Manusia adalah makhluk yang berakal budi. Pernyataan ini tegas. Sebab inilah yang membedakan manusia dengan mahkluk yang lainnya. Aristoteleslah filsuf yang mencetus gagasan manusia sebagai animal rational (binatang berakal budi).

Manusia juga adalah seorang homo homini socius, kata Thomas Hobbes.  Ia makhluk yang bersosial. Tidak ada manusia yang mampu hidup sendiri. Omong kosong belaka jika kita mendengar seseorang yang hanya merasa mampu hidup sendiri. Jika demikian, ia melanggar kodratnya.

Pengetahuan akan kodrat manusia yang rasional dan sosial nyatanya tidaklah cukup. Manusia terlalu kompleks untuk direduksikan pada misal sekadar akal budinya. Manusia tinggal dan ada di dalam dunia (in-der-Welt-Sein) dan semesta dimensi kehidupannya yang luas. Filsafat dan disiplin ilmu apapun tidak akan pernah tuntas dalam mengurai siapa manusia.

Refleksi soal siapa manusia muncul dalam ide filsafat relasionalitas. Hal ini diurai panjang lebar salah seorang filsuf di Indonesia Armada Riyanto dalam karyanya Relasionalitas-Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan dan Fenomen (Kanisius, 2018).

“Kodrat manusia bukan hanya rasional, tetapi juga relasional. Kemanusiaan bukan hanya dalam ranah rasionalitas tetapi juga relasionalitas. Relasionalitas dengan demikian adalah natura kemanusiaan kita.” (hlm. I)

Dalam buku tersebut, Armada mengelaborasi secara khusus relasioanalitas antara “Aku” sebagai subjek dengan teks, fenomen atau realitas, dan liyan. Liyan sendiri adalah bahasa Indonesia serapan dari bahasa Jawa yang berarti ‘yang lain’.

Penggalian filosofis siapa, apa, mengapa, bagaimana tema-tema “Aku”, “teks”, “fenomen” dan “liyan” ini pada nantinya ditujukan untuk menyusun fondasi yang kokoh soal hermeneutika. Sebab ketika berbicara soal hermeneutika, seseorang itu sedang mencari dan berbicara soal makna.

Oleh karena itu, manusia harus mengenal dirinya terlebih dahulu. Di depan gerbang masuk Kuil Apollo Yunani, terdapat tulisan gnothi seauton,  (Latin: nosce te ipsum) yang artinya ‘kenalilah dirimu sendiri’. Kesadaran siapa "Aku" adalah awal dari pengetahuan manusia.

Kesadaran “Aku” bukan sekadar tahu tentang “aku”. Kesadaran ini mengandung konsekuensi etis. “Aku” bukan sekadar akal budiku, tubuhku, tanganku, ataupun pengetahuan informatif  tentang “aku” seperti identitas KTP belaka tetapi juga setiap tindakannya.

“Aku” adalah keseluruhan eksistensi, pengalaman, harapan, kecemasan, kegembiraan, kesedihan. keseharian dan apapun yang menjadi kepemilikan si “aku”. Di sini ‘Aku’ adalah subjeknya, yang berelasi dengan yang lain.

**

Pertama, “Aku” dan “Teks”. Ketika “Aku” berhadapan dengan sebuah teks terjalinlah sebuah relasi. Ada dialog antara dunia si “Aku” dan dunia teks. Inilah proses hermeneutika alias seni menafsirkan.

Relasionalitas “Aku” dan teks tidak bertujuan akhir pada sekadar pemahaman dan pengetahuan belaka. Jika demikian, akan sangat berbahaya bila pemahaman dan pengetahuan tersebut menjadi eksklusif: Pengertian saya sajalah yang benar, anda salah. Saya yang berhak menafsir, tetapi anda pasti kafir.

Paul Ricoeur mengatakan bahwa tidak cukup hanya sekadar memahami teks. Sebab teks adalah belantara peziarahan makna yang tiada akhir. “Aku” menempatkan diri sebagai murid dari teks.

Menjadi murid teks berarti mau mentransformasi diri, memiliki kebaruan hidup, lebih toleran dan solider, menghargai liyan, dan senantiasa menjunjung keutamaan-keutamaan etis.

**

Kedua, relasionalitas “Aku” dan “Fenomen” (The reality). Bagi Armada, fenomen itu berkarakter naratif. Sebab, manusia diundang untuk mengalami, memaknai dan menginterpretasikannya.

Karakter naratif itu memaksudkan bahwa realita tidak pernah tetap, selalu mengalir (phanta rei), punya cerita. Simak saja kisah-ksiah hidup kita entah kisah asmara, pekerjaan, penghayatan hidup relijius, relasi dengan keluarga atau rekan kantor, semuanya punya cerita. Begitu interesan,  pengalaman yang dialami beberapa orang tidak pernah sekalipun dimaknai secara sama.

Dalam diskursus histori filsafat, pergulatan para filsuf adalah soal fenomen atau realitas. Para filsuf Yunani awali bergulat dengan narasi mitologi. Filsuf abad pertengahan mencari kebenaran filosofis dari wahyu agama. Sementara filsafat modern yang berpusat pada narasi humanisme hingga filsuf postmodernis yang dekosntruktif. Semuanya itu menghasilkan cetusan pengetahuan baru dalam rangka mengerti fenomen.

Dengan demikian, relasionalitas mewujud dalam rasionalitas. Saat itu, relasi menjadi fondasi untuk mengerti dan memahami fenomen alam semesta dan hidup harian manusia. Secara khusus, studi mengenai fenomen disebut fenomenologi. Dalam fenomenologi, fenomen atau peristiwa dilihat sebagaimana adanya, lepas dari pemahaman yang sudah ada atau muncul belakangan dalam budi.

Anekdot naratif dialog antara Sherlock dan Watson menjelaskan secara sederhana bagaimana melihat fenomena sebagaimana adanya.

Suatu kali Sherlock dan dr. Watson membangun tenda lalu berkemah di alam terbuka. Saat jam tiga pagi, mereka terbangun. Sherlock melontarkan pertanyaan, “Watson, lihat ke atas, apa yang kau lihat?”

Panjang lebar, Watson menjelaskan secara: filosofis arti langit, astronomis nama-nama bintang, teologis kebesaran Yang Ilahi, dan klimatologis bahwa cuaca akan cerah besok.

Sherlock hanya berkata,”Tenda kita hilang.”

**

Relasionalitas berikutnya ialah antara “Aku” dan Liyan. Siapakah liyan itu?

Liyan adalah mereka yang di-lainkan. Liyan adalah mereka yang dieksklusikan dari kategori subjektif “Aku” dan kelompok saya. Mereka adalah “orang ketiga”, bukan “Kita”.

Liyan kerap termarginalisasi dari pengelolaan tata hidup bersama. Mereka terperosok ke luar peradaban humanitas yang manusiawi. Liyan juga menunjukkan realitas keterbelengguan, ia tidak merdeka dengan pikiran dan tubuhnya sendiri. Liyan itu tidak merdeka.

Kini liyan dapat kita mengerti sebagai mereka yang miskin, bodoh, tersisih dari penggolongan dan kasta sosial, yang sakit, inosen yang dikriminalisasi, kaum difabel, korban HAM, korban pencemaran lingkungan, kaum minoritas, perempuan, penganut kepercayaan, bahkan secara menyakitkan yang terjadi di Indonesia, liyan adalah orang Papua.

Bahkan dalam situasi pandemi Covid-19 ini, liyan adalah dokter dan perawat yang diusir masyarakat sekitar dari indekosnya karena takut tertular. Realita hidup yang sama sekali tidak manusiawi!

Ketika me-liyankan yang lain, seseorang melupakan bahwa manusia selalu mencari makna. Makna itu adalah semesta kemungkinan tetapi sekaligus bersifat transenden. Oleh karenanya, tak ada seorang pun yang berhak menciderai usaha bebas seseorang menziarahi makna eksistensinya.

Maka relasionalitas “Aku” bersama dengan liyan harus mencetuskan sebuah empati. Empati adalah anak kandung kodrat manusia yang ada-bersama-liyan. Empati lahir dari kedalaman relasi.

Dalam konteks kebhinekaan Indonesia, empati sudah seharusnya menjadi cara berada bangsa ini. Empati bahkan terkandung dalam refleksi setiap nilai Pancasila: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kemasyarakatan dan keadilan.

Jangan sampai kita sekadar tahu Indonseia yang kaya susu dan madu, kaya keragaman budaya, tetapi ironisnya fakir solidaritas, kepedulian dan empati!