Sastrawan
3 tahun lalu · 217 view · 6 menit baca · Wisata FBF-e1447108467419.jpg

Frankfurt Book Fair dan Indonesia

Kerja selesai, atau belum selesai?

Saya bersyukur -- tapi dengan sedikit melankoli -- Frankfurt Book Fair 2015 selesai. Saya bersyukur kehadiran Indonesia sebagai "negeri kehormatan" (Guest of Honour) berlangsung dengan cukup impresif, seperti banyak dikemukakan mereka (penerbit, media, pengarang, masyarakat luas) yang menyaksikannya.

Menjadi "tamu kehormatan" (seperti tampak dalam sejarah FBF selama sekitar setengah abad) merupakan status yang lazimnya tak akan berulang. Hanya sekali buat seumur hidup.

Komite Pelaksana yang saya pimpin sejak awal 2015, dengan tugas meng-"hadir"-kan Indonesia di arena itu, menyadari ini. Kami pun berusaha sekuat-kuatnya agar kesempatan yang sangat langka ini tidak sia-sia dan Indonesia tak malu di mata dunia.

Kami bekerja tiap hari, praktis 20 jam sehari. Teknologi komunikasi yang cepat dan kerap, ditambah dengan beda waktu antara Jakarta dan Frankfurt, menyebabkan kami terpaksa mengutang waktu tidur. Di atas semuanya, kami sadar waktu sangat pendek menuju ke hari-H.

***

Saya sendiri mula-mula skeptis. Ketika di tahun 2012 pertama kali saya diundang dalam pertemuan mendiskusikan kehadiran Indonesia sebagai "Guest of Honour" dalam pekan raya buku termashur itu, saya lebih banyak mendengarkan. Ada wakil penerbt besar yang agak mencemooh: bukankah kita ke Frankfurt umumnya hanya untuk membeli hak cipta pengarang asing? Apa yang akan kita tawarkan jika kita jadi "Guest of Honour?"

Pertanyaan itu masuk ke kepala saya meskipun di antara hadirin ada yang dengan berapi-api mengatakan bahwa RRT, Brazil, India, Korea sudah hadir di sana sebagaimana negara-negara Eropa; kenapa Indonesia tidak?

Sikap ragu saya berkembang ke arah sikap menolak ide itu. Terutama setelah di satu malam di tahun 2013 dalam sebuah pertemuan di Goethe Institute, Jakarta, saya mendengarkan paparan seorang diplomat Brazil yang menceritakan bagaimana negerinya mempersiapkan diri untuk jadi Guest of Honour. "Kami mulai tiga tahun sebelumnya", kata sang diplomat.

Lalu diproyeksikan bagaimana bagusnya Pavilyun Brazil: dinding terbangun dari kotak-kotak kardus putih, ruangan untuk ceramah, pembacaan sastra, dan pertunjukan, ruang untuk pengunjung bisa membaca sambil berbaring pada maca (bahasa Portugis untuk hammock) yang berayun-ayun, dan ruang untuk "menjelajah" daerah-daerah Brazil tempat asal para sastrawan -- dengan sepeda stationer tapi bila pedal dikayuh, di layar muncul gambar wilayah itu.

Belum lagi acara-acara di luar pavllyun, di luar wilayah Pameran (Messe), di tempat-tempat pertunjukan dan pameran di Frankfurt dan di luarnya. Untuk hadir sebagai "Guest of Honour" memang diharapkan membawa serta bukan saja buku, tapi juga pameran dan pertunjukan seni dan acara kuliner.

Malam itu saya sama sekali tak yakin, Indonesia -- yang tak punya waktu tiga tahun -- akan sanggup jadi "Guest of Honour".

Ketika itu pemerintah Indonesia belum menyatakan komitmennya kepada FBF, sementara tahun 2015 sudah dipatok untuk kehadiran kita. Bagaimana mungkin? Buat pekan raya buku yang terkenal itu sebanyak 300 jilid buku harus diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Sementara itu perlu waktu setahun buat menerjemahkan satu novel dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa lain (demikian perkiraan seorang teman) dan jumlah penerjemah dari Indonesia ke Jerman yang bagus tak akan lebih dari 10 orang.

***

Ide yang gagah berani itu -- buat menjadikan Indonesia "Guest of Honour" -- datang dari kalangan IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia). Pekan Raya Buku di Frankfurt yang setua 500 tahun itu, yang bermula sebagai ajang jual beli buku, memang arena para penerbit. Penyelenggaranya Börsenverein des Deutschen Buchhandels’, atau Asosiasi Pedagang Buku Jerman.

IKAPI ingin agar jika kehendak itu jadi, tahun yang dipilih 2015: Indonesia akan merayakan ulangtahunnya yang ke-70.

Tetapi IKAPI tentu tak mampu melaksanakan sendiri cita-cita itu. Pemerintah yang harus menanggung anggaran, sebagai proyek nasional, semacam kehadiran dalam Olimpiade atau jadi tuan rumah Asian Games. Waktu itu saya berpikir: jika pemerintah tak bersemangat, bagaimana impian akan terlaksana?

Keraguan saya bertambah karena tahun 2015 pemerintahan pasti akan ganti, mengingat Presiden SBY sudah dua kali masa jabatan.

"Serahkan saja kedudukan ini kepada Malaysia", saya katakan dengan keras. Seorang teman menyarankan agar tahun 2015 diundur jadi tahun 2016.

***

Tapi beberapa orang mendesak saya agar mendukung ide jadi "Guest of Honour". Kita tak bisa mundur, kata mereka, atau kemampuan Indonesia akan tak pernah dipercaya lagi di kancah internasional. Ini kesempatan sastra Indonesia dikenal dunia, kata yang lain.

Waktu berjalan makin mendesak, tapi belum juga ada tanda-tanda Pemerintah bergerak. Sampai dengan saat World Culture Forum November 2013, ketika saya menanyakan hal ini kepada seorang pejabat tinggi Kementerian P & K, saya hanya diberi tahu bahwa semuanya sedang "dalam proses". Dari sikapnya saya tak melihat antusiasme.

Seorang penerbit meminta saya agar mengemukakan hal yang urgen ini kepada Wakil Presiden Boediono. Saya pun datang ke orang No.2 ini.

Wakil Presiden Boediono, seorang gurubesar, dengan segera memahami pentingnya posisi Indonesia sebagai Tamu Kehormatan dalam Pekan Buku Internasional yang prestisius itu. Berkat dialah mulai ada gerak lebih cepat. Apalagi dukungan lain datang dari mantan Presiden B.J. Habibie -- yang kemudian menghubungi Presiden SBY.

Akhirnya MoU ditandatangani Pemerintah Indonesia. Börsenverein des Deutschen Buchhandels’,(BDB) lega, karena ada kepastian. Meskipun saya tahu mereka masih ragu, sejauh mana Indonesia akan mampu melaksanakannya.

Awal 2014, saya mendapat undangan ke kantor Wapres. Komite Nasional untuk "Guest of Honour" FBF 2015 akan dibentuk. Ketika saya datang -- sedikit terlambat -- saya melihat bahwa Komite Nasional itu dibentuk dengan komposisi yang berat ke atas, "Berat" dalam arti: semua menteri kabinet disertakan sebagai "Steering Committee". Kemudian, ada nama saya.

Saya segera mengatakan, di depan rapat besar yang dihadiri hampir semua pejabat tinggi P & K itu bahwa saya tidak bersedia masuk ke dalam Komite. Saya "keder bekerja dengan para menteri," kata saya.

Respons dari kantor Wapres cepat. Saran dari sini: Memang sebaiknya para Menteri tak perlu disertakan, sebab mereka toh sibuk. Lima menit kemudian kan mereka toh akan lupa bahwa mereka anggota Komite, kata seorang pejabat dari kantor Wapres. Bentuk saja Komite Nasional dengan para profesional.

Pesan ini langsung diterima Menteri P & K Muhammad Nuh. Formasi Komite segera disusun lagi. Lepas tengah hari saya dapat telepon dari Wakil Menteri Kebudayaan, Ibu Wiendu Nursanti, bahwa komite nasional baru akan dibentuk dan saya diajak serta.

Kali ini saya tak dapat menolak: sebab usul saya tadi sudah dipenuhi. Tapi saya menerima dengan syarat: saya tak mau duduk dalam bagian yang mengurus buku. Saya akan mengurus program-program lain di luar buku, misalnya acara pameran dan pertunjukan. Alasan saya: saya pengarang juga, dan saya tak mau terjadi "confllct of interest" jika saya yang menentukan pilihan buku yang akan diterjemahkan dan dipamerkan.

Usul saya dipenuhi. Ibu Wiendu memang enerji yang mendorong Komite bekerja -- dan bekerja cepat. Soalnya yang dihadapi proyek-proyek yang cukup membuat jeri.

Pertama: sebelum tampil sebagai "Guest of Honour" di tahun 2015, Indonesia harus tampil dalam skala yang lebih besar di FBF di bulan Oktober tahun 2014. Kedua: Di bulan Mei 2015, Indonesia juga harus ikut dalam Leipzig Book Fair, sebagai "promosi" untuk Oktober. Setelah Leipzig, Pameran Buku Anak-anak di Bologna, Italia. Segera setelah itu Pameran Buku London.

Dengan cukup susah payah, Komite Nasional dan Kementerian berhasil hadir di FBF 2014. Stand nasional Indonesia di Pekan Raya Buku itu, yang lazimnya dari tahun ke tahun sangat bersahaja, tahun itu dibuat jadi seluas 200 M2. Untuk itu ruangan disewa dan konstruksi dibangun dengan arsitektur yang lebih serius.. Budget Rp 800 juta.

Yang menyulitkan: buat FBF 2014 itu, tidak ada anggaran khusus dari Kementerian. Semua diambil dari budget rutin. Di sana-sini ini tentu saja menimbulkan "konflik" dengan penanggungjawab anggaran. Maka semua anggota Komite bekerja tanpa honorarium sama sekali. Tapi di bawah Sesjen Ainun Na'im, dan kepemimpinan Komite Agus Maryono, yang tekun dan sabar, target utama tercapai. Tak boleh dilupakan kerja keras seorang pejabat Kementerian, Hawignyo. Hawignyo pula yang mensupervisi dengan baik pembangunan stand.

Acara juga disiapkan. Proyek penerjemahan buku dimulai. Dirancang pula pertunjukan kecil dan acara kuliner, antara lain sebuah gala dinner. Semua itu buat memaklumkan ke dunia buku internasional bahwa Indonesia siap tampil sebagai Guest of Honour di tahun berikutnya.

Juga dalam penutupan FBF tahun itu, Indonesia harus hadir dalam acara timbang-terima (Hands-over Ceremony), dan dengan atraksi yang menarik.

Kami pun mendatangkan penulis terkenal, Dewi Lestari, yang kami pilih untuk berbicara sebagai wakil sastra Indonesia dalam acara itu. Dengan catatan: tapi kami tak membayar honor sepeserpun kepadanya. Juga kami tak membayar honor Penyanyi Endah Laras dan Ayu Laksmi buat acara pertunjukan. Slamet Rahardjo melengkapi acara itu dengan sebuah film yang dibuatnya, dengan beaya sendiri.

Tak ada anggaran untuk itu. Semua rela: Indonesia harus tampil bagus.

 

Bersambung di tulisan ini.