penulis
2 tahun lalu · 113 view · 7 menit baca · Cerpen foto_0.jpg
Sumber: Fixabay

Foto-Foto

Perempuan itu, kakakku semenjak beberapa bulan terakhir ini tak pernah meninggalkan kebiasaannya melihat album-album foto setiap pagi, sebelum sarapan. Seringkali dari celah pintu kamarnya yang sedikit terbuka itu, aku melihatnya membuka satu, dua hingga tiga album foto. Ia tak sekedar melihat, aku melihatnya mencermati, menghayati seakan-akan foto itu telah menarik rohnya berkelana ke masa saat foto itu diambil.

Terkadang pula aku melihat tatapannya itu kosong, seakan tak ada yang ia lihat, terkadang ia melihat hingga matanya berkaca-kaca, menangis atau tersenyum hingga tertawa terpingkal-pingkal. Sungguh aku telah terlalu lama mengkhawatirkan keadaannya.  Aku bahkan terkadang merasa yakin ada kelainan dalam jiwanya.

Sempat kukatakan  pada orangtua kami tentang sikap aneh kakakku itu ketika melihat album foto. Tapi orangtua kami beranggapan itu adalah hal yang wajar. Kata ayahku terkadang adalah hal yang baik orang melihat foto-foto, sekedar melepas rindu, mengingatkan.

Ibuku malah berkata aku saja yang melebih-lebihkan, berpikir terlalu banyak. Ibu juga mengatakan eksepresi kakakku saat melihat foto biasa-biasa saja. Tak ada yang salah.  Kata ibu banyak orang yang melihat foto sambil menangis hingga tertawa.

Untuk beberapa saat aku mencoba percaya kata-kata kedua orangtua kami itu. Aku mulai menganggap melihat foto-foto adalah hal yang biasa. Toh, banyak orang yang suka melihat album foto. Malah hampir semua orang melakukannya. Jadi kuacuhkan saja kakakku setiap pagi dengan kebiasannya melihat album-album foto itu.

Aku menegaskan diri untuk tak mencampuri urusannya dengan mengintip-intipnya lagi dari celah pintu kamarnya itu. Aku meyakinkan diri suatu saat pastilah ia akan bosan. Seperti kebanyakan orang yang awalnya  membuka-buka sebuah album berkali-kali lalu akhirnya lupa.

Misalnya melihat album foto pernikahan berkali-kali lalu kemudian mereka melupakannya saja. Hingga seringkali album-album foto itu teracuhkan, berdebu hingga foto-foto di dalamnya pun mulai memudar.

Tapi alangkah kagetnya aku di suatu pagi. ketika  aku memanggilnya untuk sarapan. Aku melihat kakakku sibuk menempelkan foto-foto di dinding kamarnya. Untuk sesaat aku tak mampu berbicara apa-apa bahkan untuk sekedar memanggil namanya.

Aku hanya melihat ia mengeluarkan sealbum demi sealbum foto. Foto-foto itu berserakan di lantai. Lalu ia menempelkannya satu per satu ke dinding. Begitu berkali-kali hingga ia tak memiliki satu album foto pun yang masih berisi foto. Aku lalu bergegas memanggil orangtua kami. Entah kenapa ada rasa takut yang muncul berlebihan dalam diriku.

 “Mengapa harus ditempelkan ke dinding?” Tanya ayahku pada kakak yang masih sibuk melepaskan satu foto dari dinding lalu menempelkannya ke sisi dinding yang lain seakan ia sedang mencari posisi terbaik mana foto itu patut ditempel.  Seakan ia sedang berupaya keras untuk membuat sebuah mahakarya.

Tanpa melihat ke arah kami yang panik ia berkata “Akan lebih mudah melihatnya jika di dinding. Jadi tak perlu membuka album lagi,” katanya.

“Tapi membuat dinding menjadi kotor. Terlalu ramai ia juga,” kata ibu.

“Tak apa. Aku suka melihatnya begini,” jawab kakak acuh.

Orangtuaku lalu hanya membiarkan saja kakakku menempelkan foto ke dinding. “Biarkan saja asal kakakmu senang, sekedar menempelkan foto di dinding tak apa,” begitulah kata orangtuaku padaku. Jika sudah begini aku hanya bisa mengiyakan saja.

Walaupun semakin lama semua dinding kamarnya semakin penuh dengan foto-foto, aku tetap menahan diri.  Hampir setiap hari aku melihatnya membawa foto baru untuk ditempelkan ke dinding. Tak ada lagi dinding kamar yang kosong, kakakku mulai menempelkan foto ke lemari pakaian, cermin, kursi dan tempat-tempat lain yang bisa ditempel foto. 

Terkadang aku melihatnya membawa foto dirinya saat masih duduk di sekolah dasar, foto kami saat berlibur ke rumah nenek saat kami masih kecil dulu dan masih banyak foto-foto lain yang juga ada aku di dalam foto itu. Aku mencoba mengingat-ingat kapan foto itu diambil.

Tapi aku tak bisa mengingatnya. Bahkan untuk foto saat kami duduk di bangku SMP hingga tahun baru lalu. Aku semakin heran, lalu hanya bisa mencoba menenangkan diri  dengan berpikir mungkin aku memang tak menyadari saat foto itu diambil.

Hari demi hari kakak masih juga sibuk dengan foto-foto. Setiap hari ia semakin banyak membawa foto-foto untuk ditempeli di kamarnya. Kami pun, terutama aku sudah semakin terbiasa dengan kebiasannya itu. Terkadang aku malah menemaninya menempeli foto. Ia tak membiarkanku ikut menempeli foto, ia hanya memintaku duduk melihatnya menempeli foto-foto. Terkadang aku bertanya padanya siapa yang ada di dalam sebuah foto. Tapi ia sama sekali tak mau menjawab.

“Percuma saja kalau kuceritakan. Kau tak akan merasakan kenangannya, hanya membuang waktuku saja jika menceritakannya padamu,” katanya padaku.

“Aku kan penasaran ingin tahu,”

“Tak perlu jika hanya sebagai pemuas keingintahuanmu saja. Mungkin malah kau akan menceritakannya pada orang lain. Aku tak mau,” kata kakak sambil melototkan matanya padaku. Ia marah. Aku pun tak pernah bertanya apa-apa lagi tentang foto apapun yang ia bawa, yang ia tempel.

Hingga aku suatu hari menyadari ada sosok pria yang selalu ada dalam foto-foto yang beberapa hari belakangan sering ia bawa pulang untuk ditempeli. Semakin lama foto-foto yang bergambarkan pria itu semakin lama semakin banyak.

Aku melihat banyak foto-foto kakak dan laki-laki itu. Kakakku terlihat sangat bahagia di dalam foto itu. Senyumnya, matanya, raut wajahnya membiaskan semua kebahagiaan. Aku sungguh ingin bertanya siapa laki-laki itu. Tapi segera kuurungkan niatku, percuma saja ia toh tak akan memberitahu malah hanya akan memarahiku saja.

Tak ada ruang kosong lagi di kamar kakak yang bisa ditempelkan foto oleh kakak, membuat kakak menempel foto berisikan pria itu di atas foto-foto lain. Beberapa foto yang ada aku didalamnya dan foto-foto lain, foto keluarga kami, foto kakak dan teman-temannya tertutupi foto kakak dan laki-laki itu.

Semakin lama hanya foto-foto kakak atau foto-foto laki-laki itu saja yang terlihat. Foto itu dibiarkan kakak menutupi foto-foto lain. Semakin hari semakin banyak saja. Lalu kukatakan pada orangtua kami tentang foto laki-laki itu.

“Biarkan saja. Kakakmu sudah dewasa. Wajar itu,” kata ibuku padaku. Ayah hanya membenarkan kata-kata ibu dengan mengangguk-anggukan kepalanya saja. Lagi-lagi aku hanya menurut saja. Toh aku tentu saja tak bisa berbuat apa-apa.

Terkadang sikap kedua orangtua kami itu membuatku berpikir apakah itu sikap memberikan kebebasan atau sikap acuh saja. Pikiranku itu lalu kusingkirkan sebisanya. Ah, sepertinya ibu memang benar. Aku hanya melebih-lebihkan saja. Aku terlalu banyak berpikir rupanya. Bersikap membiarkan saja kakakku itu seperti yang dilakukan kedua orang tua kami seperti lebih baik untukku.

Tapi suatu pagi sikap kedua orangtua kami berubah. Pagi-pagi aku dibangunkan oleh suara ibu dan ayah yang memarahi kakakku. Aku berlari  keluar dari kamarku. Aku pun langsung tahu apa yang menjadi penyulut kemarahan orangtua kami: Kakakku menempelkan foto-foto  dirinya dan laki-laki itu ke dinding-dinding rumah lainnya. Ia menempelkan beberapa foto di dinding dapur, di sekeliling layrr televisi. Beberapa di teras rumah, di ruang tamu, di pintu masuk, di sofa, di tangga. Ia bahkan menutupi foto-foto keluarga yang berbingkai rapi dengan foto-foto laki-laki itu.

Marah ayah membludak ketika kakak hanya terdiam mendengar omelannya dan ibu. Kakak juga tak bergeming saat diperintahkan ayah melepas foto-foto itu. Kakak hanya diam dan mengacuhkannya. Dengan geram ayah dan ibuku melepas satu persatu foto-foto itu. Kulihat mata kakakku memerah, air matanya pun mulai jatuh.

“Dipaksakan hilang tak akan bisa. Fotonya terlalu banyak. Aku tak bisa menghilangkannya,” ujar kakakku padaku. Suaranya begitu pelan seakan ia hanya ingin bicara pada dirinya sendiri.

“Kau tak mengerti, kalian tak mengerti. Fotonya terlalu banyak, tak bisa dipaksakan hilang,” ujar kakakku setengah berteriak. Ia lalu mengurung diri dalam kamarnya.

Dari teman kakak yang datang ke rumah keesokan harinya. Aku dan orangtua kami akhirnya tahu siapa laki-laki dalam foto itu. Lelaki itu kekasih kakak, mereka sudah berpacaran lebih dari dua tahun. Tapi lelaki itu sekarang menghilang, tak mau bertemua dengan kakakku lagi. Hatiku sedih mendengar cerita teman kakakku itu. Mengapa kakak tak membertiahukanku? Bukankah sejak kecil kami sangat dekat dan tak ada satu rahasiapun yang kurahasikan darinya.

Semenjak hari itu, agar kakakku tak lagi mengurung dirinya di kamar. Orangtua kami membiarkan kakakku menempel foto lelaki itu dimanapun ia mau. Ibu setiap sore hari rutin melepaskan lagi satu persatu foto itu kecuali foto-foto yang tertempel di kamar kakakku. Sejak saat itu kakakku sering kali berdiam diri di kamarnya. Sesekali aku mengintip dari celah pintu  kamarnya.

Suatu malam saat orangtua kami sudah tidur aku mengintip lagi. Bulu kudukku merinding melihat kakak mengamuk di kamarnya sendiri. Ia melepaskan dengan  kasar lalu menghempaskan foto-foto yang tertempel ke lantai. Ia lalu menangis terisak-isak lama sekali.

“Fotonya terlalu banyak, fotonya terlalu banyak,” ujar kakaku pada dirinya sendiri sambil menangis.

Aku ingin masuk ke kamarnya tapi kuurungkan niatku. Kulihat kakak menempelkan kembali satu persatu foto itu ke dinding. Saat itu aku yakin setelah menempel foto kakak akan merasa lebih baik.

Tapi ternyata tidak, pagi harinya aku dan orangtua kami tak bisa menemukan kakaku di mana pun. Ia tak ada di kampusnya, tak ada di rumah teman-temannya. Tidak di rumah bibi, tidak di rumah paman, aku cemas bukan main, orangtua kami kalut. Hingga keesokan paginya kakakku belum juga pulang.

Orangtua kami lalu  pergi membawa sebuah foto kakakku. Untuk dicetak di Koran dan dibawa ke kantor polisi, begitu kata mereka. Hari demi hari setelah itu kulihat foto-foto kakak di banyak koran. Tapi kakakku yang asli tak juga dapat kulihat. Orangtua kami semakin lama semakin murung. Aku pun bingung tak tahu harus berbuat apa.

Suatu pagi aku melihat ibuku menangis di dapur memandang foto kakak yang tertempel di dekat tempat mencuci piring. Aku kaget melihat foto kakak tertempel dimana-mana. Banyak foto di dapur, di ruang makan, kamar orangtua kami, meja kerja ayahku, di dasi yang ayah pakai, di tas kerja ibuku, di dompet ayah, di dompet ibu, di mobil ayahku. Foto kakakku dimana-mana. Ada banyak sekali foto-foto kakak dimana-mana.  

Sepertinya kakakku yang asli telah masuk ke sebuah foto. Tapi aku tak tahu foto yang mana. Aku pun mengumpulka foto kakakku. Menempeli fotonya di kamarku, setiap hari.