Penikmat kopi
1 tahun lalu · 865 view · 3 min baca · Politik 19851_57410.jpg
Sumber: tribunnews.com

Freeport dan Kudeta

Narasi Sejarah Freeport

Hubungan diplomatik Indonesia dan Amerikat Serikat selalu mengalami pasang-surut, dinamika yang telah terjadi sejak era Soekarno. Dalam buku 'Sewindu Dekat Bung Karno' terbitan Kepustakaan Populer Gramedia, ajudan bung Karno, Bambang Widjarnako, menuturkan bahwa Soekarno pernah marah besar pada Presiden negara adidaya tersebut. Soekarno marah karena Eisenhower tidak menghargai waktu dan dirinya.

Berbeda dengan Eisenhower, John F. Kennedy malah sebaliknya. Presiden Amerika Serikat yang meninggal ditembak (1963) itu berteman dekat dengan Soekarno. Melalui pertemanan mereka, Soekarno mendesak Amerika Serikat untuk menekan Belanda agar meninggalkan Irian Barat. Setelah Presiden ke-35 Amerika Serikat tersebut dibunuh, hubungan kedua negara kembali menegang.

Presiden John F. Kennedy menyetujui paket bantuan ekonomi (19 November 1963). Namun, setelah ia meninggal, penggantinya Johnson malah membatalkan. Belakangan diketahui Johnson memiliki hubungan dekat dengan salah satu direksi Freeport, Augustus C Long sekaligus pimpinan Caltex (joint venture dengan Standard Oil of California).

Kisah ketegangan Soekarno dan Caltex terjadi pada 1961 saat memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60% labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia.

Kisah mesra Indonesia dan Amerika Serikat kembali terjalin setelah Soekarno secara mengejutkan mengeluarkan Supersemar untuk Soeharto. Jalan sejarah berubah seketika itu juga. Soeharto melenggang menjadi Presiden Indonesia. Pada tahun 1967, pemerintah Indonesia mengesahkan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA).

Sebagaimana kita ketahui bersama, sejak itu Freeport melakukan eksploitasi emas di Irian Jaya (sekarang Papua). Kontrak karya tersebut ditandatangani Soeharto. Dan awal 1991, kontrak kembali diperbaharui untuk masa 30 tahun. Tahun 1998, Soeharto atas desakan mahasiswa dan rakyat Indonesia akhirnya mengundurkan diri. Hubungan Amerika Serikat dan Indonesia kembali diuji. 

Amerikat Serikat melalui sekutunya Australia menekan B.J. Habibie agar memberikan referendeum kepada Timor Leste. Dan pada 30 Agustus 1999, referendum dilaksanakan. Indonesia yang sedang krisis ekonomi harus menyerahkan nasibnya pada IMF. Utang pun tak bisa dihindari. Indonesia menjadi negara yang dipenuhi utang, jauh dari kata mandiri.

Presiden setelah B.J. Habibie, yang merupakan tokoh berani sekaligus kontroversial, adalah Gus Dur. Menurut Adie Mashardi (juru bicara), Gus Dur dilengserkan dari jabatan Presiden karena ingin renegosiasi kontrak karya Freeport.

Menurutnya, saat itu Menteri Luar Negeri Amerika Serikat yang kemudian menjadi Komisaris PT Freeport, Henry Kissinger, datang menemui Gus Dur di Istana. Tekanan terhadap Gus Dur tidak berhasil. Akhirnya, pada Juli 2001, Gus Dur dilengserkan melalui Sidang Istimewa (SI) MPR.

Pergantian Presiden di Indonesia ternyata selalu berdampak pada hubungan bilateral kedua negara. Masa Megawati memimpin, Indonesia membuka ruang kerja sama dengan negara-negara yang menjadi lawan politik USA. Megawati mulai membeli pesawat jenis Sukhoi dari Rusia dan kerja sama ekonomi dengan China. Hal itu tentu mengusik Amerika Serikat yang selama ini dominan terhadap Indonesia.

Pada pemilu 2004, Amerika Serikat tampaknya menemukan Presiden yang sesuai dengan keinginan mereka. Pasangan SBY mengalahkan Megawati, dan hubungan Indonesia-USA kembali membaik.

Embargo alat utama sistem senjata (alutsista) selama 10 tahun akhirnya dicabut (2005), belum setahun SBY menjabat Presiden. Embargo militer sebenarnya merugikan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat. Namun, di sisi lain, melemahkan pertahanan militer Indonesia. 

Kini, hubungan Indonesia-Amerika Serikat tampaknya kembali memburuk. Jokowi yang saat ini memiliki kebijakan luar negeri lebih dekat dengan Rusia dan China, sedikit mengganggu Amerika Serikat. Divestasi saham Freeport masih menjadi problem klasik yang belum terselesaikan hingga saat ini.

Selain itu, Jokowi nampaknya lebih mempercayai Rusia terkait alutsista dan China untuk infrastruktur. Hal itu berarti pemerintahan Jokowi saat ini sedang berhadapan dengan Amerika Serikat. Tak bisa dipungkiri, hal itu bisa berakibat pada posisi Jokowi saat ini.

Namun demikian, Jokowi memiliki dukungan dari dua negara kuat, dua negara yang awalnya diharapkan Soeharto dapat membantunya melepaskan diri dari dikte Amerika Serikat. Situasi ekonomi Amerika Serikat dan konflik Korea tampaknya menjadi kunci masih bertahannya Jokowi di posisi Presiden hingga saat ini.

Amerika Serikat sedang menghadapi krisis dalam negeri. Tingkat kepercayaan rakyat Amerika Serikat terhadap Donald Trumph sedikit membantu Indonesia. Selain itu, China mulai mengeratkan hubungan dengan Indonesia setelah sempat renggang selama 32 tahun di masa pemerintahan Orde Baru. Situasi ini tentu saja membuat Amerika Serikat harus berpikir panjang bila ingin melakukan dikte terhadap Jokowi.

Sikap Freeport yang tiba-tiba menolak proposal divestasi dan isu kebangkitan PKI seolah membuka lembaran sejarah bangsa ini. Soekarno yang ingin mengusir perusahaan asing dengan regulasi harus turun tahta. Koleganya, John F. Kennedy, harus menghembuskan nafas terakhir dan diganti Johnson yang saat kampanye didanai salah satu petinggi Caltex.

Apakah kisah tragis Soekarno akan dialami Jokowi? Mari saksikan dan jadilah pelaku sejarah.

Artikel Terkait