia sering kali dipandang dengan curiga akibat beberapa insiden pembunuhan spionase di masa lalu. Selain itu, sebagai pewaris Uni Soviet, Rusia masih dianggap lawan tangguh dalam kekuatan pertahanan dan keamanan regional di Eropa.

Namun bagi Italia, Rusia adalah teman. Beberapa kali Italia menolak sangsi NATO kepada Rusia. Dukungan Italia ini layak diapresiasi Rusia ketika memerlukan bantuan memerangi pandemi Covid-19.

Yang menarik adalah bantuan kemanusiaan dikoordinasi langsung oleh Kementerian Pertahanan Rusia. Para perwira medis Rusia ditempatkan di daerah-daerah dekat pangkalan militer NATO di Italia Utara. Akibatnya, bantuan Rusia menimbulkan kontroversi di Eropa dan Italia. Alih-alih membantu menangani Covid-19, Rusia mendapat tuduhan melakukan kegiatan spionase juga.

Dalam kasus bantuan kemanusiaan Rusia, kepentingan Rusia memberikan bantuan itu juga didorong oleh keinginan menghapuskan sanksi ekonomi. Keinginan itu langsung dijalankan ketika Presiden Donald Trump menelepon Putin meminta bantuan Covid-19. Tanpa ragu Putin menyanggupinya dengan membeli peralatan medis dari perusahaan Rusia yang terkena sanksi ekonomi itu. 

Bantuan kemanusiaan Rusia sangat jelas terkait dengan usaha meningkatkan performa Putin sebagai presiden Rusia pada saat ini. Setelah 20 tahun menjadi pemimpin Rusia, dalam posisi Presiden atau Perdana Menteri, Putin telah banyak memengaruhi berbagai kebijakan domestik dan internasional Rusia.

Tiga hal penting yang menjadi tinta emas prestasi Putin adalah memelihara persatuan masyarakat Rusia, meningkatkan identitas Rusia sebagai bangsa besar, dan mengembalikan kejayaan Rusia sebagai pewaris kejayaan Uni Soviet sebagai great power.

Dalam upaya mewujudkan itu semua, Putin harus berhadapan dengan berbagai persoalan internasional, seperti perlawanan AS, perluasan keanggotaan Uni Eropa dan NATO, dan konflik bilateral dengan negara-negara yang berbatasan langsung.

Dalam konteks ini, respons strategis Rusia melalui bantuan kemanusiaan Covid-19 telah menempatkan kembali negara ini menjadi salah satu aktor penting dalam peta geopolitik regional di benua itu. Normal baru dari pandemi Covid-19 telah menjadi game changer bagi Rusia sebagai satu-satunya negara di Eropa yang mampu membantu salah satu negara penting anggota UE dan NATO.