Kasus penghentian pemutaran film yang tengah tayang oleh FPI cukup memberikan kesimpulan bahwa FPI perlu belajar menulis resensi film yang paripurna. Artinya, sudah saatnya FPI beralih metode dakwahnya yang cenderung dengan kekasaran pragmatis ke arah yang lebih elegan dan santun. 

Pemutaran film Kucumbu Tubuh Indahku yang digagas Klub Nonton Lampung di gedung Dewan Kesenian Lampung (DKL) di kawasan PKOR Way Halim, Bandar Lampung, Selasa, 12 November 2019, dibubarkan paksa oleh belasan massa dari FPI Bandar Lampung.

Mata melotot dan megafon bukanlah pisau bedah resensi film yang santun dan bermoral. Saatnya FPI mengganti gaya penghakiman di tempat dengan cara yang lebih berakhlak dan menjunjung tinggi kebebasan seni dan film.  

Mari beranalogi, kitab suci Alquran yang dijunjung tinggi oleh FPI merupakan firman Allah yang menggunakan piranti kultural Bahasa Arab dalam rangka merespons suatu kasus yang terjadi di Arab waktu itu.

Penggunaan piranti tersebut untuk memudahkan masyarakat Arab sebagai komunitas pengguna Bahasa Arab dalam melakukan interpretasi terhadap pesan-pesan moral Alquran.

Dengan demikian, posisi Alquran merupakan media komunikasi alam rangka merespons kasus yang terjadi dalam konteks lokal insidental komunitas Makkah dan Madinah saat itu.

Begitupun untuk memahami sebuah film, beberapa piranti dibutuhkan untuk membuat resensinya. Dengan pisau kupas yang berupa resensi film, maka diharapkan untuk dapat memperoleh pesan-pesan moralnya.

Sebuah film baru bisa ditelanjangi setelah melewati beberapa proses. Yang pasti, tonton dulu sampai habis. Kalau perlu ulangi sampai mata belekan. Kemudian baru buat resensinya. Baru kemudian boleh berkoar tentang film tersebut.

Bagaimana bisa menyimpulkan film tersebut ini dan itu kalau tidak ada proses kupasan yang komprehensif seperti alur di atas?

Akan lebih mentereng jika ada bagian dari FPI yang fokus pada “penghakiman” film-film, baik dalam negeri ataupun film asing. Kemudian bagian "penghakiman" dari FPI itu membuat resensinya sekaligus menyimpulkannya. Baru kemudian diunggah dalam bentuk resensi ke media sosial atau bentuk apa pun. Itu baru gentle.

Biarkan masyarakat yang menilai resensi film badan "penghakiman" FPI tersebut. Bisa, gak?

Janganlah membiasakan diri untuk mencegat sebuah karya seni dengan ujaran-ujaran verbalis yang menakutkan dan ancaman-ancaman yang tidak menenteramkan jiwa.

Dengan resensi film yang dilengkapi perangkat-perangkat sekunder atau beberapa pisau bedah akan lebih santun dan terhormat dalam membongkar lapisan-lapisan pesan yang terendap dalam film itu sendiri.

Film adalah gambar bergerak yang dua dimensi (kadang tiga dimensi) yang menceritakan sebuah tema. Sebagaimana rangkaian-rangkaian kejadian yang ternarasikan di dalam Alquran, merupakan tema-tema yang bisa diambil hikmahnya.

Seperti halnya kisah-kisah di dalam Alquran, tema-tema sebuah film adalah tidak tertumpah dalam ruang kosong (vacuum cultural). Akan tetapi, ia mempunyai hubungan dialektis dengan realitas sosial-budaya, yaitu berinteraksi, bernegosiasi, dan berdialog dengan kondisi sosial masyarakat.

Artinya, kondisi sosial, geografis dan psikologi masyarakat merupakan pertimbangan menarik yang dapat diangkat menjadi tema-tema film sebagai alternatif pembelajaran hidup.  

Pencapaian makna-makna kehidupan itu tidak cukup berdasarkan pembacaan-pembacaan kitab suci saja. Tetapi, perlu dikembangkan pada cara lain yang lebih kreatif dengan analisa kelas, struktur sosial dan budaya yang melatari kehadiran teks-teks suci tersebut. 

Salah satu ushanya adalah pengembangan lewat tema-tema dalam film. Film adalah media yang efektif untuk memberikan pengaruh kepada masyarakat. Ini adalah peluang yang baik bagi pelaku dakwah ataupun pihak lain.

Film adalah tontonan yang menghibur. Dengan kreativitas, kita bisa memasukkan pesan-pesan dakwah ataupun pesan kehidupan lainnya pada tontonan tersebut.

Film merupakan medium komunikasi yang ampuh; bukan saja untuk hiburan, tetapi juga untuk penerangan dan pendidikan. Untuk itu, kritik film dapat dilakukan dengan cara santun dan ilmiah dengan jalan resensi, dan bukan sebaliknya dengan cara-cara barbar.

Kegiatan resensi akan memberikan informasi atau pemahaman yang komprehensif tentang apa yang tampak dan terungkap dalam sebuah film.

Resensi film akan mengajak pemirsa untuk lebih memikirkan, merenungkan, dan mendiskusikan lebih jauh fenomena atau problema yang muncul dalam tema film tersebut.

Kritik lewat resensi juga akan memberikan pertimbangan kepada pemirsa apakah film tersebut pantas mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak.

Apalagi film Kucumbu Tubuh Indahku karya dari Garin Nugroho ini identik dengan kualitas. Baik dari sisi bahasa, gambar, dialog, makna, serta gaya tuturnya pastilah eksentrik.

Artinya, perlu usaha lebih untuk dimengerti. Dengan adanya keeksentrikan ini jelas akan menghasilkan konsekuensi. Ada yang orgasme, ada yang bingung, ada yang bertanya balik, dan ada pula yang main cegat dan membubarkan seperti FPI itu.