Kita sudah tak asing lagi dengan rasa juicy dari daging ayam yang masih hangat ketika disantap, renyahnya kulit ayam yang dibuat dari balutan tepung bercampur bumbu-bumbu istimewa lalu digoreng dalam minyak goreng bersuhu tinggi. Ya, itulah Fried Chicken! Penganan yang telah mendunia seiring dengan Globalisasi yang makin berdentum.

Kendati kerap dipersepsikan sebagai makanan yang kurang menyehatkan raga, kuliner yang satu itu sudah tidak asing lagi dalam kehidupan kita. Fried Chicken kini telah menjadi dagangan laris di berbagai macam pujasera, dari mulai Waralaba internasional yang menyajikan berbagai variasi rasa Fried Chicken dengan pasaran harga yang mampu menipiskan ukuran dompet kalangan marjinal, hingga para pedagang kaki lima yang hanya bermodalkan gerobak dorong dan anglo kecil sehingga bisa menjajakan Fried Chicken dengan harga miring.

Namun tahukah kita? bahwa di balik kelezatan Fried Chicken, terdapat sebuah kisah pilu tentang penindasan anak manusia? sebuah cerita lama dalam lembaran sejarah tentang perampasan kemerdekaan dari manusia bebas oleh mereka-mereka yang diperkuat dengan moncong laras senapan dan bubuk mesiu.

Kisah tersebut bermula dari sebuah koloni raksasa di New World (Dunia Baru) atau yang saat ini kita kenal dengan nama 'Amerika', yang ketika itu menjadi piala bergilir dari negara-negara kuat di Benua Biru seperti Inggris, Prancis, Spanyol, Belanda dan Swedia. Namun, arus sejarah rupanya berkehendak bahwa Kerajaan Inggris Raya dengan superioritas maritimnya menjadi pemenang dalam perseteruan untuk mencapai dominasi di Amerika bagian Utara.

Inggris yang telah menancapkan kukunya di Amerika Utara, membangun serangkaian Settlement (pemukiman) dan mengundang para penduduknya dari Kepulauan Britania agar bermukim di tempat baru ini. Meski tak semuanya datang secara sukarela, banyak pula warga Kerajaan Inggris baik itu dari etnis minoritas seperti Irlandia dan Wales ataupun para oposan politik terhadap Monarki, yang menyebrangi Samudera guna mengadu nasib di Amerika.

Salah satu etnis di Inggris yang kemudian menginjakkan kaki di Amerika, adalah Skotlandia. Sejak Kerajaan Inggris dan Skotlandia bersatu dibawah kepemimpinan Raja Skotlandia, James VI pada tahun 1603, beliau menggalakan ekspedisi maritim ke Benua Amerika dan mendirikan Koloni Inggris pertama di Amerika yang diabadikan sesuai dengan namanya, Jamestown.

Raja James VI kemudian mendatangkan banyak orang orang Skotlandia ke Amerika untuk bekerja di perkebunan ataupun datang secara sukarela untuk membangun jaringan perdagangan lintas samudera. Para pemukim Skotlandia itu juga membawa tradisi kuliner mereka ke Dunia Baru, yaitu kebiasaan menggoreng ayam dalam minyak panas.

Lambat laun, Koloni Inggris di Amerika makin besar, dan usaha pertanian ataupun perkebunan di sana membutuhkan banyak tenaga kerja baru, maka dari itulah Pemerintah Inggris mulai menciduk orang orang Kulit Hitam dari wilayah Afrika Barat untuk menjadi Budak di koloninya.

Kala itu, budak tidak dianggap setara dengan manusia Eropa pada umumnya. Mereka adalah properti yang bisa diperdagangkan layaknya sebuah benda. Mereka juga tak memiliki hak-hak dasar manusia seperti hidup bebas ataupun menyuarakan opini pribadi. Satu-satunya yang melekat di tubuh mereka selain pakaian seadanya, hanyalah kewajiban untuk mengabdi pada sang pemilik.

Karena aturan yang berlaku umum di masa itu melarang para budak  memiliki hewan ternak untuk dibudidayakan guna diambil manfaatnya, maka mereka hanya diperbolehkan menernakkan ayam milik majikan mereka agar daging dari ayam-ayam yang telah tumbuh besar dapat mereka makan.

Para Budak yang mayoritas datang dari Afrika Barat, ini sebenarnya telah lama mengenal tehnik menggoreng ayam dengan minyak panas yang terbuat  dari mesocarp buah pohon kelapa sawit, yang notabene adalah tumbuhan asli Afrika Barat. Lebih jauh lagi, para hamba sahaya ini juga memberikan elemen baru pada kuliner ayam khas Skotlandia yang awalnya memiliki rasa plain, dengan tambahan pelbagai macam bahan dan bumbu seperti tepung, garam, lada, paprika, dan bawang putih.

Akulturasi budaya kuliner antara majikan dan hamba sahaya di Dunia Baru, telah melahirkan varian kuliner yang kita kenal saat ini dengan sebutan Fried Chicken. Karena harganya yang murah dan proses pembuatannya yang mudah, penganan ini menjadi sangat populer diantara komunitas Afro-Amerika di wilayah Selatan Amerika Serikat, bahkan menjadi masakan khas daerah itu.

Meski demikian, gengsi Fried Chicken tidak lantas naik, masyarakat Amerika yang berkulit putih, menganut segregasi rasial antara masyarakat keturunan Eropa dan masyarakat kulit hitam keturunan Budak Afrika. Implikasinya, bukan hanya penduduk kulit hitam saja yang mendapat perlakuan diskriminatif, produk budaya kuliner mereka pun ikut dipandang sebelah mata.

Namun, seiring berjalannya waktu, ketegangan rasial antara kedua etnis perlahan mulai mengalami penurunan tensi. Lewat perjuangan yang tak kenal lelah dari para aktivis dan intelektual kulit hitam seperti Booker T Washington, Frederick Douglass dan Martin Luther King. Jr, masyarakat kulit hitam Amerika dapat merasakan angin kebebasan serta persamaan hak. Stereotip negatif terhadap Fried Chicken sebagai 'makanan para budak' pun mulai meredup.

Bahkan, Fried Chicken pada era kontemporer telah menjadi salah satu kuliner kegemaran rakyat Amerika. Lewat tangan dingin Kolonel Sanders, ia menjadi progenitor dengan dibentuknya waralaba Fried Chicken ternama yakni Kentucky Fried Chicken.

Dari Amerika, Fried Chicken menyebar hingga pelosok terjauh bumi dan dapat dinikmati oleh masyarakat luas tanpa memandang suku ataupun golongan. Bahkan kehadiran Fried Chicken turun merevolusi budaya masyarakat diluar Anglosphere, karena adanya transfer nilai dari dunia Barat ke Timur akan berharganya waktu bekerja sehingga proses memasak yang relatif memakan waktu tergantikan oleh cepatnya Fried Chicken tersaji di piring kita.

Selain itu, dari kisah kelahiran Fried Chicken, ada pesan moral yang menggelitik nurani kita. Pertama, kelahiran Fried Chicken yang berasal dari proses sintesa antara budaya kuliner penguasa dan tata cara memasak dari pihak yang dikuasai menunjukkan bahwa sebuah kemajuan, dalam hal ini dibidang kuliner, tidak akan terjadi tanpa adanya kerjasama atau pertukaran informasi yang sinergis dari kedua belah pihak.

Dalam momentum kekinian dimana dunia makin dirisaukan oleh sejumlah konflik saling serang yang berakar pada perbedaan identitas maupun pemikiran, memori terciptanya Fried Chicken menunjukkan bahwa dunia akan lebih nyaman apabila kerjasama di atas perbedaan dijadikan landasan guna mengejewantahkan bangunan keadaban dengan menggunakan pendasaran-pendasaran pluralisme.

Kedua, Fried Chicken yang kita nikmati sekarang di gerai-gerai makanan cepat saji, dahulu tercipta dari situasi ketika hamba sahaya di Amerika diliputi kegetiran akibat dirampasnya Hak-hak dasar mereka. Ini merupakan sebuah keniscayaan yang tak bisa kita abaikan.

Kenyataan itu mengingatkan kita bahwa kenyamanan apapun yang kita rasakan dan makanan apapun yang kita nikmati bersama sanak famili maupun handai taulan, sesungguhnya mengandung komponen keringat, jerih payah, kerja keras, maupun penderitaan dari mereka-mereka yang kurang beruntung dan termarjinalkan.

Untuk itu, kita harus terus berusaha menebarkan pendar-pendar kemanusiaan dan mendorong terciptanya iklim filantropis pada lingkungan sekeliling dengan cara menumbuhkan kerelaan dalam hati sanubari kita untuk berbagi kasih karunia Tuhan, kepada mereka yang membutuhkan. Jangan sampai keegoisan dan keserakahan menutup mata dan telinga kita dari realita yang ada. Jika tidak, maka renyahnya Fried Chicken yang kita santap hanya sekedar menjadi pengganjal perut belaka, tak lebih dan tak kurang.