Baru-baru ini saya menonton film Love the Coopers (2015), sebuah film drama-komedi yang sederhana tetapi kompleks. Ya, penceritaannya yang sederhana cukup mampu menunjukkan konflik batin para karakter yang kompleks, meskipun belum bisa memberi penjelasan berjejak.

Saya tidak akan mengulas film ini secara teknis ataupun mendetail. Hal yang ingin saya diskusikan melalui tulisan ini adalah tentang Fear of Missing Out (FOMO), suatu fenomena yang menjadi benang merah psikologis dari para karakter film Love the Coopers.

FOMO merupakan suatu kondisi perasaan di mana seseorang cemas, gelisah, takut, bahkan frustrasi menghadapi ‘ketertinggalan’. Contoh sederhana FOMO adalah ketika Anda cemas ketinggalan informasi terbaru, gelisah jika tidak eksis di media sosial, atau saat Anda frustrasi melihat tetangga yang memiliki mobil baru. Contoh yang lebih sederhana lagi adalah ketika para jomlo ketar-ketir karena semua rekan sejawatnya sudah menikah.

FOMO serius?

Istilah FOMO memang sering duduk bersebelahan dengan istilah Millenial lain, seperti YOLO (You Only Live Once). Tetapi FOMO tidak bisa dianggap remeh, karena ia merupakan kondisi psikologis yang nyata. FOMO terbentuk dari ketidakbahagiaan seseorang.

Makalah mengenai FOMO pertama kali muncul sebelum tahun 2000 yang ditulis oleh seorang marketing strategist Dan Herman. Mengaitkannya dengan psikologi konsumen, Dan Herman kemudian meneliti FOMO sebagai fenomena sosio-kultural, sebagai motivasi, dan sebagai faktor kepribadian.

Pada Agustus 2013, istilah FOMO dicatat dalam Oxford English Dictionary. FOMO diartikan sebagai kecemasan tentang suatu peristiwa menarik/menyenangkan yang saat ini mungkin sedang terjadi di tempat lain, biasanya pemantiknya adalah terbitan (posting) yang terlihat di media sosial.

Dalam berbagai studi dan bahasan, FOMO memang lebih banyak dikaitkan dengan fenomena digital. Misalnya, ketika si A mengecek Facebook dan melihat foto temannya si B yang sedang bepergian ke luar negeri, lalu si A merasakan suatu perasaan aneh (minder, iri, sedih, dsb.), inilah yang disebut FOMO.

Caterina Fake, co-founder Flickr dan Hunch, mengatakan bahwa perangkat lunak (media) sosial merupakan penyebab dan juga penyembuh FOMO. Lebih lanjut, baca artikel di The New York Times.

Dilansir dari womenshealth.com, peneliti Jerman menemukan bahwa melihat keberhasilan teman melalui posting dapat memicu perasaan iri, menderita, dan kesepian. Penelitian dilakukan dengan mengamati 600 peserta yang menghabiskan waktu bermain media sosial, dan ditemukan bahwa satu dari tiga orang merasa lebih buruk setelahnya.

Sebuah studi dari University of British Columbia pada 2015 melaporkan hasil yang sama. Para peneliti menyurvei lebih dari 1.100 pengguna Facebook, dan menemukan bahwa dari semua potensi reaksi negatif, iri adalah yang paling umum. 

Hasil survei Australian Psychological Society juga menemukan bahwa media sosial adalah sarana meredakan stres sekaligus sumber penyebab stres. Lebih dari satu orang di setiap sepuluh orang Australia menyatakan bahwa media sosial menjadi penyebab stres. Sedangkan satu di antara dua orang Australia menyatakan bahwa mereka mengunjungi media sosial untuk meredakan stres.

Berdasarkan survei ini, hubungan antara penggunaan media sosial dan FOMO menunjukkan bahwa remaja lebih signifikan mengalami FOMO dibandingkan usia dewasa. Ahli psikologi di Australian Psychological Society juga menemukan bahwa FOMO meningkatkan level kecemasan remaja dan dapat berkontribusi pada depresi.

Mengatasi FOMO

FOMO menyebabkan kecemasan dengan merusak kepercayaan diri Anda. Dengan melihat kesuksesan orang lain, seakan menunjukkan bahwa Anda kurang sukses. Kecemasan juga dapat mengantarkan Anda pada depresi, yakni kondisi di mana perasaan terpuruk atau putus asa terjadi secara konstan. Keputusasaan tersebut dapat memunculkan keinginan untuk bunuh diri.

Karena FOMO dilatari oleh ketidakbahagiaan dan rasa kurang puas, maka kunci untuk mengatasi FOMO adalah dengan cara bersyukur dan berbahagia. Paul Dolan, penulis Happiness by Design, menyebutkan bahwa kebahagiaan ditentukan oleh bagaimana kita mengalokasikan perhatian. Berhenti memperhatikan media sosial bisa menjadi solusi awal. Kemudian bersyukurlah.

Syukuri setiap hal, apa pun itu. Temukan sisi terang di setiap sudut yang kekurangan cahaya. Lalu nikmati kehidupan yang seimbang: belajar, bekerja, makan, tidur, tertawa, berbincang, memberi, mencintai. Sebagaimana yang diucapkan Dalai Lama, “Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang sudah tercipta melainkan sesuatu yang kita ciptakan.”