Filsafat sejarah sebagai ilmu filsafat memiliki beberapa manfaat untuk dapat dipelajari secara lebih mendalam. 

Manfaat-manfaat dari mempelajari filsafat sejarah tersebut yakni dapat memberikan acuan secara lebih mendalam dan tajam berkenaan dengan kekritisan dalam berpikir sebagai seorang pemikir dan peneliti sejarah.

Dengan mempelajari filsafat sejarah, seseorang bukan sekadar belajar mengenai deskripsi dan informasi tentang sejarah yang telah terjadi di masa silam semata, melainkan jauh lebih dalam lagi, mereka akan belajar pula untuk dapat berpikir kritis serta mempertajam sebuah penilitian sejarah suatu hal.

Filsafat Sejarah Spekulatif

Unsur atau pendekatan yang kedua dari filsafat sejarah yakni berkenaan dengan filsafat sejarah spekulatif. Dalam pendekatan filsafat sejarah spekulatif ini lebih memberikan suatu penglihatan atau pandangan berkenaan dengan suatu sejarah atau fakta sejarah tertentu secara lebih dalam dan menyeluruh atau secara keseluruhan.

Pendekatan filsafat sejarah spekulatif ini yakni berupaya untuk dapat mencari dan menemukan sebuah landasan dasar atau struktur fondasi dari arus sejarah itu berkenaan dengan suatu sejarah yang lebih hakiki.

Filsafat Sejarah Spekulatif dan Oswald Spengler

Dalam teori filsafat sejarah spekulatif terdapat beberapa tokoh yang mengemukakan pemikirannya berkenaan dengan teori sejarah spekulatif. Tokoh-tokoh tersebut yakni George Frederic Hegel, Oswald Spengler, dan Arnold Toynbee. Pada kali ini membahas secara khusus berkenaan dengan teori sejarah spekulatif dari Oswald Spengler.

Spengler memberikan gagasan penolakan terhadap teori sejarah yang sangat linier. Sejarah linier yakni sejarah yang berangkat dari situasi lemah kemudian terus bertumbuh menjadi suatu sejarah yang sangat kuat.

Hal ini merupakan ciri khas dari pemikiran serta ambisi dan ego dari manusia-manusia di Eropa atau manusia Barat yang sangatlah berambisi untuk menjadi pusat dari dunia itu sendiri.

Menurut pandangan dari Spengler, setiap sejarah atau kebudayaan dari peradaban tertentu pasti memiliki suatu simbol yang paling utama dan pertama. Spengler menyebutnya sebagai prime symbol. 

Simbol-simbol dari kebudayaan serta peradaban ini tercermin dari bentuk-bentuk arsitektural, agama, seni, dan hal-hal lainnya yang menjadi sumber sejarah dari peradaban atau budaya tertentu. 

Hal ini nampak jelas dalam simbol-simbol yang dipakai oleh bangsa Mesir, Yunani kuno, Romawi, China, dan bangsa-bangsa besar lainnya yang memiliki banyak sekali simbol-simbol utama atau prime symbol tersebut.

Sehingga dengan demikian bukan hanya manusia Barat saja yang memilikinya, melainkan bangsa-bangsa alinnya juga memiliki hal tersebut.

Spengler menggambarkan bentuk sejarah spekulatifnya seperti halnya kurva yang berawal dari suatu titik nol, kemudian terus-menerus naik dan memuncuk, lalu kembali pada titik turunnya.

Hal ini ia gambarkan seperti halnya proses sejarah kehidupan makhluk hidup di dunia. Setiap makhluk hidup tentu mengalami fase-fase kehidupan. 

Hal inilah yang menjadi gambaran serta penelitian fase kehidupan berdasarkan ilmu biologi atau morfologi makhluk hidup.

Fase kehidupan makhluk hidup ini pastilah berasal dari suatu kelahiran (birth) – bertumbuh dan berkembang (development fulfillment) – kemunduruan/kebusukan (decay) – kematian (death).

Perkembangan dalam fase tersebut diterapkan oleh Spengler untuk merumuskan pemikirannya mengenai pendekatan filsafat sejarah spekulatifnya.

Oleh sebab itulah, kerapkali pendekatan filsafat sejarah spekulatif dari Oswald Spengler disebut sebagai filsafat sejarah berbentuk siklus yang berawal dari nol kemduian memuncak dan kembali ke nol lagi dan seterusnya seperti itu.

Sejarah Indonesia dalam Terang Filsafat Sejarah

Sebagai contoh dari gambaran pendekatan filsafat sejarah spekulatif dari Oswald Spengler ini adalah sejarah mengenai bangsa Indonesia sendiri yang merangkum secara nyata.

Sejak sediakala berdasarkan data sejarah serta pelbagai tulisan sastra kuno, bangsa Indonesia ini berasal dari sekumpulan kerajaan-kerajaan. 

Namun sebelumnya terdapat suatu Kerajaan yang sangatlah besar sebagai pendahulunya yakni Kerajaan Sriwijaya Hindhu-Buddha yang sangatlah berjaya di masa yang silam.

Kerajaan tersebut sangatlah luas dan melingkupi wilayah yang sangat luas baik dalam hal wilayah daratan maupun lautan. Kerajaan ini dikenal sebagai Kerajaan Maritim terbesar pada waktu itu karena cakupan wilayah lautannya yang amatlah luas serta bala tentara maritimnya yang tak terkalahkan.

Wilayah Kerajaannya inilah yang dinamakan sebagai Nusantara. Cakupan wilayahnya sekarang ini tersebar mulai dari Sumatra, Malaysia, Singapura, Kalimantan, Sulawesi, Brunei Darusalam, Myanmar, Papua, Jawa, Nusa Tenggara, dan Bali. 

Namun pada akhirnya, Kerajaan ini hancur dan terpecah belah. Kemudian Kerajaan Sriwijaya diteruskan kejayaannya oleh Kerajaan Majapahit.

Kerajaan Majapahit memiliki semangat untuk membangun kembali kejayaan masa-masa silam yang dialami oleh Kerajaan Sriwijaya sehingga dengan demikian cakupan Kerajaan dari Majapahit sama seperti cakupan Kerajaan Sriwijaya.

Namun apada akhirnya pula, Kerajaan Majapahit telah hancur dan terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil lainnya. Hingga pada saat ini lahirlah negara Indonesia.

Para pendiri bangsa Indonesia memiliki rasa dan semangat yang sama yakni menyatukan Bumi Nusantara seperti yang telah dialami oleh Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit.

Cakupan wilayah bangsa Indonesia juga hampir sama dengan cakupan wilayah kejayaan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit hanya berkurang di bagian Papua, Malaysia, Timor Leste, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Melalui serangkaian peristiwa sejarah tersebut menunjukkan sebuah siklus yang digagas oleh Spengler. Serangkaian peristiwa sejarah tersebut menunjukkan suatu fase kehidupan makhluk hidup yakni berawal dari kelahiran kemudian mengalami perkembangan yang sangat signifikan bahkan meraih masa-masa kejayaannya.

Hingga pada akhirnya membusuk dan runtuh sampai tiada. Lalu, kembali lagi diteruskan pada serangkaian sejarah selanjutnya seperti halnya fase kehidupan yakni kelahiran (birth) – bertumbuh dan berkembang (development fulfillment) – kemunduruan/kebusukan (decay) – kematian (death).

Hingga kini Indonesia masihlah tetap ada dan masih dalam masa pertumbuhannya. Akankah bangsa Indonesia akan mengalami kejayaan menjadi negara super power seperti Kerajaan pendahulunya hingga mencapai ketiadaannya?

Entahlah, sejarah yang akan membuktikannya.