2 tahun lalu · 417 view · 4 menit baca · Budaya download_15.jpg
flp.or.id

FLP dan Bangkai Sastra
Aku Mencintaimu Dengan Kritik

Saya masih ingat Taufik Ismail pernah terkesima dengan FLP. Menurutnya dia ‘’kalah’’ dengan generasi muda. Dia pernah mendirikan organisasi yang bergerak dibidang literasi, hanya saja tidak berhasil. Dia kagum, anak-anak muda seperti Helvi Tiana Rosa, dkk. Lebih hebat karena dapat mendirikan FLP. Pengakuan tersebut dilontarkannya usai membacakan puisinya bertema ‘’Sastra Untuk Kemanusiaan’’ pada acara inagurasi Angkatan 18 FLP Jakarta beberapa tahun silam.

Iya, sastra memang sudah seharusnya untuk kemanusiaan. Di tengah penggusuran rumah-rumah, warung, toko hingga gubuk rakyat, FLP masih saja bergeming dan tidur lelap dalam temaram lampu bawah sadar. Tidak, saya sungguh tidak setuju dengan angkatan pongah yang hanya sanggup duduk-duduk di taman atau pergi ke pusat perbelanjaan pada akhir pekan.

Forum Lingkar Pena berdiri untuk menjawab kekosongan peradaban tulis. Mereka para pendiri, punya visi yang menatap jauh melampaui zamannya. Mereka sadar, pada akhirnya mereka akan tua dan bakal dimuseumkan oleh keganasan waktu. Mereka paham betul, bahwa hidup harus segera membuat bekas, lalu dengan itu berharap dikenang sepanjang sejarah. Manusia yang hidup tanpa berkarya, hanyalah calon bangkai yang mewariskan tulang belulang dan bau busuk kehidupan.

Di mana di dunia ini ada orang rela tak dibayar hanya untuk mengajari anak muda bodoh belajar menulis selama berbulan-bulan. Dimana di dunia ini, ada manusia-manusia rela merogoh kocek sendiri dan berpanas-panasan demi membina jemari yang biasanya hanya mampu mengiris bawang menjadi jemari lihai mengolah kata. Dimana di dunia ini, sastra dikemas menjadi adonan praktis yang dapat dicerna oleh orang setolol apapun di dunia ini. iya, hanya FLP maestro-nya.

FLP, kau adalah anak kandung reformasi dibidang sastra. Mentang-mentang lahir dijaman menjelang kematian represi, kau jangan manja. Mentang-mentang orangtuamu orang hebat dan terkenal, kau jangan bermalas-malasan. Tidakkah kau lihat, tiap hari jutaan timbangan kemanusiaan berkurang dirampok kekuasaan.

Saya ingin Kau tumbuh besar dengan wajah sumringah penuh toleransi. Dirimu yang tumbuh dari nafas keislaman, tidak boleh mengajarkan kesempitan pikir. Negerimu, duniamu dan alammu membutuhkan dobrakan intelektual melebihi zaman kakek-nenekmu. Orde baru telah dikubur, kini kau tumbuh dalam dunia liberalisasi nilai. Kau itu putra mahkota sastra, tapi kenapa kau diam saja dan berbicara dengan bahasa serak-serak jumud? Tidakkah kau lihat disekitarmu ada penindasan?

Hei kau FLP, dimana taringmu? Jangan mengaku dirimu alim, sedang kau hanya duduk terdiam padahal disampingmu ada pedagang asongan babak belur dipentungi aparat. Jangan mengaku dirimu baik, sedang kau hanya sibuk membaca sedangkan dibelakangmu ada anak rakyat yang dipukuli Tentara dengan kepalan kekuasaan. Tidak, saya tidak mau mengakuimu sebagai saudara bila kau masih mampu tertawa sedang bangsamu diperkosa oleh Pemerintahnya.

FLP cintaku, bila ada orang yang mengatakan ‘’sastra adalah untuk sastra, dan Seni adalah untuk seni itu sendiri’’, maka bilang padanya, ‘’sesungguhnya pernyataanmu itu hanya akan memperpanjang barisan perbudakan di dunia’’.

FLP kekasihku, bila ada orang yang mengatakan ‘’Kita kan memilih peran menulis, jadi ya kita fokus menulis. Kalau ada rakyat tergusur, tanah Petani diserobot segerombolan Tentara atau Nelayan yang menganggur karena pasir pantai tempatnya mencari ikan disedot oleh Kapal Raksasa Reklamasi, ya tinggal datang ke LBH saja’’, bilang pada orang seperti itu dengan ‘’Kau jangan bergurau, tidakkah kau lihat betapa bobroknya sistem peradilan kita hingga hukum hanya jadi centong penggaruk uang mafia kasus’’.

Apabila proses pembelajaranmu masih menunjukkan kedangkalan pikir kesusasteraan, lebih baik anda diam. Sastra yang asli tidak pernah meninggalkan kesusahan rakyat. Sastra ditangan seorang sastrawan, tidak pernah menjadi benteng elit yang menutup ruang-ruang kesadaran dari rakyat terdzolimi yang masih terhampar dimana-mana.

Bila Nietzche berkata ‘’Tuhan telah mati. Kita sendiri yang telah membunuh Tuhan’’. Itu karena kesadaran Nietzsche tentang bagaimana moral-moral ketuhanan telah sangat tajam bertentangan dengan realitas. Tatkala nilai-nilai ketuhanan telah mati dalam kehidupan sehari-hari, lalu argumen yang bagaimana yang menyatakan Tuhan masih ada? Sedang kualitas ketuhanan hanya menjadi kumur-kumur khutbah penghibur kaum gagal dan lelah di masjid dan Gereja.

Sastra pun begitu, kita semua paham kata-kata manis tidak pernah mengubah perut lapar menjadi kenyang. Gembel jalanan tidak butuh nyanyian para penyair, dia butuh nasi dan selimut untuk bertarung dengan dinginnya udara malam di terminal. Pelacur kota tidak butuh lantunan ayat, dia hanya butuh sekarung beras dan rupiah untuk membiayai orangtuanya yang sekarat digerogoti kanker. Hei kau sastra, kapan kau sadar betapa tak bergunanya dirimu hari ini?

Hei kau yang katanya penulis, sastrawan, esais atau seonggok manusia yang mengaku dirinya punya ilmu, kenapa kau diam saja padahal rakyatmu menangis karena pundaknya dihantam popor senjata saat ia melawan ketika ada Tentara menduduki sawanya? Hei kau anak muda yang bisa menulis, kenapa kau biarkan pena diatas meja belajarmu berdebu dan kau diamkan kertas-kertas putihmu. Kapan kau mulai mengutuk penguasa yang dzolim?

Bila kau gemar menulis novel cinta, Jangan hanya tentang cinta remaja yang mengajari cara berpacaran dan hura-hura semata. Tapi tulislah bagaimana caranya rakyat mencintai kebenaran dan cinta akan hidup yang berani melawan penjajahan.

Bila kau gemar menulis puisi, jangan tulis puisi romantis yang hanya kau peruntukkan untuk kekasihmu semata atau kata-kata gombal-bual pada malam minggu. Tapi tulislah puisi perlawanan dengan diksi tajam dan sekeras-keras kata yang pernah diucapkan umat manusia untuk menentang kebijakan penguasa yang menindas kemanusiaan.

Bila kau gemar membuat esai, jangan hanya menulis artikel ilmiah yang rakyat pun tidak pernah tahu apa isinya. Tapi tulislah esai kritik yang mendengungkan semangat keberanian menolak segala bentuk sikap yang dapat merusak perdamaian dan persatuan negeri. Tulislah esai ilmiah yang bukan hanya untuk ilmu, tapi ilmu yang untuk berdiri bersama kaum tertindas menghadang buldoser yang hendak merobohkan gubuk rakyat.

Bila anda penulis sekaligus guru, jangan hanya mengajarkan orang memegang pena dan bisa menulis. Tapi ajarkanlah orang caranya merebut hak ketika dirampas dan berteriak melawan ketika diinjak-injak melalui menulis. Bukankah kakek moyang kita Mbah Pram sudah menasihati, ‘’Didiklah rakyat dengan organisasi, dan didiklah Penguasa dengan perlawanan’’. Jauh-jauh hari leluhur sastra kita telah berpesan, bahwa sastra yang hanya untuk sastra adalah bangkai literasi. Tidak berguna.

Bila FLP tak mampu mengubah orientasi pelatihannya ke arah pemihakan pada kemanusiaan dan mengajari rakyat tentang keberanian, maka siap-siaplah bila rakyat ramai-ramai mengambil cangkul. Bersiaplah bila para petani membuka liang dan bersiap mengubur FLP ke dalam kuburan sastra. Iya, FLP jangan sampai menjadi mayat dalam dunia kasusasteraan Indonesia modern.