Setelah makan di resto ala buffet di bilangan Clementi Road, Bukit Timah, saya pun cepat-cepat keluar untuk memanfaatkan sisa waktu yang cukup untuk menghabiskan sebatang rokok putihan.

Rumus pertama merokok di negara berjuluk Fine Country (negara berdenda) ini adalah menghitung jarak antara pintu masuk resto dengan area terbuka sekitar 5 meteran.

Resto di Singapura yang bernapaskan bisnis etiket sudah pasti menghilangkan kenikmatan para penyuka tembakau ini. Bisnis etiket merupakan satu ikon resto yang sangat mengekang inovasi menikmati kudapan. 

Semua diatur melebihi etiket table manner. Karena makan merupakan salah satu kebutuhan hidup, maka peminatnya juga tidak berkurang.

Setelah jarak lima meteran, awasi sekitar dulu apakah ada tanda designed smoking area atau tempat khusus merokok. Jika ada, maka itu surga dunia. 

Dan, jika tidak, maka gunakan rumus area terbuka jenis trotoar sebagai wilayah otoritas perokok. Rata-rata area terbuka publik, seperti trotoar, pantai, tanah lapang adalah secuil manifestasi penghormatan hak “mengudara” perokok di Singapura.

Deteksi juga koloni yang mengepulkan asap, alias kumpulan orang yang sudah paham wilayah. 

Jangan lupa mengawali memantik ujung sigaret dengan ujaran ungrammatical khas Singlish (Singaporean English): can I smoke here? Yang pasti akan dijawab: yes, you can-lah

Atau, dijawab sebaliknya: no, you can not-lah. Jarang terdengar: may I smoke here? Yang tentunya lebih mengedepankan kapabilitas frasa is allowed.

Biasanya mereka yang berdiri bergerombol dijuluki sebagai a minutes standing. Julukan bagi perokok Singapura yang bergestur panik. Psikologi perokok di sana memang begitu. 

Rata-rata mengisap rokok ukuran ceking dan cungkring yang sekiranya cepat habis. Mereka khas merokok sambil berdiri, bergawai, isapan cepat dan buru-buru, serta raut muka depresif yang celingukan kanan-kiri.

Sebuah bentuk kecemasan sosial bentukan fine country yang bersumber dari dua kecemasan sekaligus, yaitu: kecemasan obsesif kompulsif dan kecemasan ansietas umum. Memang benar adanya bahwa aturan akan menurunkan kriminal.

Namun, low crime does not mean no crime-lah. Ada bagian privat lainnya yang dikriminalisasi negara dalam sebuah hukuman korporat (corporal punishment).

Mereka akan selalu celingukan kanan-kiri dan depan-belakang, untuk memastikan apakah berada di area aman; yang pada dasarnya memang sudah aman. Itulah efek psikologis kecemasan sosial dari sebuah tatanan negara berbasis terlalu banyak denda dan aturan.

Dan jangan lupa, mengantongi puntungnya, atau menaruhnya cepat-cepat di titik-titik disposal ilegal yang telah dibuat oleh pendahulu, seperti: pot bunga, pojok bangunan, atau sela-sela sempit lainnya.

Dan, aksi ini pun haruslah dilakukan dengan waspada dan secepat kilat. Kalau tidak, siaplah mendapat pasal berlapis; merokok sembarangan, membuang sampah sembarang, dan merusak program Garden City (Kota Kebun).

Program Garden City adalah sebuah program penghijauan satu-satunya di dunia yang menempatkan “hutan hujan tropis primer” di tengah kota!

Isapan demi isapan sebatang sigaret di sana tentunya tak senikmat di sini, Indonesia. Negara tipe Fine Country merupakan negara yang menggunakan rekayasa sosial dengan memaksimalkan aturan dan denda tinggi; baik di wilayah publik ataupun privat.

Ngompol atau pipis sporadis secara tak tertahankan, atau tak kuasa membendungnya, di dalam sebuah elevator publik merupakan salah satu bentuk pelanggaran di sana. Setiap elevator ada alat Urine Detection Devices (UDD) yang siap mengendus selangkangan Anda. 

Sampai-sampai, ingus yang meleleh, karena sebab apa pun, akan terdeteksi oleh sensor di bandara, misalnya. Untung, belum ada pendeteksi lendir gurih—Yummy Lubricant Detector (YLD)—akibat terangsang. Kalau ada, wah, jelas makmur dengan sendirinya Singapura; yang penuh dengan paparan paha dan mulus itu.

Warga di sebuah fine country akan selalu melakukan konfirmasi kepastian aturan dan denda di wilayah publik dan privatnya sendiri, seperti: may I sit here, may I kiss here, may I spit here, may I cross here, may I fuck here? Yang semestinya, itu semua, adalah hal alami saja yang kadang tak memerlukan jawaban: you can-lah atau you can not-lah. 

Mereka juga akan selalu dibayang-bayangi jebakan (trap) aparat nakal dengan memanfaatkan aturan dan denda tinggi tersebut sebagai terror proxy

Hal-hal aneh seperti denda menjual permen karet, memotret hal biasa untuk dipotret, berisik bermusik dalam skala norma, nyanyi-nyanyi kecil sambil berdehem, dan membawa obat pribadi yang terpreskripsikan (diresepkan), cukup membuat nalar kita pusing tujuh keliling. 

Belum lagi aturan membawa sejumlah bungkus rokok dari negara asal dalam takaran konsumsi pribadi, sangatlah ketat.

Aturan membuang sejumlah batang rokok pada bungkus baru yang masih tersegel adalah hal yang lucu saja saat melintas check in point bandara. Kalau perlu, saya rela kunyah saja itu batang rokok daripada dibuang sia-sia. 

Pengaturan negara yang sangat ketat atas pasar jelas bertentangan dengan logika kapital yang bersifat global dan bebas melanglang buana. 

Disiplin dan tertib itu pasti. Namun, jarang ada yang lolos ketika dijebak. Hal ini biasa dikeluhkan oleh wisatawan asing dalam sebuah random security check.

Tanpa mengurangi rasa hormat atas kemuliaan Anti-SARA dan pola generalisasi, biasanya petugas Singapura model begini adalah mereka dari warga keturunan tumbarmirijahe yang comel sambil geleng-geleng kepala.

Fine country rata-rata berasas Weberian, ketika negara memonopoli atas kekerasan yang dipakainya untuk menegakkan aturan-aturan superketat yang sudah (terpaksa) disepakati bersama. 

Fine country selalu melakukan rekayasa sosial dengan tangan besinya. Pemerintahan model Weberian akan melahap habis masyarakat yang cenderung Hobesian.

Neopatrimonailistik akan cenderung tumbuh di sebuah negara Fine country. Sebuah tipologi rezim yang mengadopsi law of man daripada law of rules. Termasuk, kecenderungan untuk mempertukarkan sumber daya yang dimiliki penguasa dengan teman-temannya.

So, interchangeably, fine country is (not) fine.