Penulis
2 tahun lalu · 879 view · 3 min baca menit baca · Politik uploads-1-2014-10-26293-fpi-demo-tolak-ahok-1-disengaja-rusuh-depan-kedubes-as-ada-sekarung-kotoran.jpg
sumber photo: google.com

Forum Kampung Kota Untuk Siapa?

Catatan untuk Gerakan Anti-Ahok

Jelang pengambilan putusan Politik PDIP untuk mendukung calon yang akan diusung di Pilkada DKI, muncul gerakan civil society yang tergabung  dalam Forum Kampung Kota.

Oganisasi ini digagas oleh beberapa aktivis gerakan sosial di Indonesia, seperti Siane Indriani, Wardah Hafidz, Nursyahbany Katjasungkana, Rusdi Marpaung, JJ Rizal, Anwar Sastro Maaruf, dll. Titik tekan pendirian forum ini: Ahok dianggap mengabaikan isu lingkungan dan banyak melakukan penggusuran.

Bila melihat tuntutanya, nampak jelas itu sebuah gerakan untuk mengembosi dukungan politik pada kepimpinan Ahok. Menurutku, itu sah-sah saja dalam hal dukung-mendukung, itu pilihan politik.

Tetapi saya rasa aneh, bila membaca alasan mereka untuk bergabung dalam forum itu, rata-rata mengakui itu bukan gerakan politik. Misalnya, pengakuan Nursyahbani  yang mengakui forum Kampung Kota bukan gerakan politik. Mungkin, sebuah gerakan moral yang lahir dari melihat “persoalan” yang dialami warga miskin di Jakarta.

Gerakan Moral…!?

Sungguh Aneh, bila misalnya mengaku sebagai gerakan moral karena pada saat bersamaan tuntutannya jelas mengembosi dukungan politik pada Ahok. Juga tuntutannya diajukan pada Partai Politik yang sebentar lagi akan mengajukan calon yang akan ikut dalam konstestasi di Pilkada.

Pada titik itu, saya melihat ini bukan gerakan moral semata yang berbasis pada kepedulian rakyat. Tetapi, lebih sebagai upaya politik untuk mengalahkan Ahok.  Dan tentunya, berdiri pada kepentingan calon lawan Ahok. Bisa untuk kepentingan Sandiago Uno, Yusril, Lulung, Risma, dan lain-lain. Hanya mereka yang tahu persis.

Forum Kampung Kota, adalah gerakan politik yang sama persis dengan gerakan yang digagas oleh berbagai organisasi anti Ahok sebelumnya, tim sukses dari calon lain, dan atau juga bisa disamakan dengan Koalisi partai Kekeluargaan yang digagas Partai Politik non pendukung Ahok, seperti Gerindra dan PKS.

Saya mungkin lebih menghargai organisasi anti Ahok lainnya, yang secara jelas memberikan solusi politik, menawarkan calon lain yang menurut mereka bisa lebih baik dari Ahok, semisal Gerakan Jakarta Love Risma (Jaklovers), yang mendukung Risma, organisasi Pendukung Yusril (Penyu), dan Sahabat Sandiago Uno (SSU).

Jelang Konstestasi Pilkada DKI, apapun alasan yang dikemukakan untuk mengembosi calon lain, itu senyatanya adalah gerakan politik yang secara langsung berhubungan dengan calon lainnya yang mempunyai niatan untuk maju dalam Pilkada DKI.

Ketika isu-isu politik yang dikemukakan Forum Kampung Kota makin menguat, sudah pasti akan menguntungkan lawan-lawan Ahok, seperti Yusril, Sandiago Uno, Haji Lulung, Risma, dan lain-lain. Hal itu juga pasti disadari oleh mereka yang tergabung dalam Forum Kampung Kota.

Adalah naif, bila Sastro Maruf, Siane,  Nursyabahni, Wardah Hafidz, dan lain-lain, tidak mengetahui konsekwensi tersebut. Setahuku, mereka sudah lama malang-melintang dalam pengorganisasian rakyat.  Jadi bila mereka beralasan itu bukan gerakan politik, itu hanya sekedar apalogi untuk mengaburkan dukungan pada calon tertentu.

Nah, menurutku daripada menjadi “oposan tanggung” atau gerakan politik malu-malu, mending mendeklarasikan diri sebagai sebagai salah satu tim sukses dari kandidat lain yang saat ini bertebaran. Bisa mendukung Yusril, H Lulung, Sandiago Uno, Lulung, Risma, dan lain-lain.  Atau siapa saja, yang penting bukan Ahok, seperti kata “kaum puritan” di Kampung sebelah. Hehehe.

Afiliasi politik itu penting, pertama untuk tidak mengaburkan makna gerakan rakyat, gerakan moral, dan gerakan politik. Juga, supaya kedepan, bila misalnya bukan Ahok yang jadi Gubernur, dan melakukan hal yang lebih membebani rakyat miskin, jelas kita meminta pertangungjawaban moral politiknya kepada siapa.

Juga dengan Afiliasi politik atau mendukung calon lainnya, kita tidak hanya berdiri mengklaim sebagai pembawa aspirasi rakyat miskin. Karena saya begitu yakin dari sekian ribu orang miskin, separuhnya masih mendukung kepimpinan Ahok. 

Selain itu, sangat tidak adil bila mengukur keberhasilan kepimpinan hanya dari beberapa variabel yang masih bisa diperdebatkan. Misalnya, menelantarkan orang miskin saat penggusuran. Mungkin sesekali juga melihat seberapa banyak orang miskin yang tinggal di rumah susun, tentu jauh lebih pasti beradab, atau juga program-program untuk rakyat miskin semisal biaya pendidikan gratis, kesehatan, dan lain-lain. 

Namun, susah menyodorkan itu, bila sedari awal dimulai dari dendam asal bukan ahok. Jadi apapun point-point keberhasilan Ahok, itu akan dinegasikan. Pokoknya, asal bukan Ahok, titik, tak perlu didebat lagi. Hahaha lucu mendengarnya. 

Akhirnya, saya melihat salah satu kegagalan gerakan civil society di Indonesia karena kegamangan para pentolannya memberikan solusi politik ketika situasi mengharuskan. Semua hanya sibuk mencari-mencari titik lemah sebuah kepimpinan politik, tanpa pernah menawarkan alternative.

Dalam hal tertentu, ketika gerakan civil society menguat pada akhirnya hanya menguntungkan dan diambil alih oleh mereka yang lebih anti rakyat, anti toleransi, dan Rasis. Semoga saja, Jakarta tidak terjadi seperti itu.

Artikel Terkait