Sebagai manusia, kita memiliki kehendak bebas yang juga dilindungi negara. Tapi faktanya, tak jarang kalau kehendak bebas itu dibatasi karena berkaitan dengan moralitas dan kebebasan sosial yang menyangkut orang lain. Bukan hanya itu, kadang kehendak bebas untuk berpikir saja sudah bercampur dengan aspek hukum, politik, agama, pasangan, kebijakan publik, dll.

Padahal ya sumber sejati dari kehendak bebas itu berawal dari pikiran. Ketika kita secara pikiran tidak merasa ‘bebas’, maka tindakan pun akan menyesuaikan kapasitas sesuai pikiran kita. Hal ini tidak jauh berbeda dengan sugesti dari kekuatan pikiran. Secara garis besar, beginilah kondisi ‘nilai manusia’ di manapun ia berada dan Negara asalnya. Hal inilah yang diungkap Sam Harris dalam bukunya ini yang berjudul “Free Will”. Menurut buku ini, kepercayaan akan datang secara bebas, ketika mampu mengubah cara berpikir dan menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang paling penting dalam hidup. 

Sering dikatakan bahwa pengalaman kita akan kehendak bebas memunculkan sebuah misteri yang menarik. Di satu sisi, kita tidak bisa memahaminya secara ilmiah; Di sisi lain, kita merasa bahwa kita adalah pengarang dari pikiran dan tindakan kita. Namun, saya pikir misteri ini adalah sebuah tanda dari kebingungan kita.

Kehendak bebas bukan hanya sekedar ilusi — pengalaman kita bukanlah semata-mata menghadirkan pandangan yang terdistorsi mengenai realitas. Sebaliknya, kita keliru tentang pengalaman kita. Kita tidak hanya tak sebebas seperti yang kita kira — kita juga tidak merasa sebebas yang kita kira. Perasaan kita akan kebebasan kita sendiri timbul akibat kita tidak memperhatikan dengan seksama seperti apa rasanya menjadi kita.

Ketika kita memperhatikan, adalah mungkin untuk menyadari bahwa kehendak bebas tidak dapat ditemukan, dan pengalaman kita sangat cocok dengan kebenaran ini. Angan dan Niat hanya muncul begitu saja dalam pikiran. Bisa apalagi mereka ?

Kebenaran tentang kita lebih aneh daripada yang dikira banyak orang. Ilusi kehendak bebas itu sendiri adalah sebuah ilusi.

Masalahnya bukan hanya bahwa kehendak bebas tidak masuk akal secara objektif (yakni, ketika pikiran dan tindakan kita dilihat dari sudut pandang orang ketiga); tapi ia juga tidak masuk akal secara subjektif. Sangat mungkin untuk memperhatikan hal ini melalui “Intropeksi”.

Bahkan, saya sekarang akan melakukan percobaan menggunakan kehendak bebas agar dapat dilihat oleh semua orang; Saya akan menulis apapun yang saya ingin pada tulisan ini. Apapun yang saya tulis, tentu saja menjadi sesuatu yang saya pilih untuk saya tulis. Tidak ada yang memaksa saya ketika melakukan ini. Tidak ada yang memilihkan Topik untuk saya atau meminta saya menggunakan kata tertentu. Saya bisa menyimpang dari tata bahasa jika saya mau. Dan jika saya ingin menulis “Kerang Ijo” dalam kalimat ini, saya bebas melakukannya.

Tetapi memperhatikan aliran kesadaran saya malah mengungkap bahwa gagasan kebebasan ini tidak terlalu dalam. Dari mana munculnya “Kerang Ijo” ini ? Mengapa saya tidak menulis “Lobster” dikalimat itu? Saya tidak tahu. Tentu saja saya bebas mengubah “Kerang Ijo” menjadi “Lobster”. Tetapi jika saya melakukan ini, bagaimana saya bisa menjelaskannya? Tidak mungkin bagi saya untuk mengetahui penyebab bagi keduanya. Entah karena saya didorong oleh hukum alam ataupun karena diterpa oleh angin kebetulan; tetapi keduanya tidak terlihat, atau terasa, seperti kebebasan. Kerang Ijo atau Lobster ? Apakah saya bebas memutuskan bahwa “Lobster” adalah kata yang lebih pas ketika saya tidak merasa bahwa itu adalah kata yang lebih pas?

Apakah saya bebas untuk mengubah pikiran saya? Tentu saja tidak. Pikiran saya yang bisa mengubah saya.

Apa yang membuat saya mempertimbangkan untuk mengakhiri hal ini? Tulisan ini harus berakhir kapan saja — dan sekarang saya ingin mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Apakah saya bebas menolak perasaan ini? Ya, dalam artian bahwa tidak ada yang memaksa saya dengan todongan senjata untuk makan — selain saya sedang lapar. Bisakah saya menahan perasaan ini lebih lama? Ya, Tentu saja — dan untuk beberapa waktu yang tak tentu setelahnya. Tetapi saya tidak tahu mengapa saya melakukan hal itu pada saat ini dan tidak pada saat lain. Dan mengapa upaya saya berhenti saat ia berhenti? Sekarang saya merasa sudah saatnya untuk pergi. Ya, saya lapar, tetapi tampaknya saya juga sudah menegaskan maksud saya. Bahkan, saya tidak bisa memikirkan hal lain lagi untuk dibicarakan.

Lantas, di mana kebebasan dalam hal itu ?

Menurut Fisika Modern, Free Will ini hanyalah ilusi, karena setiap aspek dalam kehidupan kita adalah resultan dari interaksi begitu banyak partikel elementer satu sama lain.The meaning of life, hanya bisa dijelaskan oleh Fisika.

Tetapi ingat, Mengatakan "Free Will hanyalah ilusi", ini juga sebenarnya sebuah pernyataan yg ilusif.


Terima kasih.


Referensi :

Harris, Sam. 2019. Free Will. Manado: CV. Global Indo Kreatif.