Apa arti kehidupan? Bagi penulis, kehidupan berbicara soal eksistensi manusia. Eksistensi itu sendiri terdiri atas dua elemen dasar. Pertama, bagaimana manusia mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Kedua, bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Elemen pertama eksistensi manusia berbicara soal kelayakan finansial (financial feasibility). Lebih jauh lagi, bagaimana individu mencapai kemakmuran sepanjang hidupnya. Artinya, daya beli individu terus meningkat dalam jangka panjang. Untuk meningkatkan daya beli, peningkatan kekayaan individu harus lebih tinggi dibandingkan inflasi.

Bagaimana cara melakukanya? Berinvestasi. Itulah satu-satunya cara. Jika kita menabung, nilainya pasti tergerus inflasi. Mengapa? Tingkat bunga tabungan lebih rendah dari tingkat inflasi. Terus menerus menabung sama saja menggerus daya beli kekayaan kita. Lebih baik terus menerus berinvestasi pada berbagai instrumen. Imbal baliknya lebih tinggi dari tingkat inflasi.

Sementara, elemen kedua eksistensi manusia berbicara soal kelayakan lingkungan (environmental feasibility). Lingkungan yang layak terdiri atas ekosistem yang lestari serta komunitas yang serasi. Ekosistem yang lestari adalah lingkungan alam yang seimbang. Khususnya antara produsen dan konsumen karbon. Sementara, komunitas yang serasi adalah lingkungan sosial yang bergotong royong. In that order.

Mengapa? Hanya ekosistem yang lestari mampu menjamin individu yang sehat jiwa dan raganya. Kesehatan inilah yang menjadi basis hubungan sosial yang lebih positif. Setelah hubungan itu terwujud, barulah terbentuk komunitas yang serasi. Maka dari itu, kita harus memiliki lingkungan alam yang lestari terlebih dahulu untuk mewujudkan kelayakan lingkungan.

Ketika kedua elemen ini digabung, kita menemukan satu kebutuhan manusia sebagai makhluk ekonomi. Kita membutuhkan sebuah instrumen investasi yang menjamin kelestarian ekosistem. Tanpanya, kehidupan kita di masa depan akan terancam oleh berbagai hal. Mulai dari polusi yang berlebihan sampai hujan asam.

Ternyata, penulis tidak sendirian dalam hal ini. Menteri Keuangan Sri Mulyani juga menyadarinya. Maka dari itu, PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) di bawah Kementerian Keuangan menerbitkan green bond sebesar Rp 3 triliun. Green bond ini digunakan untuk membiayai infrastruktur energi terbarukan, transportasi ramah lingkungan, dan pengelolaan air bersih (Aldin dalam katadata.co.id, 2018).

Tetapi, green bond ini dinilai gagal. Mengapa? Hanya 29% dari pembeli green bond yang adalah green investor. Bahkan, Sri Mulyani sendiri yang menyatakan bahwa, “Green bond Indonesia belum benar-benar menggambarkan sebagai green bond.” (Victoria dalam katadata.co.id, 2019). Maka dari itu, harus ada perombakan total terhadap green bond ini.

Menurut hemat penulis, pemerintah harus mengganti green bond dengan forest bond. Apa itu forest bond? Sederhananya, forest bond adalah obligasi yang diterbitkan untuk membiayai pelestarian hutan (Cranford dkk, 2011:6). Model pembiayaan ini membantu pemerintah untuk berfokus menyelesaikan masalah lingkungan terbesar kita. Yaitu menahan laju deforestasi di negeri kita.

Lantas, bagaimana forest bond dapat mendorong kelayakan finansial? Bagaimana forest bond dapat mendorong kelayakan lingkungan?

Mari kita mulai dengan menjawab pertanyaan pertama.

Bagi individu sebagai pelaku ekonomi, forest bond menyediakan instrumen investasi baru yang aman dan inflation-proof. Umumnya, semua obligasi yang diterbitkan pemerintah memiliki jaminan tingkat kupon minimum. Tingkat kupon minimum tersebut sama dengan BI 7 Day Repo Rate yang berlaku ditambah fixed spread. Dengan cara ini, nilai kupon pada akhir periode dijamin berada di atas tingkat inflasi.

Green bond sendiri memiliki tingkat kupon 7,55-7,8% per tahun (Aldin dalam katadata.co.id, 2018). Dengan penurunan BI 7 Day Repo Rate yang baru dilakukan, tingkat kupon minimum forest bond bisa diturunkan menjadi 7,25% (5,75% + fixed spread 1,5%). Tingkat ini masih berada di atas inflasi. Akhirnya, kekayaan investor yang ditanamkan pada forest bond pasti meningkat di akhir periode.

Selain itu, forest bond membantu pemerintah sebagai bond issuer dalam mengelola risiko keuangan publik dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Mengapa? Forest bond mengalihkan pembiayaan pengelolaan hutan dari sektor publik menuju green investor di sektor privat. Ini sangat membantu pemerintah untuk menghemat pengeluaran dalam APBN.

Ketika pengeluaran APBN berhasil dihemat, kualitas pengelolaan risiko keuangan sektor publik meningkat. Semakin kecil kemungkinan pemerintah untuk bangkrut secara fiskal. Akhirnya, kepercayaan pelaku ekonomi kepada pemerintah meningkat. Meningkatnya confidence ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Selain itu, pengelolaan hutan adalah sebuah sektor padat karya. Ia menyerap banyak tenaga kerja. Penyerapan tenaga kerja ini menimbulkan multiplier effect yang besar bagi perekonomian. Mulai dari meningkatnya investasi di sektor kehutanan sampai berkurangnya tingkat pengangguran. Multiplier effect inilah yang mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Sekarang, mari kita beralih menjawab pertanyaan yang kedua.

Forest bond membantu menjaga kelayakan lingkungan dengan memasukkan mekanisme pasar dalam konservasi hutan. Mekanisme ini akan membuat pengelolaan hutan jauh lebih efisien. Mengapa? Jika tidak, pemerintah tidak akan mampu membayar kembali forest bonds beserta kuponnya. Dampaknya, pemerintah harus menemukan cara untuk membentuk sebuah pengelolaan hutan yang menguntungkan.

Cara yang menguntungkan tersebut terwujud dalam emission trading system (ETS). Dalam sistem ini, izin emisi diperdagangkan sebagai sebuah komoditas. Jika sebuah perusahaan ingin menghasilkan polusi, mereka harus membeli izin emisi dari pemerintah. Semakin banyak polusi yang dihasilkan, semakin banyak pula pengeluaran perusahaan untuk izin emisi (carbonpricingleadership.org, 2018).

Sistem ini adalah sumber penerimaan yang sangat potensial. Apalagi bagi Indonesia yang adalah kontributor karbon terbesar ke 13 di dunia (ucsusa.org, 2018). Melalui model ini, pemerintah bisa memiliki revenue-stream yang stabil untuk membayar kembali investor forest bond. Menguntungkan, bukan?

Akhirnya, forest bond adalah instrumen investasi yang mampu mengamankan masa depan kehidupan. Baik secara finansial maupun lingkungan.