Beberapa bulan belakangan ini, saya benar-benar berhenti membaca media online maupun cetak. Terus terang, saya tidak lagi tahu situasi perpolitikan terkini, bahkan kegiatan menulis sempat terhenti.

Membaca media saya gantikan dengan menonton film. Barangkali bukan kegiatan produktif, namunbanyak cara menemukan inspirasi untuk sebuah tulisan. Dan menonton film adalah salah satunya.

Dari sekian banyak film dengan genre beragam, saya 'berjodoh' dengan salah satu film. Film ini sangat inspiratif, mengetuk keinginan untuk kembali menulis.

Film Freedom Writers mengisahkan seorang guru kreatif serta inspiratif. Kemajemukan yang ada di kelasnya dijadikan modal untuk kesuksesan. Erin Gruwell sukses menggunakan literasi sebagai 'senjata' pemersatu.

Nyaris setiap hari mereka bertarung dengan maut. Sekolah hanya tempat menghindari penjara bagi mereka. Meski sempat frustrasi, Erin akhirnya menemukan solusi cerdas.

Ia sukses meminta para siswanya untuk menulis. Melalui tulisan bebas, mereka dibolehkan menulis apa pun. Baik yang mereka rasakan, pikirkan, maupun peristiwa yang telah berlalu, semua boleh ditulis!

Saya jadi teringat dengan Qureta, media yang membolehkan siapa pun menulis tentang apa pun. Sehingga tidak wajar jika ada yang menuding media ini sebagai corong kelompok tertentu.

Para penuduh itu belum kenal baik dengan Qureta. Kalaupun sudah kenal, belum paham visi dan misi media ini.

Narasi ini bukan pembelaan, namun realitas. Jika kebencian terhadap Qureta begitu besar, saya sarankan tulis saja di tempat berbagi ide ini. Saya jamin, tulisan akan tetap diterbitkan, bahkan editor akan menganggapnya sebagai kritik membangun.

Budaya menulis dan adu argumen secara intelektual memang makin memudar. Lebih mudah memang menyerang melalui media sosial dengan dua-tiga kalimat provokatif. Itu contoh buruk, contoh kerdilnya wadah yang dimiliki seseorang.

Dalam film Freedom Writers, kita diajak bersuara melalui tulisan. Tentu saja tulisan inspiratif yang bernilai edukatif.

Situs Qureta juga demikian. Ada beragam tulisan yang dapat kita baca. Entah itu puisi, esai, politik, maupun sekadar menceritakan isi hati. Sebatas tidak mengandung unsur SARA, semua tulisan akan diterbitkan.

Barangkali tulisan yang mustahil diterbitkan adalah sindiran di media sosial. Maklum, tidak memenuhi syarat minimal 700 kata. Karenanya, ketimbang mencemooh Qureta di media sosial, silakan kirim naskah Anda.

Pengalaman saya mengatakan demikian. Tulisan saya tentang Aceh Merdeka sempat terbit di sebuah media sejenis Qureta. Sayang, hanya bertahan beberapa menit. Ada pula media yang takut menerbitkan, kebetulan redaksinya yang menyampaikan langsung.

Akhirnya saya bertemu Qureta di simpang putus asa, dan keesokan harinya tulisan itu terbit, Menggagas Aceh Merdeka. Pembacanya lumayan, setidaknya mengalahkan isu pilpres saat itu. Lalu, apakah kemudian Qureta berafiliasi dengan GAM? Kan, tidak?

Jika Anda teliti lagi, saat Pilkada Jakarta (2017) sedang memanas, kecenderungan media membela Ahok. Namun Qureta menyediakan porsi seimbang. Pendukung Anies dan Ahok diberikan wadah yang sama. Mereka bebas memuji pilihan masing-masing melalui media ini.

Ketika beberapa saat yang lalu Qureta mengadakan kegiatan yang didanai sebuah perusahaan, apakah berarti mereka kemudian menjadi corong perusahaan itu? Saya kira tidak. Kalaupun menjadi corong perusahaan tersebut, apakah penulis yang mengkritisi perusahaan tersebut melalui Qureta tidak akan terbit tulisannya?

Sebagaimana saya uraikan tadi, semua tulisan akan diterbitkan. Jadi, tidak perlu risau media ini berafiliasi dengan perusahaan atau kelompok tertentu. Jika tulisan Anda tidak diterbitkan dikarenakan mengkritisi seseorang atau bahkan Qureta sendiri, barulah Anda dapat menyimpulkan visi media ini.

Karenanya, saya menantang siapa pun yang benci Qureta untuk menulis di media ini. Silakan saja tuduh editor maupun pemilik media ini sebagai antek atau corong kapitalisme atau sebutan lainnya. Tentunya disertai data dan argumen, bukan caci maki belaka.

Hina saja Qureta dengan 700 kata yang berbeda melalui tulisan di media ini. Kalau hanya dua-tiga kalimat, anak sekolah dasar pun mampu melakukannya. Tradisi mengkritisi dengan tulisan panjang bahkan buku bukan hal baru dalam dunia intelektual.

Para pendahulu kita kerap melalukan itu. Sangat disayangkan apabila aktivis zaman ini hanya mampu berteriak di media sosial dengan satu-dua kalimat provokatif, namun tumpul dan tak mampu menulis dengan narasi yang indah. 

Dan Qureta, menurut saya, siap menampung tulisan Anda. Barangkali Anda frustrasi sangat sering tulisan Anda ditolak media online lain, cobalah di Qureta, siapa tahu tulisan Anda diterbitkan.

Nah, soal debat editor Qureta dengan pengguna media sosial yang mengkritisi Qureta, bagi saya, itu bukan tradisi intelektual. Keduanya ada salah dan ada benarnya. Saya berharap mereka berdebat panjang di Qureta, bukan di media sosial (Facebook).

Namun demikian, saya berterima kasih kepada keduanya, maupun pihak-pihak yang terlibat dalam debat kusir tersebut. Setidaknya tulisan ini akhirnya lahir dan mengakhiri 'jomblo' literasi yang selama ini mendiami semangat saya.

Jika Anda cinta Qureta, menulislah di Qureta. Jika Anda benci Qureta, menulislah di Qureta, kritik Qureta! Saya bukan karyawan Qureta atau pendiri Qureta. Tulisan ini murni dari pencinta literasi.

Berani menulis di Qureta?