Siapa pun yang mengendalikan media akan menguasai pikiran masyarakat.” Itulah kalimat yang sering kita dengar bagaimana power media yang sangat besar mampu mengubah dunia.

Saat ini, manipulasi informasi tidak lepas dari peran propaganda. Biasanya dikendalikan oleh elite-elite politik.

Secara sederhana, framing adalah membingkai sebuah peristiwa. Dengan kata lain, framing digunakan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan wartawan atau media massa ketika menyeleksi isu dan menulis berita.

Framing merupakan metode penyajian realitas di mana kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan dibelokkan secara halus, dengan memberikan penonjolan pada aspek tertentu. Penonjolan aspek-aspek tertentu dari isu berkaitan dengan penulisan fakta. 

Ketika aspek tertentu dari suatu peristiwa dipilih, bagaimana aspek tersebut ditulis. Hal ini sangat berkaitan dengan pamakaian diksi atau kata, kalimat, gambar atau foto, dan citra tertentu untuk ditampilkan kepada khalayak.

Pembingkaian tersebut merupakan proses konstruksi, yang berarti realitas dimaknai dan direkonstruksi dengan cara dan makna tertentu. Akibatnya, hanya bagian tertentu saja yang lebih bermakna, lebih diperhatikan, dianggap penting, dan lebih mengena dalam pikiran khalayak. 

Framing media akan peristiwa atau fakta tertentu akan memperlihatkan secara jelas arah kebijakan politis media tersebut. Framing media memperlihatkan secara jelas teks berita yang dihasilkan media tersebut.

Propaganda media adalah serangkaian teknik manipulasi di mana partisan menciptakan citra atau argumen yang mendukung ideologi mereka. Teknik ini umumnya terkait dengan kesalahan logika, manipulasi psikologis, penipuan langsung atau tidak langsung, teknik retoris dan propaganda, dan sering melibatkan eksploitasi informasi atau sudut pandang pribadi, dengan mendorong orang lain atau kelompok untuk tidak fokus ke suatu hal dengan mengalihkan perhatian ke hal lain.

Ruang media memiliki banyak sarana untuk menyebarkan propaganda, seperti blog, media berita, dan jejaring sosial Facebook, Twitter, atau WhatsApp. Manipulasi media menciptakan propaganda untuk mengganggu pikiran, dengan asumsi bahwa publik sangat rentan terpengaruh.

Aktivitasnya menciptakan doktrin dengan penekanan secara tersirat maupun tersurat, terutama mendukung atau menentang dengan satu sisi dari kasus yang sedang terjadi. Bala tentara cyber dikerahkan secara masif dan terorganisasi, bergerak memengaruhi publik dan mengubah pandangan ke arah yang sudah disediakan.

Teknik ini biasanya dimulai oleh individu yang berpengaruh (artis media sosial), tetapi bergerak secara kolektif melalui gerakan sosial yang melibatkan pengikutnya dengan jumlah besar. Individu ini menciptakan manipulasi opini publik. Pengikutnya, tanpa berpikir panjang, langsung mengamini dan menyebarkannya.

Tidak heran jika saat ini pengguna media sosial begitu mudahnya dibenturkan, seolah mereka adalah prajurit yang tengah berperang, diberikan pilihan ‘membunuh’ atau ‘dibunuh’ – karakter lawan harus dihancurkan dengan berbagai cara, tanpa peduli moralitas.

Selain itu, outlet berita online mainstream ikut dilibatkan sebagai senjata pamungkas, menggunakan teknik framing – membingkai sebuah peristiwa dengan cara pandang yang digunakan wartawan atau media massa ketika menyeleksi isu dan menulis berita. 

Metode framing disajikan sesuai realitas di mana kebenarannya tidak bisa dipungkiri, tetapi dibelokkan secara halus, dengan memberikan penonjolan pada aspek tertentu dan menyembunyikan beberapa fakta yang bisa merugikan.

Framing digambarkan sebagai sebuah fakta: seseorang yang sedang dikejar-kejar oleh orang lain yang membawa pisau. Namun karena kamera menangkap dengan angle tertentu, gambar yang sampai ke pemirsa menjadi sebaliknya. Si terancam menjadi pengancam; korban menjadi pelaku. Itulah kira-kira yang kini sedang banyak terjadi.

Gambaran fakta lainya adalah seorang laki-laki melihat seekor harimau menyerang seorang wanita. Sontak laki-laki itu pun menyerang harimau tersebut hingga mati. Hari berikutnya media menulis, "Pahlawan Amerika menyelamatkan seorang gadis dari serangan harimau."

Laki-laki tersebut meralat, "Saya bukan orang Amerika." Hari berikutnya media menulis, "Pahlawan asing menyelamatkan seorang gadis Amerika dari serangan harimau." Laki-laki tersebut berkata, "Sebenarnya saya seorang Muslim."

Hari berikutnya.. Breaking News; "Seorang teroris menyerang seekor harimau yang tidak bersalah ketika sedang bermain dengan seorang wanita."

Gambaran di atas merupakan bentuk framing media di Indonesia sekarang ini. Media menggunakan bahasa hiperbola untuk membesar-besarkan fakta.

Lihatlah fakta pemberitaan media seputar insiden penikaman Wiranto di banten. Begitu hebohnya sampai lupa akan peristiwa tragedi kemanusiaan Wamena yang menelan banyak korban yang nyaris tidak diberikatan media sebagaimana layaknya mereka memberitakan peristiwa dan fakta insiden “Wiranto”.

Dalam banyak kasus, fakta dan peristiwa, media mainstream cenderung memilih angle menyudutkan golongan tertentu. Mereka bisa berargumentasi menganut jargon “Bila anjing menggigit manusia, itu bukan berita. Tapi bila manusia menggigit anjing. Itu baru berita.”

Jadi kalau wanita cerai, itu biasa bukan berita. Sebaliknya, kalau wanita bercadar cerai, itu baru berita, dan menonjolkan unsur cadarnya.

Artis bercadar cerai, yang diserang cadarnya. Wanita berjilbab jual vaksin palsu, yang diserang jilbabnya.  Pengedar narkoba berpeci putih, yang diserang pecinya. Perampok bersorban, yang diserang sorbannya. Pelaku kriminal berjenggot dan jidatnya hitam, yang diserang jenggot dan jidat hitamnya. Tragedi kerusuhan Wamena, yang diserang IISI dan kaum radikal Papua.

Anggota Ormas Islam bersalah, yang diserang Ormas Islamnya. Hafizh Quran diduga terlibat korupsi, yang diserang Qurannya. Dan lain sebagainya. Semua yang berhubungan dengan golongan tertentu harus diserang, Sedang semua yang di luar dari golongan tersebut harus digadang.

Inilah yang sedang sedang terjadi pada media kita, terutama media-media mainstream milik para taipan media. Mereka membingkai sebuah peristiwa sesuai dengan cara pandang atau kepentingan politik tertentu.

Bisa saja hal itu merupakan sikap politik wartawan secara pribadi, sikap pemilik media, atau titipan pihak tertentu. Titipan itu bisa langsung dari pemilik ke para pemimpin redaksi, editor. Atau jalurnya langsung ke wartawan di lapangan.

Framing bukanlah kebohongan. Namun mereka mencoba membelokkan fakta secara halus. Caranya dengan memilih angle (sudut pandang) yang berbeda. 

Framing dilakukan dengan cara menyeleksi berita mana yang mereka pilih, mana yang tidak. Menonjolkan unsur tertentu, menambahkan kata, bunyi, atau gambar tertentu. Tujuannya meniadakan, atau setidaknya mengaburkan informasi sebenarnya. 

Sampai-sampai ada sebuah stasiun televisi yang banyak dimusuhi karena kebijakan redaksi. Mereka sering disebut memelintir berita. Bergabungnya sejumlah pemilik media ke kubu Jokowi pada pilpres lalu makin menunjukkan adanya kecenderungan kuat media membuat agenda setting dan framing berita sampai sekarang ini makin masif dan makin terstruktur.

Manipulasi informasi terkait erat dengan propaganda yang berorientasi ideologi dalam mempertahankan kontrol atas populasi mereka. Propaganda modern mengadopsi metode-metode yang makin canggih untuk memengaruhi opini publik dan membentuk narasi-narasi politik.

Penerapannya dengan cara membatasi ruang untuk media independen, merasuki internet dan media sosial, mensponsori aktor-aktor yang bekerja memanipulasi opini publik, mengerahkan pasukan cyber, membentuk tim untuk menyerang lawan dan counter attacks saat mendapatkan serangan, dan menerapkan sistem otokrat untuk mengendalikan ruang berita.

Bergerak secara profesional dengan sumber daya besar merasuki ruang berita dan opini publik dengan tujuan mendorong agenda politik. Hal ini berdampak pada hubungan masyarakat. Setiap orang akan didorong untuk terlibat dalam perang opini, dengan mengusung kebencian dan permusuhan.

Sejatinya kedamaian bukan tidak adanya perang, tetapi tidak adanya kebencian. Kedua belah pihak yang berseteru saling menciptakan propaganda dan manipulasi opini publik sebagai senjata, membungkusnya secara apik dengan sampul retorika. Manipulasi media merupakan teknik frasa yang menyamar sebagai proyeksi kebenaran untuk menyembunyikan makna dan maksud yang sebenarnya.

Taktik ‘Smear’ sering digunakan untuk mendiskreditkan, menodai atau menghancurkan reputasi lawan. Ini adalah teknik kuno yang masih digunakan hingga saat ini karena dianggap sangat efektif, melibatkan kebohongan atau distorsi kebenaran, dengan meningkatkan popularitas di jejaring sosial dan mesin pencarian internet seperti Google.

Reputasi lawan dihancurkan dengan cara “viralkan” dan “bagikan” hingga menjadi berita utama. Ini adalah manuver cukup mudah bagi mereka dengan dukungan sumber daya besar, menggerakkan aktor-aktor, menciptakan website, dan mengendalikan media massa, yang akhirnya berada di puncak teratas ruang berita.

Dalam sejarah propaganda tidak lepas dari peran berita palsu dengan tujuan untuk menipu dan mengakali. Ini adalah bentuk penyesatan publik.

Aspek umum dari hoaks adalah, semua itu dimaksudkan untuk berbohong dan menipu. Agar bisa menjadi tipuan, kebohongan harus memiliki sesuatu yang lebih banyak untuk ditawarkan. Itu harus berlebihan, dramatis, dan, yang terpenting, harus cerdik agar bisa dipercaya.

Sejatinya penggunaan kata “hoaks” tidak bisa digunakan untuk semua jenis kebohongan atau tipuan. Kata kunci dalam definisinya adalah “publik”. Tidak ada yang namanya tipuan pribadi, pastinya tipuan publik. Sebuah kebohongan naik ke tingkat tipuan dengan cara mendapatkan ketenaran publik – menjadi viral dan dibagikan secara luas hingga banyak dipercaya.

Propaganda adalah bentuk komunikasi dengan target untuk memengaruhi sikap publik terhadap beberapa hal atau posisi dengan hanya menyajikan dari satu sisi argumen. Propaganda umumnya diciptakan oleh pemerintah. Tetapi kekuatan besar oposisi tidak menutup kemungkinan ikut menciptakan propaganda sebagai perlawanan, biasanya bertujuan membenamkan elektabilitas pemerintah.

Dalam arti yang paling mendasar, propaganda menyajikan informasi untuk memengaruhi publik. Propaganda dalam arti aslinya adalah netral, dan bisa merujuk pada penggunaan yang pada umumnya tidak berbahaya, seperti rekomendasi kesehatan masyarakat, mendorong warga untuk berpartisipasi dalam sensus atau pemilihan, atau pesan yang mendorong masyarakat untuk melaporkan kejahatan ke polisi.

Seiring waktu, makna propaganda keluar dari jalur, tercemar limbah politik hingga bermakna negatif. Pada abad ke-20, istilah propaganda dikaitkan dengan pendekatan manipulatif, tetapi propaganda secara historis adalah istilah netral untuk penelitian deskriptif.

Secara bahasa, arti propaganda adalah menyebarkan atau menyebarluaskan, awalnya bermakna positif. Kata “propaganda” aslinya berasal dari badan administrasi baru Gereja Katolik (jemaat) yang dibentuk pada tahun 1622, yang disebut Congregatio de Propaganda Fide (Kongres Untuk Menyebarkan Iman). Kegiatannya menyebarkan iman Katolik ke negara-negara non-Katolik.

Sejak tahun 1790-an, istilah itu mulai digunakan untuk merujuk pada propaganda dalam kegiatan-kegiatan sekuler. Istilah ini mulai mendapat konotasi yang buruk atau negatif pada pertengahan abad ke-19, ketika digunakan dalam lingkup politik. Propaganda ini digunakan dalam skala besar dan terorganisasi pertama kali disebabkan oleh pecahnya Perang Dunia I.

Kekalahan Jerman atas Inggris di Perang Dunia Pertama tidak lepas dari peran propaganda yang dilancarkan Inggris, meruntuhkan semangat pasukan Jerman. Dalam Mein Kampf (buku yang dianggap paling berbahaya di dunia), Hitler menjelaskan teorinya tentang propaganda:

“Hitler … tidak membatasi apa yang bisa dilakukan oleh propaganda; orang akan percaya apa pun, asalkan mereka diberitahu itu sangat sering dan cukup tegas, dan oposisi akan dibungkam dan tertahan dalam kesedihan.”

Mengidentifikasi propaganda tidak mudah dan selalu terkendala masalah. Kesulitan utamanya adalah membedakan propaganda dan jenis persuasi lainnya, terutama menghindari pendekatan yang bias.

Propaganda berusaha mengubah cara pandang orang memahami suatu masalah atau situasi untuk tujuan mengubah tindakan dan harapan mereka dengan cara yang diinginkan oleh kelompok kepentingan.

Manipulasi media adalah senjata propaganda modern dalam memengaruhi publik, umumnya digunakan dalam ranah politik untuk memikat pemilih, menggunakan retorika, manipulasi opini publik, berita palsu (hoaks), iklan, aktivisme, perang psikologis, public relations (PR), atau framing media massa.

Aktivitasnya menggunakan teknik astroturfing (strategi kampanye atau promosi terselubung), clickbait (digunakan oleh outlet berita), gangguan (pengalihan isu), troll (mengalihkan perhatian hingga keluar dari konteks pembahasan), ad populum (menyesatkan pikiran), manipulasi opini publik (diciptakan oleh aktor-aktor politik), dan teknik lainnya yang digerakan secara terorganisasi.

Dalam hal apa pun, manipulasi media adalah teknik kotor menghalalkan segala cara dalam meraih ambisi kekuasaan ataupun uang. Masyarakat dijadikan target sekaligus senjata digiring untuk saling membunuh (cyber war). 

Semua pihak tidak menutup kemungkinan menggunakan teknik ini. Alih-alih mewujudkan masyarakat yang aman dan tenteram, mereka secara terbuka menciptakan medan perang dengan menghembuskan aura kebencian.

Inilah cara yang dilakukan media kita, terutama media-media mainstream. Oleh karena itu, jadilah pembaca yang cermat dan teliti dalam menelaah informasi atau berita yang kita terima. Tugas kita adalah membangun dan mengembangkan keterampilan literasi media guna membungkam agenda setting dan framing media.