Penulis
1 minggu lalu · 119 view · 4 menit baca · Pendidikan 23049_63757.jpg

Free Cargo Literacy dan Transformasi Peradaban

"Kamu calon konglomerat ya, kamu harus rajin belajar dan membaca, jangan ditelan sendiri. Berbagilah dengan teman-teman yang tak dapat pendidikan”, Wiji Tukul.

Penggalan kalimat dari Wiji Tukul secara eksplisit mengggambarkan  dua hal. Pertama proses utama belajar adalah membaca. Kedua, internalisasi pengetahuan yang telah didapatkan dari belajar disebarluaskan kepada orang awam.

Kalau dilihat secara kontekstual kebangsaan, penggalan kalimat dari Wiji Tukul, bisa menjadi suatu arahan menyebarkan ilmu pengetahuan kepada seluruh masyarakat Indonesia. Mengingat masih banyaknya masyarakat yang belum mendapatkan hak pendidikan layak, terutama di daerah pelosok dan luar pulau.

Ketertinggalan pendidikan masyarakat daerah pelosok seharusnya menjadi kepedulian kita bersama. Pasalnya semua elemen dan fasilitas pendidikan masih memusat di Jawa. Perlu adanya kesadaran. Bagaimana mengentaskan masyarakat pelosok bisa mengakses pendidikan? Sekiranya faktor terbesar kesulitan pengaksesan pendidikan di pelosok karena minimnya fasilitas pendidikan seperti tersedianya sekolah formal, tenaga pendidik, materi dan buku-buku penunjang pembelajaran.

Untungnya perlahan muncul kesadaran masyarakat, tentang pendidikan dan keliterasian. Satu, dua, tiga mulai bermunculan sekolah-sekolah non formal baik sekolah berbasis alam atau sekolah dalam bentuk taman bacaan masyarakat (TBM). Kesadaran kolektif ini terjadi hampir serentak di penjuru tanah air. 

Keliterasian yang merupakan bagian dari proses pendidikan ini menjadi telaga yang menghilangkan dahaga pengetahuan para tunas-tunas bangsa di pelosok. Di sana (TBM) para pegiat aktif mengenalkan literasi dasar : membaca dan tulis menulis. Para pegiat mengarahkan mereka untuk gemar membaca buku.

Aspek baca dan tulis menjadi prioritas para pegiat, pasalnya keadaaan anak-anak pelosok rata-rata mengalami ketertinggalan pendidikan dibandingkan Jawa. Tidak jarang ditemukan anak yang seharusnya siswa kelas 6 sekolah dasar, di sana baru siswa kelas 1 dan baru belajar membaca. Demi kelancaran kegiatan di TBM, mereka sangat membutuhkan buku-buku penunjang pembelajaran.

Misi Pustaka Bergerak Indoensia (PBI)

Pustaka Bergerak Indonesia (PBI) merupakan komunitas/ organisasi para pegiat literasi yang aktif mengirimkan buku-buku bacaan, umum, sastra, pelajaran dan buku-buku lainnya ke TBM-TBM di pelosok negeri. Jejaring bersama PBI, memudahkan semua TBM yang terdaftar di PBI berhak mendapatkan kiriman buku-buku. 

Eksistensi PBI semakin gemilang ketika pada tahun 2017, Presiden Joko Widodo mengabulkan permohonan para pegiat literasi menggratiskan pengiriman buku-buku ke seluruh TBM terdaftar se-Indonesia. Presiden mengamanahkan wewenang ini kepada PT. Pos Indonesia melalui program Free Cargo Literacy  /Kargo Literasi Gratis.

Program Free Cargo Literacy (FCL) berlaku setiap tanggal 17 setiap bulannya. Program ini menjadi anugerah bagi TBM-TBM Tanah Air mendapatkan kiriman buku gratis dari para pegiat literasi. Banyak dan semakin lengkapnya koleksi buku-buku TBM-TBM di daerah, amunisi lengkap bagi para pegiat daerah meliterasikan masyarakat daerah terutama kalangan anak-anak.

Adanya TBM, pegiat literasi daerah dan buku-buku merupakan tiga elemen utama dalam proses meningkatkan kualitas keliterasian Indonesia. Tiga elemen itu memiliki peran penting sebagai transformasi pengetahuan, yang mampu mengarah pada tahap trasformasi peradaban. 

Di mana terjadi proses perubahan secara bertahap hingga tahap ultimate, meliputi unsur internal dan eksternal dalam bentuk yang sudah dikenal sebelumnya melalui proses menggandakan secara berulang-ulang atau melipatgandakan. Proses transformasi ini berdampak pada perubahan sosial dan kultural masyarakat ke arah peradaban yang lebih baik.

Tidak berebihan kita mengatakan, FCL berperan penting dalam mewujudkan tranformasi peradaban Indonesia. Kita sejenak melihat ke belakang peradaban Yunani Kuno, Mesopotamia, Cina, Mesir Kuno dan peradaban dunia lainnya, pilar utama peradaban itu terletak pada bahasa dan budaya. Aspek bahasa dan budaya mempunyai kaitan erat dengan keliterasian.

Seperti yang dirilis oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan melalui program Gerakan Literasi Nasional (GLN), Kemdikbud mengalakkan penguasaan enam literasi dasar, meliputi : literasi baca tulis, literasi digital, literasi numerik, literasi finansial, dan literasi budaya-kewargaan. 

Sementara dasar dari penguasan enam literasai dasar itu adalah literasi baca tulis. Logika pemikiran inilah yang melatarbelakangi para pegiat mengirimkan buku-buku ke TBM pelosok. Mereka berusaha keras menyalakan lilin-lilin pengetahuan pada masyarakat pedalaman.

Eksistensi FCL

Presiden Joko Widodo meresmikan program FCL pada Hari Buku Nasional 2017, selama kurang lebih 20 bulan program FCL berjalan. Sebagai program yang mengusung literasi nasional ini, FCL mengalami kendala. PT. Pos Indonesia selaku pihak penyalur mengalami kesulitan dalam anggaran pembiayaan program. Beberapa kali program pengiriman buku ditunda menjelang akhir tahun 2018.

Apa yang terjadi dengan FCL dengan PT. Pos agaknya menjadi sinyalmen lampu kuning keberlangsungan gerakan literasi nasional. Kabar terakhir, program FCL akhirnya diakuisisi oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Pengambil alihan ini dengan dikeluarkannya Surat Edaran Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Nomor 0009/G/BS/2019 tentang Program Pengiriman Buku dalam Pelaksanaan Gerakan Literasi Nasional.

Penerbitan surat edaran tersebut menjadi bumerang bagi pegiat literasi. Para pegiat merasa keberatan dengan poin-poin yang tertera dalam surat itu. Terutama poin mekanisme distribusi buku. Namun di balik itu ketakutan para pegiat mengenai keberlangsungan program FCL ke depan. 

FCL yang diambil alih Kemdikbud ini telah diintegrasikan dengan program GLN, sementara program GLN akan berakhir Desember 2019. Lantas FCL akan berakhir juga? Sementara kita sepakat sejak kemunculannya, program FCL yang digagas PBI berhasil meningkatkan gairah literasi daerah pelosok.

Kita berharap, persoalan mekanisme, administrasi bahkan kelengkapan internal dan eksternal FCL bisa diselesaikan dengan baik oleh kementrian, instansi, pegiat literasi dan semua elemen yang terkait. Adanya kendala yang muncul, tidak menyurutkan ghirah semua elemen bangsa turut bahu-membahu memperjuangkan FCL. Demi mewujudkan masyarakat literat Indonesia. Masyarakat yang mampu bersaing secara global dalam kancah kemajuan peradaban dunia. Aamiin semoga!!