Sejak semingguan yang lalu, sebuah poster beredar di semua WhatsApp Group (WAG) yang saya ikuti. Isinya foto Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Di sampingnya tercantum informasi tentang sebuah seminar pendidikan yang akan diadakan bulan depan di Bandung.

Tak ada informasi tentang seminar itu di websites terkait seperti fanpage Nadiem, IG, FB, serta website Kemdikbud. Saya pikir kalau seorang menteri jadi pembicara di hari Sabtu, bisa saja beliau datang bukan dalam kapasitasnya sebagai pejabat. Jadi, wajar kalau informasi itu tidak ada di websites resmi.

Saya baru tadi malam menerima poster beresolusi tinggi. Sebelumnya, selama semingguan, poster yang beredar walau di-zoomin tulisannya tetap tidak jelas. Karena poster adalah bentuk komunikasi visual, saya dan sebagian besar teman menganggap Mas Menteri akan datang.

Wajar, kan? Informasi terpenting dalam sebuah gambar disampaikan lewat hal yang paling menyita perhatian, dalam konteks ini: Foto Mendikbud. Ukurannya segede gaban begitu, hampir 50-an persen halaman poster.

Dalam informasi tertulis yang dikirim sesudah poster (tidak semua WAG punya info ini), kalimat pembuka dengan sangat kuat menggiring pembaca untuk berkesimpulan bahwa Mendikbud akan datang: 

Menteri Nadiem Menunggu Suara Guru. Bapak/Ibu Guru dan praktisi pendidikan lainnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menunggu masukan otentik para guru untuk merumuskan masa depan pendidikan Indonesia. Karena itu, kami mengundang Bapak/Ibu untuk…dan seterusnya.

Beberapa teman menanyakan kesahihan acara itu, dan saya mengirim poster tersebut kepada panitia, "Nggak ada Nadiem?" Mereka lalu mengirimkan poster seminar yang BUKAN bergambar Nadiem, tapi tidak berkomentar apa-apa tentang poster yang bergambar Nadiem. Poster yang mereka kirim itu tak pernah beredar di WAG-WAG yang saya ikuti.

“Jadi hoaks, ya? Nggak ada Nadiem?”

- Tidak hoaks. Sejak awal juga tidak menyatakan bakal ada menteri. Hubungi saja nomor di bawah -

“OK. Terima kasih, ya.”

- Terima kasih cuma bertanya - (Saya bingung saat baca ini tapi saya malas tanya kenapa komentarnya unik begini.)

“Iya, Pak/Bu.”

Saya lalu bertanya lewat nomor yang ada di poster, tapi tidak dijawab. Mengecewakan. Institusi atau komunitas pendidikan semestinya menjadi bagian dari upaya peningkatan berpikir kritis terhadap informasi yang beredar, bukan menjadi sumber penyebaran informasi yang berpotensi memperdaya masyarakat.

***

Pendidikan Indonesia carut-marut karena jumlah orang yang hidup dari dunia pendidikan lebih banyak daripada jumlah orang yang menghidupi dunia pendidikan.

Untuk tahu kepribadian seseorang, biasakan diri kita untuk mengamati small gestures-nya. Misalnya, lihat cara mereka bicara dengan sopirnya. Untuk tahu kualitas atau ‘kepribadian’ pendidikan Indonesia, penyelenggaraan acara-acaranya bisa dianggap sebagai small gestures.

Etis atau tidak penyelenggaraannya? Jika tidak, dianggap biasakah? Orang berkomunikasi lewat poster pertama-tama adalah dengan menggunakan gambar, baru teks. Jika Mas Menteri tidak datang, kenapa fotonya ada di situ? Supaya banyak yang hadirkah?

Gambar adalah kata dalam bentuk visual. Seperti kata, gambar tak bisa berdiri sendiri, melainkan diikat sebuah konteks, tempat ia “bersemayam” dan punya makna. Makanya emosi kita saat memandang gambar Aica Aibon hari ini dan bulan lalu berbeda jauh.

Jadi, foto menteri yang ditaruh tanpa izin dalam sebuah poster seminar berbayar yang tidak melibatkan menteri tersebut seyogianya tidak ditanggapi hanya dengan ”Bukan hoaks. Kan tidak ada tulisan Pak Menteri akan datang?”

Mungkin ada yang berkomentar, “Yaelah, dia aja cuek, kenapa elo berisik?”

Kata pendidikan berasal dari bahasa Latin (ducare) yang artinya menuntun, mengarahkan, atau memimpin. Dunia pendidikan adalah dunia tempat kita berlatih membiasakan diri terhadap apa yang benar dan bukan membenarkan kebiasaan.

Umur hak cipta foto 50 tahun. Foto tersebut public domain atau bukan? Sudah minta izinkah untuk memasang foto beliau padahal beliau tidak terlibat? Menggunakan foto tanpa izin namanya pencurian. Statusnya sama seperti menyontek. Di beberapa sekolah, murid yang menyontek langsung dikeluarkan.

Mengapa sekolah bersikap demikian keras? Karena small gestures speak volume. Aktivitas menyontek bicara banyak tentang pelakunya: Soal kejujurannya, tingkat kerajinan, apresiasi terhadap proses, dan lain-lain.

Dunia pendidikan sudah lama mengadopsi strategi dunia bisnis. Bisnis berorientasi pada profit; sedangkan pendidikan, idealnya, berorientasi pada nilai. Oleh karena itulah beberapa strategi marketing yang dianggap lumrah di dunia bisnis, di dunia pendidikan, statusnya beralih menjadi penipuan publik.  

Contohnya, ada murid yang sering juara renang. Ia les dibayari orang tua dan tanding atas nama klub. Sekolah berkontribusi 'seadanya' dengan cara mengizinkan dia absen. Lalu, foto juara renang itu terpampang di brosur promosi sekolah.

Kalau ada yang tanya, ”Sekolahnya hebat, dia jadi juara renang. Bagaimana caranya?” Kira-kira sekolah akan jawab apa ya?

Mungkin mereka akan bilang begini, ”Caranya? Tidak ada. Kami cuma pasang mukanya aja di poster, sejak awal kan tidak ada tulisan bahwa kami yang bikin mereka jadi juara?”

Nah lohhhh! Betul, kan?

Pendidikan Indonesia carut-marut karena jumlah orang yang hidup dari dunia pendidikan lebih banyak daripada orang yang  menghidupi dunia pendidikan, begitu toh?!