Friends with benefits atau biasa disingkat FWB mungkin sudah tidak asing lagi. Dari beberapa referensi friends with benefits ini merupakan sebuah hubungan seksual yang terjadi antara laki-laki dan perempuan dalam konteks pertemanan tanpa adanya komitmen romantisme.

Garis besarnya berada dalam sebuah film yang disutradarai oleh Will Gluck, Friends with Benefits. Dalam scene film yang diperankan oleh Justin Timberlake dan Mila Kunis ini, awalnya mereka setuju pada pendapat bahwa seks tidak selalu harus diikuti oleh emosi dan perasaan.

Seiring berjalannya waktu, Mila Kunis yang berperan sebagai Jamie Rellis ini merasa bahwa menjadi friends with benefits bukan yang ia inginkan dan akhirnya memutuskan untuk berhenti.

FWB ini banyak dilakukan orang-orang yang belum ingin menikah yang disebabkan oleh beberapa faktor. Misal ketakutan-ketakutan ketika berkeluarga, belum siap berkeluarga, dan faktor lainnya. Dibalik itu, individu yang terlibat dalam lingkar FWB ini memiliki hasrat seksual yang harus dipenuhi.

Belum ingin menikah dan hasrat seksual yang tinggi, inilah sebab utama dari lahirnya FWB ini. Konsep FWB ini hampir menyerupai cinta satu malam atau yang terkenal dengan sebutan one night stand, yang di mana dua individu tanpa membawa perasaan saling memuaskan hasrat satu dengan yang lain.

Ingin saling mengeksplor aktivitas seksual, solusi alternatif untuk melakukan hubungan seksual namun terlalu bahaya untuk melakukannya dengan orang asing, dan tidak ingin berkomitmen pacaran namun ingin berhubungan seksual juga menjadi alasan kenapa orang melakukan friends with benefits ini.

Kesepakatan yang hadir dari kedua belah pihak untuk menolak adanya ikatan emosional menjadi aspek utama ketika menjalani hubungan FWB. Ketika kedua belah pihak memahami batasannya, maka bisa meminimalisir munculnya efek negatif dari setiap individu. 

FWB ini pun memiliki risiko yang harus diwaspadai. Misal ketika salah satu pihak mungkin terbawa perasaan dan menginginkan lebih dari hubungan, kedua individu tersebut mungkin akan kehilangan hubungan pertemanan seperti sebelumnya.

Risiko infeksi penyakit menular seksual juga salah satu risiko karena mungkin sering berganti pasangan ketika ber-FWB dan bukan hubungan monogamous. Bila tak siap untuk melakukan hubungan FWB ini, salah satu individu hanya akan merasakan yang namanya sakit hati.

Misal dari sisi perempuan ataupun laki-laki tidak paham batasannya bisa saja hubungan pertemanannya akan berhenti. Menurut Bisson dan Levine (2009) ketika hubungan FWB berakhir, maka terdapat dua kemungkinan, yaitu hubungan pertemanan yang terjalin tetap utuh seperti semula atau sepenuhnya berakhir.

Penelitian Owen, Fincham dan Manthos (2013) menemukan bahwa sebagian besar individu (81.5%) yang menjalani hubungan FWB tetap menjalin pertemanan dengan pasangan mereka, meskipun hubungan intimasi seksual yang dilakukan telah berakhir.

Aturan atau rules ketika ber-FWB harus dipahami setiap individu. Kayak misal aktivitas seksual yang dilakukan harus berlandaskan consent dari kedua belah pihak, jangan menaruh perasaan berlebih, hingga pahami konsekuensi dari hubungan pertemanan seperti ini.

Ketika setiap individu memahami segala aturan, konsekuensi, dan bahaya dari hubungan friends with benefits ini maka kemungkinan untuk kandasnya hubungan pertemanan akan dapat diminimalisir.

Dari penelitian Lehmiller, Vanderdrift dan Kelly (2011) menemukan bahwa pria cenderung mengharapkan hubungan FWB tersebut tidak mengalami perubahan, berbeda dengan wanita yang mengharapkan hubungan FWB dapat berubah menjadi hubungan romantis.

Dari penelitian Lehmiller, Vanderdrift dan Kelly tersebut dapat dikatakan bahwa kebanyakan hubungan pertemanan saat FWB hancur karena adanya harapan untuk hubungan romantis lebih dari sisi perempuan.

Hal ini tentu meruntuhkan bangunan konsep dasar dari FWB sendiri. FWB yang lahir tanpa adanya komitmen berupa ikatan, tidak bisa dimasukkan hubungan romantisme di dalamnya. Itu merupakan pelanggaran rules dari FWB.

Dari pandangan Kristiani, Alkitab mengecam hubungan seks di luar nikah. Seperti yang Rasul Paulus nyatakan ”Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri” (I Korintus 6:18).

Dalam ajaran Buddha pun ada yang namanya Kamesumicchacara veramani sikkhapadam samadiyami artinya aku bertekad akan melatih diri menghindari perbuatan asusila.

Kamesumicchacara ini telah terjadi apabila melalui faktor orang yang tidak patut untuk disetubuhi (agamantavatthu), mempunyai niat untuk menyetubuhi orang tersebut (tasmim sevacittam), melakukan usaha untuk menyetubuhinya (sevanappayogo), dan berhasil menyetubuhinya (maggena maggapatipatti adhivasenam).

Pandangan agama menanggapi fenomena friends with benefits ini tentu melarang aktivitas seksual yang terjadi di luar pernikahan.

Di negara Indonesia sendiri, friends with benefits ini tidak sesuai dengan sosiokultural, masyarakat, hingga moral yang dipercaya negara ini. Tapi kadang orang melakukan keinginan tanpa memikirkan pandangan orang lain dan kita pun tidak bisa membatasi keinginan setiap orang. 

Melalui friends with benefits ini, dapat kita pahami bahwa bagaimanapun bentuk hubungan yang dihasilkan setiap individu, maka akan selalu terdapat konsekuensi yang akan ditemukan.

Perlunya pemahaman dari setiap individu untuk proses pengambilan keputusan, menyikapi secara bijak keputusan yang telah dibuat, dan menentukan apakah hubungan yang sedang dijalani berguna untuk perkembangan dan pertumbuhan diri ke arah yang lebih positif atau justru sebaliknya.