"Kok kamu mau sih jadi asisten bidan? Kan, jadi babu di sana!" ujar teman saya menggebu-gebu.

Saya kaget mendengar pernyataan teman saya itu, sangat membuat saya tersinggung. Tapi masalahnya tidak sesederhana yang dipikirkan teman saya.

***

Fresh graduate identik dengan anak muda yang punya etos kerja tinggi dan bersemangat memulai karier. Ya, anak kemarin sore yang baru lulus kuliah mencoba banyak peruntungan di dunia kerja.

Begitu pun dengan anak kesehatan. Berharap dapat tempat kerja yang bonafid, minimal rumah sakit pemerintah atau rumah sakit swasta yang bertaraf nasional.

Beberapa yang lain berpikir, "Ih, gengsi dong kerja jadi asisten. Apalagi kerja cuma di klinik kecil." Mirip seperti kata-kata teman saya tadi.

Sekitar 4 tahun yang lalu, saya termasuk fresh graduate yang baru lulus dari kuliah diploma tiga jurusan kebidanan. Jadi bidan tepatnya. Banyak orang berpikir jadi bidan itu enak. Lulus kuliah bisa buka praktik mandiri dan menghasilkan banyak uang. Apalagi tinggal di desa yang rata-rata pasiennya pasti memilih melahirkan di tempat praktik bidan.

Sayangnya semua itu hanya angan dan imajinasi di tahun 80 dan 90-an. Sebentar saya bisikin faktanya.

Dulu, lulusan bidan masih sedikit sedangkan masyarakat yang membutuhkan bidan banyak. Dari mulai daerah perkotaan hingga pedesaan semua butuh bidan. Saat ini justru kebalikannya.

Banyak lulusan bidan menganggur, tersebar di seluruh nusantara. Entah kurangnya pemerintah meratakan kebutuhan tenaga kerja atau memang terlalu banyaknya sekolah kesehatan yang tujuannya hanya mencetak sumber daya manusia saja.

Mengutip nasihat dosen kuliah saya dulu, "Kalau kalian tidak bisa bersaing, kalian akan tersisihkan. Ter-ve-ri-fer secara perlahan-lahan." Terverifer mirip seperti air di aquarium itu. Ini benar-benar saya rasakan setelah lulus kuliah.

Mengapa tidak membuka praktik mandiri saja di rumah?

Untuk membuka praktik bidan mandiri ada banyak persyaratan dan beberapa surat izin dari instansi terkait. Bisa dapat kerjaan dan digaji saja sudah syukur. Jadi, buanglah jauh-jauh bayangan bisa membuka praktik mandiri setelah lulus kuliah kebidanan.

Selanjutnya, jika ingin bekerja sekelas rumah sakit pemerintah, ada syarat-syarat wajib yang harus dimiliki mulai dari STR kesehatan atau surat izin bekerja yang didapatkan melalui ujian tulis, surat pengalaman bekerja, dan sertifikat-sertifikat pelatihan yang biayanya untuk satu pelatihannya saja bisa setara gaji UMR kota Surabaya.

Bayangkan, fresh graduate yang butuh kerja --belum-punya-penghasilan, diwajibkan keluar banyak biaya untuk ikut pelatihan. Tunggu dulu, itu hanya persyaratan yang tertulis. Ada persyaratan lagi yang tidak tertulis. Kalian juga harus punya kenalan orang dalam dan duit sogokan. Duh!

Sebutan orang dalam ini sudah tidak asing lagi, bukan, di telinga kita?

Teringat salah satu teman yang sedang magang di sebuah rumah sakit pemerintah bercerita kalau rumah sakitnya membuka lowongan BLUD tenaga kesehatan. Jelas dong saya sebagai sahabat terbaik, menyemangatinya mengikuti proses seleksi.

"Males juga ikut seleksi. Orang-orang di rumah sakit sudah hapal, nanti yang menduduki peringkat pertama pasti keponakan kepala ruangan. Disusul orang-orang yang sudah titip uang ke direktur rumah sakit," ujarnya.

Ternyata benar setelah hasil akhir seleksi itu diumumkan, tebakannya mengenai sasaran. Bukan hanya gosip atau asumsi saja. The power of orang dalam. Ckck

Saya cuma bisa gigit jari. Mau sampai kapan praktik KKN macam begini akan mati? Pekerjaan yang melibatkan urusan nyawa, begitu mudahnya digadaikan demi kepentingan kantong pribadi. Jadilah orang-orang yang terlatih tersisihkan. Padahal para pasien membutuhkan orang ahli bukan orang berduit tapi miskin keahlian.

Jadi, Dek, izinkan kakakmu mantan fresh graduate ini memberimu nasihat mainstream untukmu. Iya, kamu yang baru lulus!

Jangan gengsi bekerja apapun asalkan halal dan punya jenjang karir. Tidak apa-apa bekerja di klinik kecil. Tidak apa-apa sementara waktu bekerja di puskesmas meskipun gajinya ya seperti lirik lagunya Rossa, yang ku menangis.. membayangkan.. Kalian masih butuh banyak biaya untuk bisa bekerja di rumah sakit.

Tenang saja, masih ada rumah sakit yang memberikan kesempatan magang dan dibayar hanya untuk mengganti uang transport. Tapi, ada juga rumah sakit yang tidak membayar kalian sama sekali selama magang. Justru kalianlah yang harus membayar rumah sakit untuk biaya administrasi karena kalian sudah diijinkan bekerja di rumah sakit mereka.

Lupakan sejenak rasa malumu. Turunkan gengsimu dan bekerjalah.

Saya jadi teringat kutipan artikel sesembak yang mengatakan tenaga ahli rasa buruh. Benar adanya memang. Mungkin bahasa kasarnya bisa disebut tenaga ahli rasa babu bersertifikat. Tidak apa-apa bukankah tangga selalu dimulai dari bawah?

Ambil semua pengalaman yang ada. Anggap saja kerjaan yang kamu jalani saat ini adalah batu loncatan untuk kariermu selanjutnya. Bekerja ikhlas, dapat ilmu, dan dapat pengalaman. Kemudian menabung dan memilih karier yang lebih baik lagi.

Ada nyawa manusia yang harus kita tolong. Tingkatkan kemampuan dan keahlian. Sebisanya ikutilah pelatihan-pelatihan. Belajar dan terus belajarlah khususnya pada senior yang sudah ahli. Dih tahu sendiri kan senioritas kita kek mana? Cmiew.

Tidak semua senior itu kasar, galak, dan menyebalkan. Banyak senior yang mau membimbing junior-juniornya di rumah sakit maupun klinik.

Mereka akan mendampingimu ketika tangan grogimu memasang infus ke pasien pertama kali. Mereka akan mengacungkan jempol ketika kamu berhasil merawat luka diabetic pasien. Sesekali mungkin memuji ketika tanganmu sukses menolong ibu bersalin. Kemudian, kamulah yang akan lebih sering memegang pasien ketimbang mereka.

Lupakan kalimat-kalimat ini yang biasa kita dengar dari perawat atau bidan senior ketika masih kuliah dan praktik lapangan di rumah sakit dulu; "Dek, TTV pasien!"; "Dek, ganti verbed!"; "Dek, anter sampel darah ke lab!"; "Dek, cairan infus pasien bed 6, habis!"; "Dek, ayo nikah, Dek!" (Eh, kalau kalimat terakhir ini cuma delusi junior yang lelah bekerja.)

Ingin nekat bekerja ke luar negeri? Apalagi melihat senior-seniormu begitu enak bekerja dengan gaji berlipat dan bisa sekalian travelling. Boleh saja tapi tunggu dulu. Bekerja di luar negeri juga hampir mirip seperti bekerja di Indonesia. Bersyukurnya tidak ada praktik KKNdi sana. Kalian tidak butuh orang dalam lagi.

Bekerja di luar negeri memang menjanjikan. Tapi, kalian juga butuh berlatih bahasa asing dan surat pengalaman kerja yang lagi-lagi harus didapatkan dengan bekerja di Indonesia. Jangan tergiur dengan janji manis oknum agency mata duitan yang menjanjikan fresh graduate bisa langsung bekerja di luar negeri. Masih mending bermandikan permata di negeri sendiri lho daripada bermandikan emas di negeri orang.

Entah ini berkah atau musibah, dari pandemi virus corona ini akhirnya kita belajar bahwa keberadaanmu itu, lulusan kesehatan, masih dibutuhkan oleh siapapun. Meski terkadang sering dilupakan dan sering dianggap babu tapi tetap engkaulah yang terdepan memberikan pertolongan. Selamat bekerja teman sejawatku.