Filosofi teras atau yang lebih dikenal sebagai "Stoicism"  merupakan aliran filsafat yang menajuk di periode Hellenistik. Stoikisme ditemukan dan didirikan oleh Zeno (335-263 SM) dari Citium pada abad 300 SM. 

Mengapa disebut filosofi teras? Pada saat itu, Zeno menerima murid-muridnya dengan mengobrol santai di teras yang berpilar, dalam bahasa Yunani "Stoa" berarti teras yang berpilar, sehingga lahirlah filosofi Stoikisme. 

Seneca, Epictetus, dan Marcus Aurelius adalah tiga nama-nama besar Stoikisme. Seneca adalah orang berkebangsaan Spanyol yang bekerja di pemerintahan Romawi Kuno sebagai penasihat kaisar, Marcus Aurelius merupakan seorang kaisar kerajaan Romawi Kuno, sedangkan Epictetus merupakan seorang mantan budak. 

Seneca merupakan filsuf Stoikisme yang terbaik di abad ke-17, sedangkan Epictetus dan Marcus Aurelius di akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Wafatnya Marcus Aurelius di tepi sungai Danube menandakan berakhirnya mazhab Stoikisme. 

Lantas, apa yang menjadikan filsafat Stoikisme abadi dan masih sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari hingga masa kini? Untuk itu kita perlu mengetahui apa sebenarnya ideologi dari filsafat Stoikisme.

Filsafat Stoikisme mengarah pada ketenangan hidup, kecukupan hidup, kedamaian hati dan pikir, tidak takut akan kemiskinan, kesengsaraan, dan kematian—nerimo ing pandhum (Simon B, 2013: 836). Istilah lainnya yaitu legowo. 

Filsafat Stoikisme juga meyakini keberadaan Logos (Tuhan) yang menyertai dan menguasai alam semesta. Menyerahkan diri kepada semesta, dan bersikap realistis karena ada kekuatan Logos yang menyertai.

Kebijakan (wisdom) merupakan aspek yang penting untuk mencapai kebahagiaan serta mempercayai bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini telah diatur oleh Logos merupakan ideologi dari filsafat Stoikisme. Sebagaimana dikatakan oleh Epictetus:

It's not what happens to you, but how you react to it that matters.

Ketika sesuatu yang buruk menimpa kita, ketika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi tidak ada yang bisa dilakukan selain menerima, karena segala sesuatu yang terjadi telah diatur oleh Logos. Kita harus menyikapinya dengan bijak, karena seperti kata Epictetus, bagaimana kita bereaksi dan menghadapi suatu peristiwa adalah yang terpenting. Bagaimana kita bisa menerima dan menghadapinya dengan bijak. 

Tentu hal tersebut sangat relevan dan membantu apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, karena dalam kehidupan sehari-hari akan selalu ada kejadian tidak diinginkan yang menimpa. 

Namun, bukan apa yang terjadi yang menjadi masalah melainkan bagaimana kita menghadapinya. Apakah kita akan emosi, marah, menolak atau memilih untuk tetap bersabar, menyerahkan diri, dan menerima. 

Selain Epictetus, filsuf besar Stoikisme yaitu Seneca juga pernah melontarkan pernyataan berikut:

Every new beginning comes from some other beginning's end.


Di dalam hidup ini kita akan bertemu seseorang, kita juga akan selalu memulai sesuatu seperti mulai kuliah, mulai kerja, serta mulai-mulai lainnya, namun yang pasti kehadirannya adalah akhir dari mulai-mulai tersebut. 

Ketika kita mulai kuliah kita akan sampai pada waktu lulus kuliah, ketika mulai bekerja kita akan sampai pada waktu resign, dsb. Selain itu, ketika bertemu seseorang kita juga tidak boleh melupakan kehadiran "pisah" yang selalu menjadi teman baik "temu". Entah bagaimana caranya, apakah orang tersebut akan wafat dan meninggalkan kita, atau menemukan kebahagiaan lain yang membuat berpaling. 

Namun yang harus diingat, seperti perkataan Seneca, lembaran baru akan terbuka ketika lembaran lama tertutup. Bagaimana kita bisa hidup menerima kenyataan bahwa tidak semua berjalan sesuai kemauan, bagaimana menyikapi realita bahwa akan selalu ada lembaran baru yang harus diisi dan diteruskan.

Satu pemikiran lagi yang akan menjadi penutup dari tulisan ini, pemikiran kaisar Marcus Aurelius yang menurut saya sangat bijak:

You have power over your mind - not outside events. Realize this, and you will find strength.


Kita yang memegang kendali penuh atas pikiran kita, bukan orang lain. Jadi katakanlah "terpengaruh", pada dasarnya kita tidak pernah terpengaruh, karena kita memiliki kendali penuh atas pikiran kita.

Yang kita lakukan adalah memilih untuk mengikutinya sehingga terjadilah apa yang dinamakan "terpengaruh". Bukan pikiran lain yang merasuk dan membawa pikiran kita, melainkan kita sendiri. 

Ketika kita bisa mengontrol penuh dan menemukan apa yang dibutuhkan oleh diri kita dengan cara mengendalikan pikiran kita, percayalah, tidak akan ada yang sulit dalam menghadapi suatu apapun, karena we found strength in ourselves. 

Hal-hal tersebutlah yang menjadi daya tarik dari filsafat Stoikisme, serta bagaimana relevansinya terhadap kehidupan sehari-hari yang apabila diterapkan maka akan berdampak positif dalam kehidupan kita. 

Dengan demikian, kita dapat melihat bagaimana pentingnya menyingkirkan perasaan-perasaan serta pemikiran-pemikiran negatif dalam hidup kita untuk mencapai hidup yang lebih baik. Seperti 4 aspek dari Stoikisme prudence, justice, fortitude, and temperance.