Belakangan ini, isu virus Corona semakin melambung tinggi. Ia melampaui isu ideologi Pancasila. Dapat dikatakan, kini virus Corona masuk top trending. Ia menjadi pandemi, mewabah ke segala penjuru dunia. 

Sejatinya kita hidup di Bumi yang notabenya bukan planet Jupiter maupun Jupiter MX pastilah ada manusia. Manusia bukan malaikat, bukan pula setan yang artinya manusia adalah makhluk dinamis. Berubah-ubah kadang baik-buruk, waras-gila, resah dan santai. Inilah yang nantinya akan mempengaruhi manusia akan pandemi. 

Beberapa bulan lalu, berbagai sektor pendidikan, sekolah, pasar-pasar, ditutup (Lockdown), dengan tujuan untuk mengurangi dampak virus itu. Namun, kini, Indonesia sendiri sudah melakukan gerakan pembaruan, yaitu dengan melakukan kehidupan baru atau disebut New Normal. 

Kegiatan, seperti pendidikan, sosial, ekonomi, dan politik dibuka kembali dengan cara memperhatikan ketat protokol kesehatan. Bukan tanpa sebab dilakukannya New Normal, melainkan juga untuk membuka stabilitas bangsa. 

Meski demikian, bukan berarti tidak ada masalah baru terkait New Normal. Karena New Normal sendiri juga bisa New Problem. Seperti misal masih adanya yang melanggar aturan kesehatan, kebebasan yang keblablasan, atau memanfaatkan era baru ini untuk kepentingan pribadi. 

Asumsinya adalah beradaptasi dengan era baru ini bukanlah masalah sepele. Melainkan pula perlunya pemetaan dan strategi. Itu makanya, sekiranya penting untuk direfleksikan.

Terkait akan hal ini, tentu akan menarik bila berkaca dengan filsafat Stoa. Filsafat Stoa sendiri merupakan filsafat yang ada pada masa Yunani – Romawi (Sekitar abad 2 SM – 4 M). Aliran Stoa didirkan oleh Zeno dari Cittium di Siprus. 

Filsafat Stoa adalah filsafat yang unik. Di mana berbeda dengan filsafat Modern yang kebanyakan teori dan membingungkan (meski tidak semua), filsafat Stoa bersifat praktis. Filsafat adalah metode mencapai kebebasan batin. Meski kebahagian tidak pernah bisa dijadikan tujuan, kita bisa mengatakan bahwa filsafat menjadi jalan menuju kebahagiaan. 

Filsafat Stoa dapat menjadi obat di era baru ini, karena filsafat Stoa adalah filsafat terapi jiwa. Maksudnya, sering kali banyak orang terkena depresi dan setres terhadap pelbagai macam opini akan virus dan masa pandemi.

Tentu, Sains kini berlomba-lomba menemukan vaksin virus Corona. Namun rupanya, Sains belum mampu menjawab akan hal itu, belum ditemukannya vaksin itu sendiri. Dalam hal ini, pas jika filsafat (Stoikisme) menjadi penawar alternatif untuk menyembuhkan depresi dan setres. 

Olahraga memang perlu, namun perlu juga olahpikir dan olahrasa. Kiranya begitulah filsafat Stoa dalam merespon era baru ini. Untuk mengolah pikiran dan rasa, ada ajaran Stoa; apa yang tergantung dan apa yang tidak tergantung. 

Kaca mata Stoa, apa yang tidak tergantung, virus ini merupakan kodrat alam. Memang, hal demikian bisa jadi deterministik. Namun filsafat Stoa juga bukan filsafat yang sifatnya menyerah atau putus asa. Ada tawaran, memilah dan memilih, yaitu apa yang tergantung, memeriksa batin. 

Dalam merespon era baru ini, Stoa mengajarkan untuk tetap santai, dan santai bukan berarti menyepelekan. Dengan cara, pembalikan, jika seorang biasanya frustasi akibat  angka dampak terkena Corona semakin tinggi, maka harus dibalikkan, seolah-olah angka itu juga bisa semakin berkurang. 

Ambil contoh dalam kasus smartphone, sering kali kita kecanduan smartphone, pagi, siang, dan malam, kita tidak pernah lepas dari smartphone. Nah, dalam cara pembalikkan, kita harus mengurangi penggunaan smartphone itu sendiri. Atau bahkan kita kembali ke HP jadul. 

Selain model pembalikkan seperti smartphone, ada ajaran pemilahan. Tentu, pemilahan pun dilakukan dengan melakukan berbagai pertimbangan emosi atau dapat dikatakan, mengkontrol emosi. 

Halnya mirip seperti misal, untuk seorang yang hobi makan. Seorang sering galau memilih apakah hendaknya makan Steak di restoran mewah, ataukah sate ayam di pinggir jalan? 

Proses pemilahan seperti itu agaknya rumit. Namun, pemilahan akan menjadi tanpa drama dan sederhana apabila seseorang paham bahwa soalnya hanyalah sekedar memilih antara daging. 

Model pembalikan seperti smartphone dan pemilihan makan tersebut kiranya juga cocok untuk seorang dalam menghadapi pelbagai macam opini pandemi dan era New Normal ini. Karena sering kali seorang frustasi, galau, kacau, dan depresi, adalah cara seorang yang keliru dalam merespon opini. Itu makanya, seorang pun perlu memilah pelbagai macam opini dan mengkontrol emosi-emosi negatif. 

Terapi jiwa seperti itu, meski seolah terlihat mudah, ia juga harus dilatih dan dibiasakan. Dan ketika seorang itu sudah bisa mengkontrol emosi negatifnya akan pandemi ini, itu juga tidak boleh dielu-elukan. Karena Stoikisme juga mengajarkan untuk tetap rendah hati. 

Lewat pemeriksaan batin, dan latihan-latihan meluruskan cara menilai, bertindak dan merespon sesuatu hendaknya dengan emosi yang positif. Postif dalam artian tenang dan damai. Dengan begitu, sekiranya manusia bukan hanya dapat merespon berbagai macam opini, melainkan juga dapat memperoleh kedamaian batin atau kebahagiaan. 

Tulisan seperti ini mungkin tidak mampu untuk mengusir virus ini seperti sulap slim salabim. Namun, setidaknya, kita dapat merefleksi diri dan mengambil sisi positif dalam era baru ini dan semoga bermanfaat.