Libertarian
3 tahun lalu · 1905 view · 8 menit baca · Pendidikan 12647070_1171201519558891_7848453456241082713_n.jpg
Saiful Mujani, Abdul Rahman, Ihsan Ali-Fauzi

Forum Mahasiswa Ciputat
Cerita 30 Tahun Formaci

Catatan: Esai ini ditulis oleh tim pengelola akun Facebook UIN Ciputat. Fomaci (Forum Mahasiswa Ciputat) adalah forum studi mahasiswa yang telah memasuki usia 30 tahun (berdiri tahun 1986). Forum ini setidaknya telah melewati atau mengalami tiga fase gerakan mahasiswa Indonesia: fase gerakan mahasiswa sebagai forum studi, fase gerakan turun ke jalan melawan rezim diktator, dan gerakan menjaga demokrasi dari kelompok intoleran. Dari tiga fase itu, para aktivis Formaci melibatkan diri secara aktif. Esai ini adalah sepotong kisah tentang para aktivis Formaci, terutama dari generasi awal. 

 

Formaci secara etimologis punya aneka makna. Berikut adalah dua di antaranya. Pertama, ia merupakan lembaga atau badan atau wadah atau tempat pertemuan (meeting point) mahasiswa Ciputat. Di mana pun para mahasiswa Ciputat bertemu —antara Sabang dan Merauke, Miangas dan Rote— di situlah arti Formaci.

Kedua, ia adalah lembaga atau badan atau wadah atau tempat pertemuan mahasiswa di Ciputat. Mahasiswa dari perguruan tinggi mana pun yang hidup di Ciputat, dan mereka punya tempat untuk bertemu, di situlah arti Formaci.

Dengan demikian, lembaga-lembaga yang berhubungan dengan aktivitas mahasiswa di Ciputat (misalnya: HMI, PMII, IMM, organisasi intra kampus, organisasi mahasiswa kedaerahan, pelbagai grup musik, dll), bisa diartikan sebagai bagian dari Formaci. Mohon dimaafkan jika tafsir etimologis kami atas Formaci tidak berkenan di hati dan pikiran siapa pun Anda.

Makna Formaci secara terminologis hanya satu. Ia merupakan meeting point para mahasiswa, yang berdiri di Ciputat pada 1986. Kami tak tahu pasti tanggal dan bulan pendiriannya, karena tak ada bukti formal tentang hal itu.

Kisah awal nama Formaci bisa dirujuk pada pembentukan panitia seminar Himpunan untuk Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (HP2M) tentang Arah dan Orientasi Studi Mahasiswa Ciputat pada 1986. Selain itu, namanya juga bisa dirujuk pada hibah buku-buku kepada aktivis Ciputat, setelah ‘perpecahan’ Budhy Munawar-Rachman dan Denny Januar Ali di kelompok studi Proklamasi.

Tekad kuat menjadikan Formaci sebagai sebuah nama berlangsung dalam pertemuan di daerah pegunungan yang banyak pohon durian di Banten. Hasilnya terwujud dalam sebuah Manifesto Formaci, yang berjudul Min Hunā Nabdaʾ (dari sini kami bertekad untuk memulai kisah perjuangan). Nama-nama pendiri Formaci adalah para mahasiswa, yang kuliah atau hidup di Ciputat. Hingga sekarang Formaci masih aktif, sejak ia berdiri pada 1986.

Ada tiga nama yang mustahil dilepaskan dari pendirian Formaci. Pertama adalah Ihsan Ali-Fauzi. Ia alumni Pesantren Daar el-Qolam. Ia termasuk segelintir mahasiswa penunggang ‘mobil roda dua’ di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ia adalah generasi terakhir Ciputat pemilik gelar BA dan Drs. Nyaris setiap hari ia makan di rumah makan Bundo, rumah makan langganan para rektor IAIN kala itu. Ia penyandang dana utama sekretariat Formaci di belakang Aspi (Asrama Putri) IAIN Jakarta.

Ihsan adalah peletak dasar studi-studi Islam Formaci, sekaligus menjadi Imam Formaci pertama (dilanjutkan Nurul Agustina sebagai Imam Formaci kedua dan Muchlis Ainur Rofik, anggota IMM Cabang Ciputat, sebagai Imam Formaci ketiga).

Kesepakatan untuk menjadikan Ihsan Ali-Fauzi sebagai Imam Formaci berlangsung di sebuah perkampungan terpencil, karena mustahil menyelenggarakannya di Ciputat, yang sedang diselimuti “suasana sangat mendidih” (maaf kami tak mau menjelaskan hal tersebut lebih lanjut).

Nama kedua adalah Saiful Mujani. Ia wisudawan terbaik IAIN Jakarta pada 1989. Ia, bersama Azyumardi Azra, Bahtiar Effendy, Didin Syafruddin, Hendro Prasetyo, Komaruddin Hidayat, Mulyanto Sumardi, dll, merupakan pendiri Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) di Ciputat.

Ia mendapat kepercayaan dari Prof. Dr. Harun Nasution, untuk mengedit hamparan pemikirannya di banyak makalah, menjadi sebuah buku berjudul Islam Rasional. Ia mengerjakannya di kantor HP2M, yang berdekatan dengan kontrakan kumuhnya di Sanggar Ayu.

Saiful merupakan orang Asia pertama yang menerima penghargaan dari asosiasi ilmuwan politik paling bergengsi sedunia: Franklin L. Burdette/Pi Sigma Alpha Award. Penghargaan itu menempatkannya sejajar dengan Samuel P. Huntington. 

Dalam sejarah Imamah Formaci, posisi Saiful Mujani tidak bisa dibilang jelas. Bisa jadi ia adalah semacam Imam Mahdi. Sebagian sumber kami bertutur: ia sangat diharapkan menjadi Imam Formaci (menggantikan Ihsan Ali-Fauzi). Ia menampiknya. Ia memilih Nurul Agustina: mahasiswi Sastra Inggris Universitas Indonesia, dan meraih gelar Master dari Amsterdam, Belanda.

Nama ketiga generasi pertama Formaci —yang mustahil dilupakan— adalah Budhy Munawar-Rachman. Rambut kepalanya keriting, kulit badannya putih. Ia merupakan contoh orang berambut keriting punya kulit ‘agak putih’.

Ia memiliki hubungan darah dengan Mansour Fakih (lulus dari Kampus Pembaharu di awal 1970-an; memilih hidup di Jogja, dan bergabung dengan Roem Topatimasang, setelah menyelesaikan studi S3 di University of Massachusetts, Amerika Serikat, pada 1994).

Budhy Munawar-Rachman mendapat gelar Doktor di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Judul disertasinya adalah Titik-temu Agama-agama: Analisis atas Islam Inklusif Nurcholish Madjid. Saat berlangsung ujian disertasinya pada Sabtu, 26 April 2014, banyak aktivis Ciputat hadir.

Tradisi pemikiran kritis di Formaci (dari Yunani Kuno hingga Mazhab Frankfurt, juga tema-tema yang berkembang dalam pemikiran filsafat), tak bisa dilepaskan dari peran dan ketekunan Budhy Munawar-Rachman.

Sebagian aktivis Formaci menyebut mereka (Ihsan Ali-Fauzi, Saiful Mujani dan Budhy Munawar-Rachman) adalah peletak dasar tigak kajian utama: islamic studies, sosiologi dan filsafat.

Selain mereka, tentu masih banyak nama lain generasi awal Formaci. Kami hanya ingin menyebutkan dua di antaranya. Pertama adalah Muhammad Fauzi. Ia alumni Pondok Pabelan, Magelang. Ia wafat pada Kamis, 7 Januari 2016, pukul 17.55 WIB. Ia lahir dan besar di keluarga Rifa’iyah: merujuk pada Ahmad Rifa’i, yang dibuang Belanda dari Jawa ke Sulawesi Utara, dan menjadi Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 089/TK/2004).

Kedua adalah Amin Munajat. Saat ini ia tinggal di Kota Jogja (sekitar 5 menit naik motor dari Jalan Malioboro) dan bekerja di Kanwil Kemenag Provinsi Yogyakarta. Ia berjasa dalam menumbuhkan bibit-bibit Formaci di kontrakannya: sebuah bangunan kumuh yang selalu berdebu, karena berada di bibir jalan dari BBS ke Madrasah Pembangunan di Ciputat. Mohon dimaafkan jika kami tak bisa menuliskan ratusan nama lain aktivis Formaci sejak generasi awal hingga sekarang, selain nama-nama yang telah kami sebutkan.

Masyarakat Belajar

Belajar adalah kegiatan membaca, berdiskusi dan menulis. Belajar adalah conditio sine qua non —syarat mutlak yang harus dipenuhi, tanpa itu berarti tidak ada— status mahasiswa. Bagi aktivis Formaci, belajar adalah kewajiban, di mana yang meninggalkannya akan diganjar 'neraka.' Bacaan utama mereka, antara lain: buku-buku filsafat, Islamic studies dan sosiologi.

Tema diskusi mereka tak terlepas dari bacaan mereka, sekaligus menghadirkan tokoh-tokoh nasional dan dari luar Indonesia. Tulisan mereka banyak, begitu juga karya ilmiah tentang mereka dalam bentuk skripsi, tesis dan disertasi.

Takdir dan fakta bertutur: tak semua orang Formaci tekun belajar. Tak mengherankan jika mereka bersikap ‘kurang ajar’ dalam hidupnya. Misalnya menjadi PKI (Pembela Komunitas Ilmiah atau Pemuja Kehebatan Ilmu), menjadi liberal (bebas untuk makan di warung Tegal, Betawi, Sunda, Padang, Lamongan, atau bebas menikmati aneka bacaan sastra dan novel), menjadi demonstran, dan lain-lain. Sebagai sebuah tempat pertemuan, tentu saja Formaci punya hamparan aneka kisah.

Formaci mampu bertahan selama 30 (tiga puluh) tahun. Ini adalah sebagian kecil hamparan aneka kisah, yang kami maksud di atas. Berdasarkan riset sebuah disertasi, tak ada kelompok studi di sekitar UIN/IAIN/STAIN di seluruh Indonesia, yang mampu bertahan lama seperti Formaci.

Apakah mungkin di perguruan tinggi lain (selain UIN/IAIN/STAIN) juga begitu? Kami tak tahu. Semoga kelak kami bisa membaca disertasi (ITB, UGM, UI, dll) yang menuturkan hal itu.

Kemampuan Formaci bertahan sejak 1986 hingga sekarang, sungguh patut untuk disyukuri. Rasa syukur atas hal tersebut diwujudkan dalam sebuah pertemuan. Ia berlangsung pada Jumat-Ahad, 22-24 Januari 2016, di Gunung Mas, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Tema acaranya adalah “Kemah 30 Tahun Formaci: Mengenang Fauzi, Membela Rahman”.

Tak semua nama yang pernah menikmati pelbagai “santapan otak, tuntunan budi dan bimbingan jiwa” Formaci bisa menghadiri acara di atas. Masing-masing orang punya beragam argumentasi atas ketakhadirannya.

Misalnya, sebagian mereka sedang di luar Indonesia (Akhmad Sahal sedang menyelesaikan disertasi di Amerika Serikat; Burhanuddin Muhtadi sedang menyelesaikan disertasi di Australia; Nasrullah Ali-Fauzi di Malaysia; Dimyati Sajari di Thailand; Herman Heizer di Saudi Arabia), sedang sakit, bersamaan dengan kegiatan lain, dikejar deadline pekerjaan, dan aneka alasan ketakhadiran lainnya.

Muhammad Fauzi menjadi tema di acara 30 tahun Formaci, karena ia adalah generasi awal yang telah kembali ke alam baka untuk menikmati kehidupan abadinya di sana. Semoga almarhum ḥusnul khātimah.

Adapun Rahman adalah contoh aktivis ‘unik’ Formaci. Ia konsisten dengan pilihan hidupnya, meskipun ia harus “mengarungi samudera darah” atau “terpaksa hanyut dan tenggelam dalam banjir air matanya sendiri” karena panggilan hidupnya.

Izinkanlah kami menuturkan sebagian kisah Rahman. Mereka bersaksi ia sangat sopan. Saat marah ia masih menabur senyuman. Ia pernah dikenal sebagai demonstran. Ia di garis depan saat teman-temannya menghujat ‘raja’ sambil menggenggam telapak tangan. Ia tebar SDSB (Soe**r*o Dalang Semua Bencana) di jalanan.

Keberanian Rahman mengusik para serdadu penjaga keamanan. Mereka ciduk kader-kader pilihan sebuah kampus dekat Kampung Utan, Ciputat. Tapi tak termasuk Rahman, yang saat itu nyaris seperti siluman. Pak Quraish Shihab, sebagai Rektor, pasang badan. Ia ambil anak-anaknya di tahanan.

Saat menjauh dari bui mereka pun cekikikan. Di sebuah gubug pengap di belakang Aspi, mereka bertukar pengalaman bersama Rahman. Mereka kemudian membagi tugas aksi-aksi ke depan.

Cerita tentang Rahman butuh ribuan halaman. Keyakinan teologisnya tak ‘kan kami pertanyakan. Duhai Gusti Pangeran Ingkang Moho Welas Moho Asih: “sempurnakanlah kesucian hati Rahman, kesucian pikirannya dan kesucian semua amal perbuatannya selama ia hidup di dunia”, demikianlah doa yang selalu kami haturkan kepada Yang Maha Raḥmān.

Saat kami bikin catatan ini, usia Formaci adalah 30 tahun. Sebagian aktivisnya telah kembali ke alam baka, antara lain: Muhammad Fauzi (wafat setelah menderita penyakit komplikasi selama 2 tahun), E. Kusnadiningrat (wafat saat hendak berangkat ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi), Hadi ‘Kojay’ Jaya (wafat setelah koma karena jatuh dari Koantas Bima di perjalanan pulang dari Paramadina ke Ciputat).

Demikianlah catatan ini kami bikin. Semoga bermanfaat. Sebagian data di dalamnya merupakan hasil obrolan dengan beberapa nama, antara lain: Ali Munhanif (mantan Direktur PPIM), Amin Munajat, Dewi Yamina (bekerja di Majalah Kartini), Ihsan Ali-Fauzi, Sholihul Hadi (bekerja di TV Indosiar), Yuniyanti Chuzaifah (Ketua Umum Komnas Perempuan pada 2011-2015), dan Zuber Madura (tenaga ahli di DPR RI).

Kesalahan data di catatan ini bukan tanggung jawab mereka. Kesalahan catatan ini adalah tanggung jawab kami: para pengelola halaman UIN Ciputat. Tolong koreksi kesalahan —atau tambahkan kekurangan data dalam penuturan— catatan ini.