“Kamu benar sudah mantap sama dia?” tanya Bapak.

“InshaAllah, Pak. Aku kan udah lama sama dia. Lima tahun loh, Pak!” jawabku dengan perasaan sedikit kesal. 

Bagaimana tidak kesal, hari ini sudah lebih dari sekali Bapak menanyakan hal yang sama, soal kemantapan hatiku menikah dengan dia. Padahal hari ini adalah H-3 menjelang pernikahanku. Bapak masih saja menanyakan hal yang semestinya tidak perlu dipertanyakan lagi. Sekitar 7 hari yang lalu pun, Bapak menanyakan hal serupa kepadaku.

“Di rumah calon mertuamu ada kucing, banyak lagi, apa kamu gak takut?” Bapak mengetes kemantapanku lagi karena paham anak bontotnya paling takut dengan kucing.

“Ya takut, Pak,” jawabku singkat.

“Kalau takut, nanti kamu gimana, siapa yang melindungimu?” Bapak mengkhawatirkanku.

“Kan ada dia yang jagain aku, Pak. Dia tahu kok kalau aku takut kucing.” Aku meyakinkan Bapak.

“Oh, syukurlah kalau begitu. Ya sudah, sekarang banyak doa ya, istikharah, semoga yang terbaik buatmu dan dilancarkan semua.” Bapak mengakhiri pembicaraan.

Tak sadar air mata ini mengalir dari kedua mataku saat teringat jelas percakapan antara aku dan almarhum Bapak 8 tahun yang lalu. Pertanyaan-pertanyaan Bapak dahulu yang bagiku menjengkelkan ternyata bentuk sayangnya kepadaku, anak perempuan terakhirnya. Tersimpan keraguan yang dalam terhadap dia, akan kemampuannya kelak mengayomiku, yang Bapak tak sanggup ungkapkan padaku.

Entahlah.

Padahal selama 5 tahun menjalin kasih, setiap dia datang berkunjung, Bapak tak pernah sekalipun absen menemaninya berbincang. Selalu saja ada bahan obrolan di antara mereka. Kompak. Bagaikan bapak kandung dan anak lelakinya. Ya, itu yang aku lihat dan rasakan.

Bahkan ketika kami sekeluarga bepergian ke luar kota, Bapak selalu mengajaknya. Bergantian mengemudikan mobil. Penuh bangga Bapak mengenalkan dia pada teman dan koleganya yang tak sengaja bertemu di jalan. Membanggakan dia sebagai calon menantunya.

Cukup bagiku semua itu sebagai bukti dia calon imamku yang tepat. Toh apalagi yang kurang dari akrabnya seorang calon menantu dengan calon mertuanya? Aku anggap itu sebagai sinyal restu orangtuaku, terutama Bapak, wali nikahku. Maka aku pun mantap dipersuntingnya kala itu menuju babak baru dalam hidupku.

Namun, kiranya aku melupakan satu hal yang mungkin menjadikan Bapak ragu akan sikap melindungi serta menemani, yang idealnya harus dimiliki seorang lelaki sejati, pada diri calon suamiku itu. Dia tak hadir setelah kejadian kecelakaanku saat itu. Memang bukan kecelakaan berat, tapi cukup merepotkan. Padahal dia adalah orang pertama yang aku kabari, bukan keluargaku.

Alih-alih segera menemuiku, dia hanya memintaku untuk mengabari Bapak. Aku pun menurutinya untuk menelpon Bapak mengabarkan kondisiku. Dengan sigap Bapak segera datang ke lokasi kecelakaanku, membawaku ke Puskesmas terdekat untuk mengobati luka-lukaku, serta mengurus perkara di Polsek. Bahkan saat-saat recovery, tak nampak sekalipun batang hidungnya.

Saat aku sudah benar pulih, barulah dia datang ke rumah. Dan ketika Bapak menanyakan ketidakhadirannya, dia hanya kebingungan. Berkuranglah keyakinan Bapak terhadapnya mulai saat itu. Menurut pandangan Bapak, seorang lelaki adalah pemimpin bagi seorang perempuan, dalam hal membimbing dan menjaga serta menemani.

Bapak tetap merestui pernikahan aku dan dia. Lima tahun sudah, dan Allah belum mempercayakan keturunan dalam kehidupan pernikahan kami. Berkunjung ke dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan sebagai bentuk ikhtiar, sudah kami lakukan. Aku didiagnosis suatu penyakit yang masih jarang ditemui di dunia ini. Persentase untuk sembuh dan peluang kehamilan sebenarnya besar, hanya butuh kemauan dan usaha dari kami untuk melakukan prosedur pengobatan.

Biaya memang menjadi kendala, sehingga diputuskan untuk menunda prosedur sampai tabungan cukup. Dan selama masa itu, aku hidup dalam kecemasan. Perempuan mana yang tak khawatir dengan kondisi kesehatan yang dideritanya, yang mungkin menjadi sebab tertundanya memiliki momongan, momok terbesar bagi perempuan bersuami.

Belum lagi social pressure terhadap sesama perempuan yang kerap terjadi di masyarakat kita. Pikiran negatif terus membayangi hari-hariku. Aku pun menjadi pribadi yang insecure dan gampang menaruh curiga.

“Sayang, kamu gak apa-apa kan kalau kita belum ada anak?” tanyaku cemas.

“ Gak masalah, mungkin ini ujian dari Allah untuk pernikahan kita. Jalani aja dan tetap berdoa, pada saatnya pasti ada hal indah.” dia meyakinkanku. Setiap muncul rasa ragu di hatiku, dia tak pernah berhenti membuat aku percaya akan keajaiban. Dan kecemasanku seketika berkurang, meskipun nanti muncul kembali. Selalu begitu, timbul dan tenggelam.

Sesuatu yang paling buruk adalah rasa takut akan ditinggalkan olehnya. Iya, aku takut dia memilih perempuan lain yang bisa memberikannya keturunan. Rasa curiga yang besar terkadang aku tampakkan. Menanyakan perihal kesetiaan dan komitmennya.

“Kamu masih mau sama aku kan, walau belum hamil juga?” pertanyaan klise yang sering aku ajukan.

“Iya, tenang aja. Gak akan aku ninggalin kamu. Percaya aja sama aku. Kita berdua sampai tua tanpa anak juga gak masalah buat aku.” Lagi-lagi dia selalu menenangkanku, menyuruhku untuk percaya bahwa tanpa kehadiran anak pun komitmen akan selalu dia genggam. Tindakannya juga meyakinkanku bahwa dia adalah lelaki setia. Perlahan kepercayaan pun tumbuh dalam diriku.

Sampai pada usia tujuh tahun lebih pernikahan, segalanya berubah. Berbulan-bulan dia tak pulang ke rumah. Komunikasi diputusnya sepihak. Nafkah batin dan lahir pun sudah tidak aku terima. Beribu pertanyaan berkecamuk dalam pikiranku, apa yang terjadi dan kenapa semua ini terjadi? Aku berusaha untuk berpikir dan bertindak positif, sedangkan yang dilakukannya menyuruhku berbuat sebaliknya. Ironis.

Sabar dan tawakal, hanya itu yang bisa kulakukan. Hingga Yang Maha Pemberi Petunjuk memberikan jawaban semua pertanyaanku. Dia telah mengikat janji suci dengan wanita lain yang dianggapnya lebih sempurna dariku. Sakit fisikku yang belum terobati, dan sudah barang tentu belum hadirnya buah hati, menciptakan batas kesabaran pada diri dia.

Hari ini, alih-alih aku rayakan ulang tahun pernikahan, aku duduk di depan Majelis Hakim menyimak keterangan saksi dari pihak dia dalam sidang perceraian kami. Janji dan kesetiaan yang dulu dia gigit erat, dilepaskannya. Tak ada lagi dia yang bersedia berdiri di sampingku, menemani dalam sakitku. Pilar yang seharusnya berdiri tegak, bengkok sudah, bangunannya tak lama pun roboh.

Bapak dahulu pernah berujar, pernikahan itu melulu tentang komitmen, meyakini bahwa hubungan yang dijalani adalah proses seumur hidup, yang di dalamnya bukan hanya berisi kebahagiaan dan sukacita, melainkan ada pula kesedihan, air mata dan kesusahan. Hanya orang berkomitmen yang akan tetap tegak menjalani hubungan tersebut.

Dan seorang pria yang telah memutuskan berikrar dalam janji suci pernikahan, berarti siap dengan apapun kondisi yang ditemuinya nanti. Termasuk ketika istri sakit, suami lah yang bertanggung jawab sepenuhnya, bukan malah menjadikan alasan untuk meninggalkan.

[Maaf untuk semua janji yang aku ingkari.]

Begitu isi pesan singkatnya untuk terakhir kali. Sebuah permintaan maaf yang tidak mudah aku terima karena ada janji yang diingkari dan hati yang tersakiti. Butuh waktu yang cukup untuk hati dan pikiranku mampu berkolaborasi menerima. Maafkan aku, Bapak, tak mampu menafsirkan firasatmu.