Peringatan Hari Guru yang hanya memiliki momen 24 jam tersebut akan saya isi dengan sesuatu yang mempunyai momen lebih panjang, yaitu tentang kegenitan pendidik dan peserta didik yang sering terjadi di sebuah ruang publik yang bernama ruang kelas. 

Perilaku genit ataupun "ngacengan" mudah sekali dilihat di ruang publik yang bernama ruang kelas. Kegenitan itu tidak akan dilakukan secara vulgar. Kadang, ia terlihat sangat sopan, ramah, dan bahkan terkesan edukatif. Kami menyebut aksi tersebut sebagai aksi Garangan Syar'i

Baik pengajar atau peserta didik bisa jadi pernah melakukan kegenitan. Apalagi secara biologis memang dirangsang untuk melakukan itu. Kegenitan dan "kengacengan" yang mempunyai intensitas berbeda tersebut sangat berkaitan erat dengan urusan seksualitas dan reproduksi.

Saling mengirim sinyal ketertarikan dalam bentuk kegenitan apa pun itu sah-sah saja dilakukan. Namun, harap sadar kepantasan tempatnya. Apalagi ini menyangkut ruang publik yang bernama ruang kelas. 

Pembicaraan yang tidak pantas di dalam kelas atau diskusi, seperti menggunakan referensi seksis atau seksual untuk menyampaikan maksud dan tujuan diskusi ataupun pembelajaran, juga sah-sah saja. Yang terpenting, hal tersebut tidak digunakan untuk sarana kegenitan yang berakhir dengan sebuah "kengacengan" yang tak terkendali pelampiasannya. 

Hubungan antara siswa dan pendidik sering kali sangat intim dan intens karena terkadang mereka memiliki gairah dan minat yang sama. Ini juga sah-sah saja, bahkan menguntungkan dalam kemudahan transfer ilmu. Namun, sekali lagi, sadarlah akan tempat dan waktu penyalurannya. 

Satu lagi, yang terpenting kedekatan dan keintiman seperti itu tidak mengaburkan batas-batas profesional pengajar maupun siswa. Terutama, dalam urusan pemberian nilai dan keadilan pemberian beban tugas. Kegagalan sebuah proses belajar-mengajar di sebuah ruang kelas bisa jadi karena hal tersebut. 

Adapun kegenitan yang bermasalah adalah gaya kegenitan atau flirting yang melibatkan kontak fisik sebagai ekspresi ketertarikan secara seksual pada lawan jenis dan yang sejenis di ruang kelas.

Banyak kasus pelecehan seksual yang bisa saja dimulai dari sirkumferensi flirting atau kegenitan model kontak fisik ini. Baik pengajar ataupun peserta didik mempunyai kans untuk melakukan ini. Kegenitan di dalam ruang kelas adalah sesuatu yang mempunyai nilai universal dan bersifat vice versa

Guna mendukung kelancaran proses belajar-mengajar, serta menekan hal negatif tersebut, adalah penting untuk kembali mendalami tentang etos, patos, dan logos. Ketiga komponen tersebut akan membuat ruang publik yang bernama ruang kelas beserta isinya untuk selalu berusaha berpikir rasional serta mendasarkan tindakan-tindakannya pada prinsip moral yang universal.

Artinya, baik pendidik dan peserta didik sedapat mungkin membuat kebijaksanaan yang tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga orang lain yang menginginkan kebijaksanaan tersebut sebagai prinsip tindakannya.  

Etos, ketika mereka berusaha membangun kredibilitas, di mana pendidik dan peserta didik harus memegang teguh statusnya masing-masing.

Patos, ketika mereka menarik emosi pada posisi masing-masing sebagai pendidik dan peserta didik. Keduanya harus berusaha kuat untuk tidak saling memberikan perasaan lainnya yang dapat merusak suasana ruang kelas.   

Sedang logos, ketika mereka menarik logika. Artinya, ketatalaksanaan proses belajar-mengajar di ruang publik yang bernama kelas itu adalah bisa dikendalikan dengan kesadaraan keilmuan dan profesionalitas.

Jeffrey Hall, seorang profesor studi komunikasi dan penulis buku yang berjudul The Five Flirting Styles, telah menggambarkan seluruh pendekatan yang dilakukan seseorang untuk menunjukkan minat secara romantik. Ini bisa dipakai sebagai alat kupas hubungan kegenitan antara pendidik dan peserta didik. 

"Genit" dalam diksi Bahasa Indonesia masuk dalam kelas kata sifat, sedang "flirt" dalam diksi Bahasa Inggris masuk dalam kelas kata benda yang keduanya menunjuk semua gestur, pandangan mata, kata-kata rayuan yang diberikan dengan tujuan untuk menarik perhatian serta menunjukkan minat secara romantis.

Kelas yang semestinya sarat dengan kebijaksanaan, pada beberapa kasus, telah mengabaikan “kaidah emas” (golden rules) yang mengemban prinsip: perlakukan orang lain seperti Anda ingin diperlakukan.

Kaidah emas tersebut terjadi ketika ruang kelas dinaungi oleh prinsip etika yang bernama deontologi. Ini adalah salah satu teori etika yang terpenting dalam mengurangi dampak buruk kegenitan siswa dan pengajar.

Etika deontologi menekankan pada kemauan yang besar untuk menaati tata tertib kelas yang mendorong seseorang untuk berbuat bijak dan teratur. Kalaupun tujuan tidak tercapai, paling tidak sudah ada niatan berbuat baik.

Prinsip etika lainnya bernama utilitarianisme yang merupakan jenis etika tentang prinsip tindakan atau perbuatan sebagai sesuatu yang etis jika akibat atau dampak dari tindakan tersebut dapat membawa keuntungan atau kemaslahatan bagi orang lain. 

Dengan prinsip etika di atas, paling tidak bisa mengurangi dominasi pengajar kelas yang cenderung punya kekuasaan berlebihan. Sebuah kekuasaan yang kadang sering membuatnya berpikir terus-menerus untuk menemukan cara agar tangannya bisa diletakkan pada bagian-bagian tubuh peserta didiknya. 

Bolehlah Anda memilih gaya kegenitan tipe flirting santun. Tipe santun ini biasanya diidentifikasi ketika baik pengajar maupun peserta didik lebih fokus kepada tingkah laku yang sesuai kepantasan saja dan berkomunikasi wajar yang tidak melibatkan lecutan seksualitas.

Gaya flirting atau kegenitan yang terjadi di ruang kelas juga bisa saja terjadi karena sebuah ketulusan. Artinya, mereka berdua berangkat dari keinginan untuk menciptakan hubungan secara emosional serta menunjukkan ketertarikan yang tulus satu sama lain. 

Banyak pasangan hidup bahagia yang berasal dari percintaan guru dan muridnya yang dipicu oleh kegenitan model tulus ini. 

Selain itu, ada gaya kegenitan yang sifatnya tanggung. Mereka menggoda dan genit dengan kesadaran bahwa tidak akan ada hubungan romantis dalam jangka panjang. Hal ini terjadi karena masing-masing telah memiliki pasangan dan tidak ingin mengacaukan hubungan yang telah terjalin hanya karena tertarik pada sesuatu yang baru dan segar.

Kadang, kegenitan yang model ini sangat berbahaya. Mereka mengganggap momen flirting ini sangat menyenangkan dan merasa rugi kalau disia-siakan. Bahkan, mereka menganggapnya sebagai sebuah petualangan kegenitan yang romantis. 

Anda pilih yang mana?