2 tahun lalu · 285 view · 5 min baca · Politik img-20170301-wa0017.jpg
Grup Whatsapp FLP Jakarta

Forum Lingkar Pena dan Hoax

Saya mendapat broadcast di grup-grup Whatsapp, katanya Pada tanggal 12 Maret 2017 nanti, Forum Lingkar Pena Jakarta mengadakan Musyawarah Cabang. Forum Lingkar Pena yang disingkat FLP, sesungguhnya memilik peran yang penting dalam dunia literasi. Dia menjadi bagian dari pendidikan manusia Indonesia dalam menekuni tulis-menulis dan perekaman kejadian atau cerita dalam bentuk kata, kalimat maupun buku.

FLP yang secara hitungan kasar Saya, lebih dari 75% anggotanya Perempuan, menampilkan corak pembelajaran menulis ala Keibuan. Misalnya penuh ketekunan, keuletan, rutin dan penyelenggaraan kelas-kelas menulisnya dipegang langsung oleh panitia yang mayoritas Perempuan. Saya merasakan emansipasi di dalamnya. Banyaknya peran Perempuan dalam FLP, membuat Saya optimis tentang masa depan karir dan peran Perempuan dalam pembangunan peradaban Bangsa.

Dengan menulis, beberapa orang yakin namanya bakal abadi. Iya, abadi sepanjang umat manusia masih ada. Abadi di sini tentunya berkaitan erat dengan peradaban di mana manusianya menjaga warisan karya generasi sebelumnya. Pada era digital dan penyimpanan data soft file hari ini, suatu karya tentu lebih terjamin ketersimpanannya.

Meski akhirnya Saya tidak menjadi Penulis yang andal, tapi Kuliah Kepenulisan yang Saya timba di FLP Jakarta tiga tahun silam, memberika kesan mendalam. Terutama kesan terhadap semangat Pengurus dan lingkungan FLP yang bergelora menebar nilai Keislaman disetiap bidang program-programnya. Saking berkobar-kobarnya semangat ‘’back to Islam’’ yang didengungkan, terkadang membuat perbedaan pendapat menjadi sensitif.

Ketika ada kekuatan besar menggebu-gebu ingin menggerakkan barisan ke suatu tujuan yang sudah ditetapkannya, tentu tiap interupsi maupun perbedaan pendapat dianggap menjadi penghambat. Saya tidak tahu apakah kekuatan gelombang visi tersebut bersumber dari para Pendiri FLP, Senior, Pengurus sepuh atau generasi belakangan. Yang jelas, membentuk wajah Islam versi tertentu dengan mengacuhkan versi yang lain, dapat mematikan pluralitas pemikiran.

Justru yang alamiah dari manusia adalah perbedaan, bukan persamaan. Maka sangat wajar, apabila pemahaman tentang Islam menghasilkan warna dan corak yang berbeda. Pemahaman terhadap teks suci, selalu dipengaruhi kondisi sosial, budaya, adat, kebutuhan dan dalam rangka apa suatu ayat ditafsirkan. Artinya perbedaan wajah adalah hal yang alami. Oleh karenanya harus dihargai dan dijamin.

Di tengah dunia maya yang dipenuhi kepalsuan dan hoax, yang menyerang pasar informasi Indonesia dari penjuru mata angin, peran Penulis yang jujur apa adanya tanpa kemunafikan adalah sangat penting. Saya tidak bisa membayangkan, bila Indonesia dipenuhi arus informasi yang isinya melulu tentang propaganda tak bertanggungjawab. Saat jendela informasi, data dan pemikiran dikotori hoax, disitulah Penulis jujur dan idealis dibutuhkan kiprahnya.

Forum Lingkar Pena dengan semangat berkarya untuk berbakti, mempunyai modal sumber daya manusia yang Saya rasa tidak perlu diragukan potensinya. Hanya saja, kita harus sadar bahwa Indonesia bukan hanya milik orang Islam. Jadi, sudah sewajarnya wajah FLP dikemas setoleran mungkin, baik dibidang organisatoris maupun etis. Melihat FLP tidak cukup melihat AD/ART-nya, tapi juga perilaku dan tata kebiasaan orang-orangnya.

Setiap hari, jutaan berita hoax berseliweran menyerbu tiap gadget masyarakat. Beberapa ada yang menyerukan kebencian, fitnah, kegaduhan maupun pendangkalan nalar berpikir. Umat butuh dicerdaskan, tanggungjawab pencerdasan tidak mungkin diemban oleh orang-orang bodoh. Dimanapun, filfsafat bangsa manapun, selalu membebani kaum tercerah untuk mengambil alih amanah penyadaran umat manusia.

Manusia Forum Lingkar Pena, ketika dilantik dan sah menjadi sepenuhnya anggota FLP, Saya anggap orang yang tercerahkan. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang karena inisiatifnya mulai belajar menulis. Oleh karenanya dirinya siap membaca, berpikir, merubah dan menulis untuk kemajuan. Penulis tidak hanya melulu tentang karya yang best seller atau populer. Menulis adalah tentang tidak membiarkan ada kertas kosong. Anggota FLP berjuang menegakkan kemanusiaan dengan kata-kata.

Pada usia menjelang dua dekade, FLP terbukti mampu eksis dan bertahan. Dibalik prestasi gemilang pada masa lalu, Saya agaknya pesimis bila wajah FLP ke depan masih seperti ini. Dunia melaju cepat, teknologi berkembang menggila, hiburan dimana-mana, hedonisme menjalar bak cendawan dimusim hujan, dan FLP Jakarta masih saja tidak mencari kreativitas lain dalam mengemas perekrutan anggota barunya.

Medan perang Salahuddin Al Ayyubi di gurun pasir Jerusalem. Medan perang Tentara Jepang di hutan-hutan rimba kepulauan Pasifik. Medan perang militan Suriah di perkotaan dan reruntuhan kota Homs; dan medan perang Pemuda Indonesia adalah dunia maya. Orang bisa dipenjara, karena ketikan jari. Pejabat dapat terendus uang korupsinya, karena media pemberitaan. Dan saya kira Islam dan Kedamaian Indonesia dapat dibangun dari lalu-lintas Social media yang anti-hoax.

Saya tidak terlalu peduli siapa yang bakal menjadi pemimpin selanjutnya di FLP Jakarta. Saya hanya peduli pada program, kebijaksanaan dan kreativitas apa yang diambil kelak. Bila suksesi kepemimpinan nanti tidak menghasilkan sosok baru yang lebih berkualitas atau sama saja dengan yang sebelumnya, tentu sebagai anak kandung yang dilahirkan dari FLP Jakarta; Saya tidak akan tinggal diam.

Saya tidak tertarik mengikuti konstelasi dalam forum MusCab. Padatnya kegiatan dan jabatan yang Saya emban di Organisasi lain, telah cukup memberikan alasan untuk tidak ikut kontestasi. Sejauh yang Saya ketahui, organisasi-organisasi juga tidak akrab dengan apa yang namanya rangkap jabatan. Saya mendukung kontestasi yang demokratis, fair, terbuka dan terakomodirnya sosok-sosok baru yang punya ide cemerlang.

Saya percaya teori pembagian tugas. Dunia terlalu luas untuk dipikirkan satu orang. Saya lebih setuju bila dalam kesatuan organisasi, masing-masing individu dengan bakat dan passion-nya, menggeluti bidang masing-masing dengan tetap memperhatikan tujuan umum bersama. Saya setuju Pemimpin tertinggi hanya Seorang. Semua orang tidak perlu berebut untuk menjadi yang nomor satu.

Memang sudah seharusnya ada yang menekuni bidang administrasi, keuangan, kaderisasi dan acara. Ada yang jadi Ketua, ada yang mengawal diluar kepengurusan. Ada yang menjadi konseptor, penasihat, dan tentu harus ada juga orang yang berperan sebagai Pengkritik. Dengan adanya kritik yang demokratis dan konstruktif, tingkat implementasi dan kinerja suatu kebijakan dapat diketahui dari sudut yang berbeda. Terkadang kekurangan dapat dilihat dari sudut tersembunyi yang tak diduga-duga.

Saya tipe orang yang tidak bisa diatur dan diperintah. Oleh karenanya kurang cocok jadi bawahan atau pembantu Seorang Ketua. Saya mengakui sifat buruk saya. Saya selalu sensitif bila disuruh atau menjadi bagian dari sistem yang menuntut untuk patuh dan meng-iya-kan begitu saja. Saya buruk, utamanya soal poisis yang tidak nomor satu. Misalnya, dari pada menjadi Gubernur DKI Jakarta, lebih baik Saya menjadi Presiden Timor Leste.

Saya terpukul dengan banyaknya berita hoax di dunia maya. Fenomena kabar bohong, sangat berbahaya bagi Indonesia yang majemuk dan plural. Gara-gara hoax, kerusuhan meledak, klenteng dibakar dan ketentraman publik hancur lebur. Saya mendambakan peran lebih para Penulis untuk tidak kalah nyaring menggelorakan pesan-pesan yang mendamaikan.

Bangsa Indonesia yang dikenal ramah dan rukun, jangan sampai diberangus hangus oleh kerusuhan sosial yang diprovokasi berita hoax. Perancang, Pembuat dan Penyebar hoax adalah manusia yang membahayakan eksistensi Kemanusiaan. Pembuat hoax adalah Penjahat Peradaban; oleh karenanya dia pastilah manusia biadab. Orang dapat meninggal dibunuh hanya karena polemik di social media, padahal itu dipicu faktor berita yang data dan kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan alias hoax.

Semoga Forum Lingkar Pena Jakarta yang terletak di tengah Ibukota, mampu menjadikan dirinya mercusuar pelatihan menulis. ‘’Muslim yang tidak mempedulikan politik, akan dipimpin oleh Politikus yang tidak mempedulikan Islam’’, kata Necmettin Erbakan, Mantan Perdana Menteri Turki. Penulis yang tidak peduli pada dunia maya, maka umat dan Bangsanya akan dilahap fitnah dan konflik dari fenomena hoax yang memenuhi dunia maya.

Politik ada disetiap sudut kehidupan dan ranah keseharian. Oleh karenanya, hanya manusia egois gila dan pikiran sempit emprit, yang tidak peduli pada perkembangan dunia politik. Musyawarah Cabang juga entitas kegiatan politik. Jadi, entah terlibat langsung atau dari jauh, Saya tidak sudi melewatkan momen konstelasi MusCab FLP Jakarta. Salam Literasi dari Muda FLP Jakarta Angkatan 18.

Artikel Terkait