Kritik saya terhadap sikap negatif GM atas sains sudah saya sampaikan dalam pengantar berjudul "Stamina, Style, Strategi Goenawan Mohamad" untuk kumpulan Catatan Pinggir 12 yang terbit tiga tahun lalu (Penerbit Tempo, 2017). Di situ antara lain saya menulis:

"Cukup mengherankan bahwa sebagai pemikir yang punya minat dan keprihatinan besar pada begitu banyak bidang, .... ia sangat kurang peduli – jika bukan cenderung merendahkan – perkembangan mutakhir di bidang sains….. Semuanya berpengaruh sangat besar pada cara manusia memandang dirinya dan dunia; pada cara orang berbisnis dan menghabiskan waktunya; pada kemampuan pemerintah-pemerintah mengatur dan mengawasi warga negara mereka.”

Jauh sebelumnya, pada 1989, Ignas Kleden mengeluh betapa sulitnya menemukan kejelasan sikap dan proposisi Goenawan dalam esai-esai Catatan Pinggirnya. Dalam pengantar kumpulan Catatan Pinggir 2, berjudul “Eksperimen Seorang Penyair", Ignas Kleden menyatakan satu-satunya hal yang jelas dalam sikap Goenawan hanya ketika ia membahas soal penyair dan kepenyairan.

Sedangkan untuk semua isu lain, ia menggunakan teknik persuasi estetik, bukan mengajak kita berargumentasi secara diskursif. Ketika membahas birokrasi, misalnya, Goenawan menggambarkan birokrasi dengan: "sebuah meja yang penuh bekas rokok… sebuah ruang yang tak pernah lagi dipel… sederet map kertas yang tak jelas fungsinya, toh sementara itu semuanya tak dibuang." Sedangkan birokrat adalah orang yang "sedikit bicara, sedikit berbuat, sedikit menongol."

Dengan "perumusan masalah" semacam itu, apa yang bisa dilakukan terhadap birokrasi dan birokrat? Apakah, misalnya, jika ruang kerja para birokrat itu dipel lebih sering maka kondisi birokrasi akan membaik, dan para birokrat akan lebih sering menongol?

Goenawan tidak menyiratkan konsekuensi apa pun dari “definisi” rumusannya tentang birokrasi dan birokrat itu – dan agaknya "hipotesis" semacam itu tidak mungkin dimasukkan dalam agenda riset studi public policy ataupun administrasi pemerintahan.

Bagi Ignas, esai-esai Goenawan "penuh bertabur bunga tapi sulit ditebak jenis tanamannya". Tiga dekade setelah Ignas menulis itu – tiga puluh satu tahun kemudian – kita masih mudah untuk setuju dengannya, karena ciri itu masih terus “menongol” dalam esai-esai Goenawan, bahkan tetap terlihat dari tulisan-tulisannya di polemik ini.

Kita dibuat terhuyung-huyung di labirin kutipan penggalan kalimat atau frasa Jerman, Inggris, Prancis atau Italia dari para filosof kuno Eropa yang – kalaupun akurasinya bisa dijamin – hanya sedikit terkait dengan apa yang nyata dikerjakan oleh ilmuwan dan apa yang terjadi di dunia berkat temuan-temuan mereka.

Ignas menyimpulkan bahwa yang selalu ditebar oleh Goenawan dalam esai-esai itu adalah skeptisisme yang tak pernah ditingkatkannya menjadi sikap kritis. Ignas merangkum seluruh ciri itu dengan meminjam formulasi Karl Popper (nama yang dalam polemik ini ternyata kembali muncul, bahkan Goenawan mengklaim dirinya sebagai "rada Popperian") tentang ekspresionisme epistemologis.

Maknanya: “suatu uraian yang bagian-bagiannya tidak dianggap sebagai proposisi-proposisi yang dapat didiskusikan secara objektif, tetapi harus diterima sebagai ekspresi keadaan mental, situasi kejiwaan, atau percikan ke luar suatu interioritas yang pribadi dan intim.”

Dengan semua ciri itu, maka esai-esai Goenawan, disebut “terlalu banyak puisi untuk hal yang terlalu prosais.” Merujuk ciri-ciri Romantisisme seperti dipaparkan Stanford Encyclopaedia of Philosophy, kita mudah untuk sepakat dengan analisis Ignas Kleden dan juga rujukannya pada Karl Popper.

***

Lalu bagaimanakah masa depan sains? Apa yang dikemukakan Stanislav Grof barangkali bisa sedikit menghibur mereka yang mengidap rasa sengit terhadap sains – meski atas dasar ketakmengertian yang kronis, yang bahkan tetap bertahan walaupun telah diajukan penjelasan panjang-lebar yang seterang matahari pagi tentang apa dan bagaimanakah sains itu.

Menurut ahli biologi Jerman-Amerika itu, sains bisa dan akan berakhir jika tiga isu besar ini terpecahkan: 1] asal-usul alam semesta 2], kesadaran dan cara kerjanya; 3] mengapa sebuah entitas sesederhana spermatozoid bisa berkembang menjadi organisme yang begitu kompleks berupa manusia.

Tapi itu bukan berarti ikhtiar saintifik benar-benar berakhir dalam arti harfiah; ia lebih merupakan akhir simbolik. Sama saja dengan kalau orang berkata “filsafat sudah mati” [misalnya dikatakan oleh Stephen Hawking seperti dikutip Goenawan], tentu itu artinya kekuatan eksplanasi dan intelektual filsafat sudah pudar, makin jauh tertinggal dari kekuatan sains, yang ditopang oleh metodologi yang terus disempurnakan.

Tentu saja menggelikan jika pernyataan semacam itu dimaknai literal, apalagi oleh seorang yang menggandrungi metafora, dan orang yang mengatakannya harus memberi pembuktian “secara ilmiah” seperti diminta Goenawan; disetarakan dengan pernyataan tentang kematian klinis seekor kucing. Apalagi, metafor semacam itu sudah sering dikatakan orang, misalnya oleh F. Nietzsche [“God is dead”], Daniel Bell [The End of Ideology], Francis Fukuyama [The End of History], John Horgan [The End of Science].

Bahkan Martin Heidegger, filosof favorit Goenawan, punya buku berjudul The End of Philosophy [diterjemahkan oleh Joan Stambaugh]. Kepada mereka semua tentu tidak selayaknya kita minta pembuktian “secara ilmiah” atau menanyakan di manakah kuburan hal-hal yang sudah mati atau berakhir itu – bahkan sebagai gurauan pun permintaan naif ini tidak memenuhi syarat untuk disebut “lucuk”.

Jadi jelaslah, pernyataan “filsafat sudah mati” itu bahkan sudah dikatakan orang puluhan tahun silam; tentu tidak perlu disikapi dengan emosionalisme membara seolah-olah cuma saya sorangan yang berani-beraninya mengatakannya, tadi pagi.

Menurut Grof, kegiatan sains masih akan terus berlangsung di mana-mana dan dalam berbagai sektor dan disiplin. Tetapi kerja sains hanya berkenaan dengan cabang dan ranting-ranting saja, terutama yang terkait langsung dengan penciptaan teknologi. Sebab isu-isu terbesarnya, yaitu ketiga hal tadi, sudah terungkap.

Masalahnya, seandainya pun kita setuju dengan Stan Grof, jalan ke arah sana masih panjang dan berliku. Para fisikawan, misalnya, sejak beberapa dekade lalu berambisi mengupayakan "theory of everything", suatu kerangka teori koheren yang mampu mengaitkan seluruh aspek fisik alam semesta (yang pembentukannya melahirkan tiga bidang ilmu utama yaitu fisika, kimia dan biologi).

Banyak juga ahli yang percaya "teori segalanya" itu mungkin diraih. Konon sedikitnya kini ada dua calonnya, String Theory dan Loop Quantum Gravity. Tapi tak sedikit yang tak percaya. Geoffrey West, pakar fisika dan eks direktur Santa Fe Institute, cenderung menertawai upaya pencarian ToE itu, yang pernah pula diupayakan oleh Hawking tapi kemudian ditinggalkannya.

Bagi West, penulis Scale: The Universal Laws of Life and Death in Organisms, hal itu tak masuk akal. Sebuah teori yang lengkap di suatu disiplin atau subdisiplin mungkin saja diperoleh. Tapi ToE sungguh sukar dibayangkan.

Dan barangkali optimisme (?) Stan Grof dan pesimisme Geoffrey West itu kalah cepat dalam perlombaan dengan manusia-hibrid Ray Kurzweil. Semua rencana itu, baik perburuan ToE maupun impian West yang membiarkan setiap disiplin memburu teori lengkapnya masing-masing, akan menempuh jalur yang sama sekali baru, sesuai dengan ketakterdugaan perkembangan cyborg.

Alam semesta ini, kata Stephen Hawking, yang telah memberkahi kita dengan pemahaman yang menggetarkan tentang alam semesta, terbentuk karena hukum-hukumnya sendiri, 13,8 miliar tahun yang lalu. Pertanyaan tentang apa yang ada atau terjadi sebelum itu, menurut Hawking, adalah pertanyaan yang tak bermakna, karena pertanyaan itu mengasumsikan sudah ada waktu yang menjadi titik referensi, padahal dalam awal pembentukan universe tersebut waktu tidak ada.

Pertanyaan ini, katanya, setara dengan pertanyaan: apa bagian selatannya Kutub Selatan (what lies south of the South Pole); apa yang ia disebut "no-boundary proposal" yang ia rumuskan bersama James Hartle ini dikemukakan pertama kali di forum akademis Vatikan pada 1981, diutarakannya dalam buku Grand Design [2010], dan diulanginya 1,5 tahun sebelum ia wafat.

Ia menyebut bentuk alam semesta di masa formatif itu seperti kok bulu tangkis (shuttlecock) dalam posisi melintang, dengan bidang dasarnya berupa ruang murni (tanpa waktu).

Terhadap ungkapan masyhur yang disebut dinyatakan oleh Albert Einstein, bahwa "Tuhan tidak bermain dadu", sanggahan Hawking membuyarkan semua upaya pemanfaatan religius atas pernyataan itu dengan mengatakan: "Masalahnya, Tuhan melempar dadu itu di tempat yang kita tidak bisa temukan."

Jadi ikhtiar saintifik haruslah diteruskan, untuk menemukan tempat dadu-dadu metaforis itu dilontarkan, tanpa perlu dihalangi oleh godaan-godaan keyakinan yang tak mungkin dipertanggungjawabkan dari segi epistemologi, karena tiada jalan apa pun bagi upaya pembuktian atas keyakinan itu.

Steven Weinberg termasuk orang yang tidak tahu di manakah tempat dadu-dadu itu dilempar. Ia mengatakan, alam semesta ini tak bertujuan [purposeless]. Ia tahu, banyak orang akan keberatan dengan pernyataannya yang seolah menghancurkan segala sesuatu yang diyakini memiliki tujuan luhur. Tapi, kata Weinberg, pemenang Nobel Fisika 1979, fakta itulah yang ia temukan dari upaya pencarian matematis atas dasar kejujuran akademis-ilmiahnya.

***

Sejarawan Harari, sambil mengakui betapa besar dunia membaik berkat perkembangan sains dalam beberapa ratus tahun terakhir (harapan hidup yang memanjang, kesejahteraan umum meningkat tinggi) tak bisa menjawab soal kebahagiaan. Apakah manusia sekarang lebih bahagia dibanding lima ratus tahun silam? Tidak dapat dipastikan.

Ia juga menganggap manusia, seperti alam semesta, tak bertujuan; sebab evolusi yang mengaturnya hanya berkepentingan dengan reproduksi, urusan menyambung rantai evolusi dengan memperbanyak jumlah, bukan dengan tujuan hidup ataupun kebahagiaan.

Tetapi dalam konteks sejarah, terlihat jelas umat manusia bergerak konvergen, cenderung merasa bahwa kemanusiaan adalah satu, meski berbagai cirinya beraneka ragam. Setelah pertama kali keluar dari Afrika 70 ribu tahun lalu dan berpencar sampai akhirnya menempati seluruh sudut bumi (kini tak ada satu pun pojok bumi yang tak dihuni atau disinggahi manusia), lalu di sana-sini mengobarkan perang yang sering sangat bengis, kini manusia bergerak untuk terus mempersatukan diri, bukan secara fisik, tapi terutama secara mental.

Kehadiran PBB dengan segala lembaga berbagai bidang yang dipayunginya bisa dilihat sebagai simbol hasrat bersatu itu. Ukuran-ukuran kesehatan, keamanan, kebersihan, kesejahteraan hidup dan pendidikan, misalnya, terus ditetapkan sama untuk semua warga di semua negara.

Semua itu akan berhenti jika ramalan Ray Kurzweil, untuk ke sekian puluh kalinya, terbukti. Dan ia bukan hanya meramal, atau menunggu ramalannya terbukti sendiri. Ia turut aktif mewujudkan ramalannya itu dengan segala macam aktivitas guna melahirkan manusia-hibrid, mematangkan situasi Singularity, ketika sejarah manusia-biologis berakhir. Dan manusia keluar dari skema evolusi yang sudah berlangsung 3.5 miliar tahun – jejak sel tunggal atau LUCA dari masa itu, kata para ahli biologi, masih ada di dalam tubuh kita hari ini – untuk melangkah ke arah yang belum dapat diperkirakan.

Kita juga tak bisa hanya berdebar menunggu Singularity yang tak lama lagi itu. Apa pun yang terjadi, keadaan apa pun yang melingkupi diri kita, termasuk dikepung jenis virus baru seperti yang mencekam kita hari-hari ini, kita boleh terus bertanya.

Dan sains akan terus membantu kita merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang benar dan berguna dalam hidup yang maknanya perlu terus diperkaya, agar the purposelessness of life tidak sia-sia sempurna, sebab kita telanjur ada di dalamnya.

Sumbangan sains itu tidak perlu direcoki dengan tuduhan-tuduhan palsu yang dangkal, distortif dan hanya merupakan pameran desperasi. Sudah jelas ilmuwan-ilmuwan terpenting dalam sejarah mutakhir pun kritis terhadap dunia sains, seperti misalnya ditunjukkan oleh Stephen Hawking dan beribu-ribu ilmuwan dan teknolog lain dengan petisi mereka kepada PBB agar mengatur pengembangan teknologi artificial intelligence.

Kaum awam penggandrung sains pun sangat paham tentang isu sederhana ini, yaitu bahwa sains bukan hal yang sempurna. Para filosof lampau yang nama-namanya banyak dimunculkan dalam polemik ini sudah jauh sekali tertinggal relevansinya dari perkembangan sains mutakhir.

Senam filsafat yang coba dilakukan oleh para pengikut bapak-bapak filosof Eropa itu, yang sangat mungkin spekulasi-spekulasinya saling berbenturan – tapi pendapat-pendapat mereka yang dimutilasi di sana-sini diringkus saja sekenanya tanpa peduli pentingnya kejujuran intelektual, konsistensi dan koherensi ide – hanya akan berputar-putar di sekitar teriakan tuduhan saintisme.

Teriakan itu makin parau, dan akhirnya tak lebih hanya menggemakan kecemasan agama terhadap sains, terutama di Amerika – hanya kalangan itu yang sampai hari ini masih sekali-sekali mencoba meneriakkannya, tentu tanpa hasil apa pun. Mungkin karena fakta ini maka Goenawan kemudian enggan melanjutkan pembahasan tentang “saintisme”.

Saya rasa orang-orang yang memilih meledek apa yang mereka sebut “saintisme” telah salah pilih. Bukannya turut mengapresiasi sains modern, dengan segala kurang-lebihnya – dan siapa tahu dengan ini makin banyak orang yang mengembangkan perangai ilmiah, dan bukan suntuk dengan takhayul dan obskurantisme – mereka malah sibuk menggambar aspek karikaturalnya, sambil tak bosan-bosannya memamah spekulasi-spekulasi filsafat baheula, yang ternyata tak pula mereka pahami dengan memadai, seperti diakui oleh Goenawan tentang Martin Heidegger, seorang filosof anti-Semit dan pendukung loyal Nazi, sehingga sejumlah penulis, misalnya Fried Gregory, menghubungkan filsafatnya dengan Naziisme.

***

Saya telah mencoba menunjukkan amat sedikit perkembangan sains mutakhir, yang sedang dan akan mengubah wajah dunia, bahkan berpotensi menjungkirbalikkan eksistensi kita sebagai manusia. Saya mengungkapkannya sambil sekali lagi mengingatkan tentang cicak Ivan Turgenev. Adalah ironi besar jika mereka terus memegang ekor cicak tanpa menyadari cicaknya sudah berlalu sambil menumbuhkan ekor baru.

Tapi bagi Goenawan, ilustrasi panjang tentang state of the art sains di berbagai bidang itu hanyalah “katalogus sains yang hebat-hebat” dan “tak memberi insight baru”; tanpa menyadari yang dilakukannya adalah tak henti-hentinya menyuguhkan katalogus usang ide filosof-filosof lama Eropa, yang tak ada hubungan apa pun dengan perkembangan sains mutakhir. Dalam konteks ini ia tergopoh-gopoh memburu nama yang tampak baru didengarnya, dan segera mengutipnya, walaupun “saya belum paham benar pemikiran Meillassoux.”

Bahkan saat spekulasi-spekulasi itu diungkapkan berpuluh-puluh tahun silam, umpamanya oleh pemuda usia 30an seperti Heidegger, ia dikategorikan sebagai “agrarian nostalgia”, misalnya oleh arsitek-filosof Nader el-Bizri.

Saya mencoba menarik diskusi ke situasi sains mutakhir, agar polemik ini relevan, antara lain karena ada banyak dilema di sana, dan sebagian dilema itu bahkan terkait langsung dengan eksistensi manusia di bumi ini. Bukankah hal ini merupakan “a clear and present danger” yang patut mendapat perhatian besar kita sebagai warga bumi?

Tapi Goenawan menampik ajakan ini, malah menganggap saya “mengelak berkonfrontasi” dengan pertanyaan epistemologis karena dasar epistemologi saya kurang siap. Padahal, menurut dia, untuk memahami semua itu “memang diperlukan dasar epistemologi yang kuat – juga filsafat.” Ia lalu menyayangkan saya yang “tak [mau] belajar filsafat.”

Saya tidak tahu apa yang dimaksud Goenawan dengan “belajar filsafat”. Jika yang dia maksud adalah belajar formal di ruang kuliah, saya memang hanya sempat belajar Filsafat Ilmu satu semester semasa kuliah, selain belajar Filsafat Hukum dan Filsafat Hukum Islam. Saya memang sangat sedikit membaca, misalnya, Thomas Kuhn, Karl Popper, Feyerabend atau Imre Lakatos.

Subjek ini memang berat, maka saya mencoba menyentuhnya di permukaan saja, lalu berusaha menarik perhatian pada apa yang saya pandang urgen, yaitu mencoba menularkan scientific temper pada publik pembaca polemik, pada perkembangan sains mutakhir berikut dilema-dilemanya. Saya pikir biarlah para peserta lain yang lebih paham tentang epistemologi yang membahasnya, dengan begitu polemik ini bisa lebih kaya.

Tapi setahu saya, Goenawan sendiri tidak pernah belajar formal tentang filsafat, juga tentang semua subjek yang dengan gagah-berani dibahasnya – kapitalisme, sosialisme, perubahan iklim, pisang, kesastraan, Tuhan, epidemiologi, agama, dan ... semua urusan yang pernah dikenal umat manusia, bahkan sains.

Dalam isu epistemologi, misalnya, seperti terlihat jelas dari polemik ini, Goenawan bukan hanya kurang siap, tapi cetusan-cetusan pendapatnya lebih sering membingungkan daripada menjernihkan duduk perkara.

Kutipan-kutipannya atas Alfred Whitehead, misalnya, sungguh ganjil, dan sulit dipercaya bahwa Whitehead berpendapat seperti itu [misalnya tentang ketidakperluan berpikir keras dan tertib]; bahkan “empirisme radikal” Whitehead, aneh sekali, disetujuinya [ini sebetulnya alternatif untuk kritiknya terhadap filosof David Hume, bukan kritik atas Issac Newton; pemikiran Hume disebutnya "sensationalist empiricism").

Dan kekeruhan itu dari hari ke hari terlihat makin jelas. Sehingga Bambang Sugiharto, misalnya, yang tampaknya diajak Goenawan turut dalam polemik ini, justru banyak menjelaskan makna “model” dalam sains [meski pointersnya itu problematik juga karena dicampuraduk dengan teknologi], dan penjelasan itu tentu saja ditujukan kepada Goenawan, karena dialah yang sibuk menyanggah validitas modeling sains yang disebutnya mereduksi realitas.

Yang mengherankan juga: tulisan profesor filsafat dari Bandung itu dipenuhi kata dan frasa dalam huruf kapital [jadi, ia seperti sedang menjerit-jerit], sehingga seseorang di wall Goenawan menilai “ketikan Pak Goenawan lebih rapi” dibanding ketikan Pak Bambang, yang rupanya kurang paham pentingnya kerapian ketikan dalam sebuah tulisan.

Jika yang dimaksud Goenawan dengan “belajar filsafat” adalah membaca bacaan-bacaan populer filsafat, terutama yang berserakan di internet, saya juga sedikit-sedikit bacalah. Pastilah tidak setekun dia, tapi setidak-tidaknya saya mengerti perbedaan antara penyidik dan penyelidik; mengerti juga perbedaan ilmu alam dan ilmu sosial; bahkan saya agak paham bahwa membuat metafora itu tidak boleh semau-mau, dan tak boleh dengan pertimbangan kreatif dan keindahan semata.

Saya juga tidak pernah menyebut istilah lama “ilmu pasti” atau “ilmu eksakta”; bahkan jurusan saya di SMA, puluhan tahun lalu, sudah menggunakan istilah “Ilmu Pengetahuan Alam”. Karena itu saya sering juga ikut praktikum di laboratorium, tapi saya tidak mungkin dengan naif meyakini bahwa biologi telah diringkus dan direduksi oleh preparat dan mikroskop di laboratorium sederhana itu.

Sebab saya tahu: biologi sudah jauh sekali berkembang. Para fisikawan, misalnya, makin banyak yang terjun ke bidang biologi molekuler, yang bekerja dengan model-model matematika [bukan dengan preparat dan mikroskop]; seperti dikerjakan oleh Abdus Salam untuk meneliti asam amino, dan tiba pada kesimpulan sementara: asal muasal manusia adalah dari luar bumi.

***

Saya sangat heran terhadap usikan Goenawan tentang “belajar filsafat” dan “epistemologi yang kurang siap” itu; ini saya rasa menyentuh taktik argumentum ad hominem [biasanya ini isyarat kelemahan atas substansi diskusi]. Padahal, setiap saya menikmati puisi-puisinya, misalnya, saya tidak pernah peduli dan bertanya di universitas mana ia belajar menulis puisi; saya juga tak bertanya di fakultas apa ia belajar menulis naskah drama dan menyutradarainya.

Saya hanya berfokus dan menilai kualitas karya-karya itu. Jika suatu puisi saya anggap bagus, misalnya, penilaian itu tidak akan saya batalkan, kalaupun saya kemudian tahu bahwa penciptanya tidak pernah kuliah di fakultas sajak atau akademi puisi. Jika karya itu jelek, saya pun akan mengkritiknya tanpa mengaitkan dengan ukuran celana penyairnya, bakmi kesukaannya, dan hal-hal tak selesai lainnya.

Akhirnya, saya perlu menegaskan lagi apa yang semula saya kira tak perlu dijelaskan bahwa yang saya maksud “filsafat sudah mati” adalah dalam pengertian simbolik, metaforis, katakanlah seperti “God is dead” Nietzsche – yang oleh Goenawan tak pernah didesak untuk dijelaskan “secara ilmiah”. Dan itu tidak berarti filsafat tak berguna sama sekali. Karl Popper menggolongkan filsafat ke dalam pengetahuan pre-science [lihat bukunya, The Logic of Scientific Discovery, 1959].

Ia tidak ilmiah, kata Popper, tapi yang tidak ilmiah tak niscaya mubazir. Kesepakatan tentang hak-hak asasi manusia, misalnya, yang diadopsi PBB sejak 1948, itu tidak ilmiah.

Di dalam tubuh manusia tidak ada HAM. Yang ada adalah jantung, usus, ginjal, dan sebagainya. Tapi prinsip HAM penting sebagai sarana menghormati martabat warga negara [ini juga tidak ilmiah], terutama dari potensi pelanggaran oleh negara; dan konseptualisasi cakupannya terus diperluas.

Masalah-masalah dunia dan kehidupan yang membutuhkan jawaban dan pemecahan makin banyak. Sains, dengan segala keterbatasannya – tapi jenis-jenis pengetahuan lain mungkin lebih sulit diandalkan – membantu kita merumuskan pertanyaan yang bermakna, sebab pertanyaan kadang lebih penting daripada jawaban.

Dengarlah Richard Feynman: "Saya lebih suka memiliki pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab daripada punya jawaban atas pertanyaan yang tidak bisa diajukan."

Dan itu adalah pernyataan arif yang rendah hati – bukan pongah dan mengidap saintisme.