“Jika Salah Cetak Gol Lagi, Saya Akan Jadi Muslim.” 

“Duduk di Dalam Masjid, Itulah Tempat Saya Ingin Melakukannya.” 

“Mo Salah-la-la-la, la-la-la-la-la-la-la.”

Ada aroma berbeda pada final Liga Champions Eropa tahun ini yang jatuh pada 27 Mei di kota Kiev, Ukraina. Bintang di masing-masing klub raksasa itu melibatkan aktor—pemain dan palatih—yang menonjol, adalah seorang Muslim.

Mohamed Salah Ghaly dipanggil Mo Salah (25) adalah bintang baru Liverpool. Sedangkan Zinedine Yazid Zidane dipanggil Zizou atau Zidane (45) adalah manajer-pelatih “inkamben peraih Liga Champions” klub raksasa negara Matador Spanyol, Real Madrid. Dan penyerang nomor punggung 9 Madrid, Karim Benzema, adalah bintang penyerang klub itu.

Dua kali juara Liga Champions berturut-turut dan kembali menjadi finalis ketiga kalinya adalah prestasi yang luar biasa pelatih Zizou yang belum pernah diraih pelatih mana pun di Eropa. Di samping itu, Zizou juga adalah pelatih muda yang baru pertama menangani sebuah klub dan langsung klub raksasa dunia Real Madrid, setelah jeda dari sepak bola selama delapan tahun.

Zizou hanya punya pengalaman melatih tim Yunior Madrid dan kemudian menjadi asisten pelatih sekitar tiga tahun. Maka tidak heran, bersama Benzema, bintang berkebangsaan Aljazair itu dielu-elukan banyak orang Islam di berbagai belahan dunia sebagai simbol prestasi seorang Muslim di Eropa dalam sepak bola.

Ratu Adil

Namun, yang lebih menggetarkan adalah Mo Salah. Berkat permainan dan jumlah golnya yang fantastis dan perilakunya di luar lapangan yang dianggap baik dan sopan serta aktivitas religiusnya yang terekam di media sosial, Salah menghipnotis bukan hanya para pendukung Liverpool, melainkan nyaris semua panggila bola. Salah adalah pemain asal Mesir yang mendapatkan sepatu emas untuk debut musim pertamanya di liga Inggris tahun ini karena menjadi pencetak gol terbanyak 32 gol di liga Inggris dan 45 gol di semua kompetisi.

Jumlah lesakan gol Salah dalam satu musim ini bersaing dengan hasil lesakan gol Cristiano Ronaldo di Real Madrid dan Leonel Messi di Barcelona FC yang dalam beberapa tahun terakhir mendominasi penghargaan sepatu emas secara bergantian di Liga Spanyol maupun di tingkat Eropa. Untuk ini, Salah juga diganjar penghargaan pemain terbaik Liga Inggris musim ini oleh Asosiasi Pemain Sepak Bola Profesional, Trofi PFA Player of The Year. Sebuah penghargaan paling bergengsi untuk pemain bola perorangan di Inggris.

Bagi fans Liverpool, Salah adalah semacam radu adil yang diharapkan bisa menbawa kembali kejayaan Liverpoool bukan hanya untuk pertama kalinya meraih tropi telinga lebar itu setelah 2005.

Pasca tragedi Heysel, Leverpool memang mengalami kemerosotan sehingga perlu mengembalikan kejayaan masa lalu di Liga Inggris dan kompetisi Eropa yang menjadi paceklik. Sejak Tragedi Heysel, Brussels, 29 Mei 1985 yang menelan korban meninggal 39 orang dalam final Liga Champions melawan Juventus, Liverpool tidak lagi menjadi ancaman untuk kompitisi strata bertinggi Eropa itu yang sebelumnya nyaris menjadi langganan.

Apalagi kemudian terjadi Tragedi Hillsborough di kandang Sheffield Wednesday kota Sheffield, 15 April 1989 yang menelan korban meninggal 96 orang. Dua tragedi yang melibatkan hooligan Liverpool yang ganas itu berimbas pada prestasi Liverpool yang merosot karena sempat mendapat sangsi larangan untuk bermain di luar Inggris untuk beberapa tahun, bahkan sanksi itu menimpa klub-klub Inggris lainnya ketika itu.

Dengan demikian, imajinasi dan harapan akan kemenangan dan kejayaan Liverpool itu bagaikan ditumpukan pada pundak Salah. Harapan atas Salah itu bukan hanya Salah pribadi melainkan juga agama yang dipeluknya, yaitu Islam yang membawa aura positif bersamanya. Petikan lirik lagu yang dikutip di awal tulisan ini adalah nyanyian di dalam stadion para penggila klub dengan julukan The Red itu setiap kali mereka bermain karena prestasi Salah.

Phobia Islam

Pada taraf tertentu, memang berkembang phobia terhadap Islam (islamo phobia) di Eropa. Bukan hanya karena terjadinya berbagai kasus terorisme yang melibatkan pemeluk Islam imigran di beberapa negara Eropa, melainkan juga kecenderungan imigran Muslim yang menjadi semacam ghetto-ghetto yang tersegregasi dari mayoritas pribumi di negara-negara Eropa tersebut.

Mereka, misalnya, mendatangkan guru-guru ngaji atau imam dari negara asal mereka tanpa memberi kemampuan bahasa dan adaptasi tradisi dan budaya negara di mana mereka tinggal. Karena itu, anak-anak mereka tumbuh dengan tradisi pemahaman keagamaan negara asal dan bahkan berkecenderungan untuk membenci tradisi dan masyarakat Eropa itu sendiri.

Kesan negatif bagi Islam itu, misalnya, dicerminkan dari pidato PM Inggris David Cameron pada 2011—disusul kemudian pidato Kanselir Jerman Angela Merkel, tentang pernyataan bahwa ‘multikulturalisme di Inggris telah mati’. Menurut banyak pemahaman, yang dimaksud dengan matinya multikulturalisme adalah gagalnya imigran Muslim untuk berbaur dengan masyarakat mayoritas dan menyesuaikan diri dengan kebudayaan di mana mereka tinggal, yaitu masyarakat Eropa.

Namun, dalam suatu perdebatan di The Guardian menanggapi pernyataan Cameron tersebut, penulis buku Multiculturalism, seorang imigran Muslim berdarah Pakistan Tariq Madood, men-challenge pernyataan PM Inggris tersebut. Madood menyatakan bahwa tidak bisa dipungkiri bahwa abad ke-21 adalah abad multikulturalisme.

Kegagalan multiukultualisme di Inggris, lanjut Madood, bukan karena imigran tidak mampu menyesuaikan dengan tradisi setempat, melainkan justru karena mayoritas yang tidak mampu move on untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan baru masyarakat yang dari sisi demografi terus berubah.

Hak-Hak Kolektif

Dengan demikian, tampaknya, masalahnya bukanlah apakah multikulturalisme di Eropa itu mati atau tidak mati, sehubungan dengan terus membanjirnya imigran bukan hanya dari Asia dan Afrika melainkan juga dari Eropa Timur karena runtuhnya Komunisme. Pada kenyataannya, imigran bukan hanya membawa tubuh, melainkan beserta kebudayaan, tradisi, agama, dan bahkan ideologi atau cara pandang. Maka mau tidak mau, mayoritas native tidak bisa mengabaikan perubahan-perubahan tersebut.

Yasema Nuhogïlu Soyal, professor dari Harvard University, sesungguhnya sudah mengamati pergeseran-pergeseran itu beberapa tahun sebelumnya. Dalam jurnal Theory and Society berjudul “Changing parameters of citizenship and claims-making: Organized Islam in European public spheres”, Soyal mengamati pergeseran pengakuan masyarakat Eropa akan tradisi Islam sebagai agama resmi di Eropa dengan segala tradisinya.

Islam bukan hanya sebagai agama individual, melainkan beserta tradisinya sebagai agama yang terorganisasi dan bersifat komunal. Tradisi itu menbawa identitas Islam yang berpengaruh terhadap kewarganegaraan di Eropa.

Dalam dinamika tersebut, komunitas Muslim menuntut agar tradisi Islam yang mereka jalani di Eropa diakui sebagai bagian dari tradisi Eropa itu sendiri. Hal ini sehubungan dengan rata-rata mereka telah hidup tiga atau dua generasi sehingga tradisi Islam sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari bersama orangtua mereka. Tradisi itu, misalnya, kerudung—bukan niqab—bagi perempuan, salat jumat, hari libur agama, dan nikah-talak-waris yang memiliki tradisinya sendiri di dalam Islam.

Dari pergulatan itu, terbangun suatu dinamika timbal balik. Di satu pihak, komunitas Muslim yang tadinya menolak menjadi Eropa yang sekuler dan anti HAM, mau tidak mau, harus membangun argumen HAM, khususnya hak-hak kolektif untuk bisa diterima sebagai bagian dari tradisi Eropa.

Sementara masyarakat Eropa yang tadinya menolak karena kekuatiran dan stigma tertentu terhadap Islam dikritik oleh sebagian mereka sendiri dan dunia karena klaimnya sebagai masyarakat terbuka dan peduli hak asasi manusia. Maka kemudian, masyarakat Eropa tidak saja menjadikan hal itu sebagai wacana publik melainkan mesti menengok ke arah akomodasi terhadap hak-hak kolektif.

Liga Champions adalah event yang menyedot penonton global sejagat dan bisa mendorong perubahan persepsi masyarakat Eropa khususnya. Melalui profesionalisme sepak bola seperti dilakukan Salah, Zizou, dan Benzema diharapkan membawa aura lebih positif bagi identitas Islam di Eropa ke depan.