Tulisan di bawah ini ditulis oleh anggota SGRC berinisial JAH. Semenjak kasus SGRC dan permasalahan penggunaan logo UI , Republika menuduh SGRC adalah kelompok LGBT. Tuduhan yang dilakukan oleh Republika membuat anggota SGRC UI mengalami teror dan intimidasi dari lingkungan sekitar. Kami mencatat dari mulai teguran, teror SMS dan media sosial, hingga pengusiran dialami oleh anggota kami dan kami berusaha menuliskan pengalaman kami di sini.

Padahal, SGRC bukanlah lembaga atau komunitas LGBT sama sekali. Saya, Nadya Karima Melati, perwakilan SGRC dan salah satu pendiri sekaligus Kordinator dari SGRC UI, melalui akun saya di Qureta akan berusaha menyampaikan pengalaman-pengalaman anggota kami dalam berbagai kegiatan yang dilakukan SGRC UI.

Alasan penggunaan akun saya karena ancaman dan teror yang diterima para anggota SGRC akibat pemberitaan tidak benar yang dilakukan oleh Republika. Kami harap melalui tulisan pengalaman-pengalaman kami ini, masyarakat terutama media tidak lagi gegabah dalam menyikapi isu menyangkut seksualitas. Karena bagaimanapun juga, kita harus memperlakukan manusia sebagai manusia, apapun agama dan orientasi seksual mereka.

 

Begitu masuk UI di tahun 2015, saya senang mengetahui bahwa adanya sebuah komunitas yang bergerak di bidang seksualitas dan gender bernama SGRC UI. Saya tak menyangka bahwa di sebuah perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia bisa ada komunitas seperti ini dan saya melihat bahwa anggotanya punya niat yang besar untuk bisa mengedukasi masyarakat mengenai seksualitas dan gender.

Saya pun senang bisa menjadi bagian dari SGRC selama 1/2 tahun ini karena anggota-anggotanya yang sangat ramah dan mudah berbaur. Kegiatan-kegiatannya pun bermanfaat, mulai dari arisan, yaitu acara yang dibuat dengan tujuan membahas satu topik dan diskusi bersama. Selain itu, seminar-seminar yang digelar di lingkungan UI juga menjadi salah satu kegiatan SGRC, didukung dengan pembicara-pembicara hebat.

Tapi, semua itu hancur begitu saja hanya karena sebuah poster yang telah beredar sejak Kamis kemarin. Sebuah poster yang sebenarnya memberikan suatu kegiatan positif di mana kita memberikan konseling. Tapi, masyarakat menilai kegiatan tersebut bertujuan "menjadikan orang sebagai LGBT", "membawa pengaruh buruk" disertai berbagai komentar negatif lainnya.

Pemberitaan di media pun semakin marak. Tapi sayangnya, pemberitaan yang dilaporkan kadang menjadi pertanyaan bagi kita, apakah memang benar berita itu dibuat dari sumber yang betul-betul terpercaya dan sudah mendapat izin dari pihak yang akan diberitakan.

Ternyata tidak dan semua berita terkesan "sebuah dongeng" atau "cerita fiktif belaka" bahkan menggunakan kalimat dan tagar yang ofensif, seperti #homo masuk kampus, #homo dan lesbian menyerang kampus. Hei, bangun semua! Apakah kalian tidak mengenal etika jurnalisme? Apakah ini karena ketidaktahuan kalian saja mengenai LGBT?

Saya hanya menyayangkan bahwa media di Indonesia masih berperilaku seperti ini. Memberitakan suatu kejadian tapi laporannya seperti sebuah cerpen majalah. Apalagi membuat berita dari sebuah pesan berantai di media sosial (lantas diubah ke dalam bahasa yang formal) rasanya sudah terlewat batas "cerpen" yang kalian buat.

Hal ini lucu, masa media begitu percaya terhadap sebuah pesan berantai dan lalu menjadikannya sebagai berita? Padahal kebenarannya saja masih ditangguhkan.

Saya juga kecewa atas pemberitaan salah satu rekan kami, Firman, yang tiba-tiba saja Anda jadikan bahan berita hanya berdasarkan sebuah cerita yang ia tulis di suatu laman web, bukan dari suatu wawancara maupun izin mengutip ceritanya dan menggunakan fotonya secara sembarangan, walau disensor sekalipun. Setiap individu punya privasinya sendiri, apa kalian lupa akan hal itu?

Masyarakat pun juga memberi tanggapan yang negatif, berangkat dari berita-berita yang beredar. Hate-speech bertebaran di mana-mana, seakan lupa bahwa ada hukum yang mengatur perilaku ini. Orang-orang telah berbicara mengenai "kiamat sudah dekat", "tidak mau dekat-dekat homo", "homo = penyakit", dan hal negatif lainnya.

Saya hanya bisa menghela nafas melihat tanggapan-tanggapan seperti ini dan menyayangkan bahwa masyarakat Indonesia ternyata masih berpikiran sesempit itu. Tapi, di sisi baiknya, kita mendapat respon positif dari para alumni, akademisi, mahasiswa, dan dari masyarakatnya juga.

Saya sangat senang karena masih ada beberapa pihak yang juga ingin meluruskan hal ini. Mereka bertanya kepada para anggota SGRC mengenai apa yang sebenarnya terjadi demi tidak termakan berita-berita yang ditangguhkan itu. Ada juga pihak yang mendukung secara penuh kegiatan ini dan mengecam para bigot atas hate-speech yang mereka buat terhadap SGRC UI.

Di sinilah kami mulai bangkit dan berjuang untuk meluruskan semua masalah ini. Kami tidak mau organisasi yang telah kami buat sedemikian rupa hancur begitu saja. Kami sebagai mahasiswa punya hak untuk memperjuangkan kebebasan berpendapat dan kebebasan berkumpul serta hak pendidikan kami.

Kami sebagai "Harvey Milk generasi 2016" akan tetap berjuang untuk mempertahakan eksistensi SGRC UI di masyarakat. Ingat, pendidikan seksualitas itu penting. Apalagi dengan adanya komunitas seperti SGRC ini. Komunitas yang seharusnya didukung, bukan dikecam. #DukungSGRCUI.

" ...We are unity and we are unstoppable!" (Conchita Wurst)