Akhir-akhir ini saya merasa betapa Tuhan sedang menguji saya dengan rasa takut. Awalnya saya berharap rasa takut itu hilang seketika. Namun setelah saya pelajari, yang harus saya lakukan adalah menyetir rasa takut itu seimbang dengan harapan dan berteman dengan rasa takut secara wajar. 

Gagasan itu muncul setelah saya mengulang kembali materi kajian filsafat di Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta. Pengajian itu rutin dilakukan pada Rabu malam setiap minggu. Tema-tema yang dibahas dalam satu bulan ditentukan oleh Pak Fahruddin Faiz  -begitu kami memanggilnya- sebagai guru filsafat. 

Saya merasa dihantui rasa takut, yang kemudian mendorong saya memutar kembali audio kajian itu dalam sebuah Channel Youtube Masjid Jendral Sudirman tentang filsafat ketakutan. Saya akan membaginya dalam tulisan ini.

Ketakutan ternyata sesuatu yang harus dimiliki oleh manusia. Jika dalam hidup hanya terdapat harapan, di sana terdapat paradoks. jika tidak hati-hati dan tidak tau 'rem' ia bisa menjadi sumber kekecewaan, putus asa dan kehancuran. lalu apa yang menjadi 'rem' nya ? Rem-nya adalah 'ketakutan'.

Kita harus tau kapan waktunya diam kapan waktunya bicara, kapan waktunya jalan kapan waktunya istirahat sejenak, kapan waktunya kedepan, dan kapan waktunya di belakang saja.

Ketakutan harus dibarengi dengan harapan. Pak Faiz menganalogikan ketakutan dan harapan itu seperti sayap burung. Dua-duanya harus ada, juga fungsional. Dua hal itu harus seimbang. Itulah dalam filsafat disebut dengan kebijaksanaan, disebutkan juga dalam terminologi filsafat sebagai Raja’ (harapan) dan 'Khauf'(takut) pada Tuhan.

Ketakutan adalah bagian dari hidup, dan bentuk dari sebuah ekspresi, dia alami (manusiawi) sangat wajar apabila manusia mempunyai rasa takut. Takut akan hal yang akan terjadi di masa depan, takut kesalahan yang lama terungkap, takut nama baiknya terancam, dan masih banyak lagi jenis rasa takut. 

Rasa Takut dan Berpikir yang Salah

Sumber rasa takut sering kali adalah kesalahan dalam berpikir. Kita menganggap ada sesuatu yang penting, sehingga kita menggantungkan hidup pada sesuatu itu, baik itu uang, reputasi maupun pekerjaan kita. Maka sumber ketakutan adalah pikiran, padahal pikiran itu tidak utuh, rapuh, kerap berubah, bahkan lenyap.

Maka berpikirlah yang sehat. Jika berpikir kita salah, maka lahirlah ketakutan-ketakutan yang tidak rasional. kita harus mengatur apa yang kita pikirkan dan menanggapi segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita secara sehat.

Kita belajar dalam hal ini dari kisah yang terkenal di Barat. Kisah katak kecil yang biasanya diceritakan pada anak-anak. 

Suatu ketika ada rombongan katak kecil yang melakukan lomba naik gedung. Semua katak yang nonton memberikan berbagai komentarnya karena melihat katak yang kecil dan gedung yang tinggi. Menurut katak-katak yang melihat, rasanya tidak mungkin ada katak yang berhasil menaiki gedung  tinggi.

Ternyata, hanya ada satu katak yang tidak peduli dengan teriakan para penonton, dia terus berusaha menaiki gedung. Setelah ia sampai di puncak gedung dan menjadi juara, katak-katak yang nonton menghampiri katak itu dan mulai bertanya bagaimana ia bisa berhasil. Akan tetapi katak itu tidak menjawab dan hanya menoleh sana sinidiketahui bahwa katak itu adalah katak yang tuli.

Dari cerita katak di atas, kita bisa mengambil pelajaran tentang pengaruh sebuah pikiran. Maka harus pintar-pintar dalam memilah segala sesuatu yang seharusnya masuk dalam pikiran, dan mana yang seharusnya hanya lewat, tidak terlalu dipikirkan. 

Menyikapi Ketakutan

Hal yang bisa kita lakukan dalam menyikapi ketakutan antara lain dengan : 1) menyadari sebenarnya kita takut apa. Setelah itu, 2) ingatkan pada diri sendiri bahwa takut itu ‘alami’, akan tetapi sadari pula tidak baik jika dibiarkan terlalu lama. 3) Siapkan diri dan pelajari rasa takut; 4) Hadapi, bertarung melawan rasa takut dengan solusi-solusi yang kita pelajari dari rasa takut yang kita miliki. 5) Lakukan semua itu dengan alami.

Tipuan-tipuan atau manipulasi-manipulasi bisa menambah masalah baru. Segala sesuatu yang tidak alami biasanya menambah masalah. Taklukkan ketakutan secara natural saja dengan kalkulasi yang rasional.

Ahli Filsafat yang berbicara mengenai ketakutan di antara-nya adalah Freud. Menurut Freud, ketakutan adalah ketegangan. Biasanya muncul karena terdapat konflik antara ego (diri sendiri) dan super ego (di luar dari diri sendiri). 

Selain Freud, terdapat Epictetus. Menurutnya, tugas utama filsafat adalah "menyikapi 'jeritan jiwa' memberikan pemahaman dan sekaligus pembebasan dari kesedihan dan ketakutan" jadi jika kita belajar filsafat, seharusnya jiwa, akal, pikiran kita menjadi tenang karena faham dan ilmu kita bertambah. 

Heidegger juga berbicara tentang ketakutan. Ketakutan menurut Heidegger yaitu situasi keberadaan manusia. Terlempar dalam fakta-fakta yang kita alami tetapi kita tidak memilih fakta itu. Semua itu memunculkan kecemasan, dan takut yang bercampur cemas. 

Perlu juga kita mengutip Nelson Mandela tentang rasa takut, "I learned that courage was not the absence of fear, but the triumph over it. the brave man is not he who does not feel afraid, but he who conquers that fear."

Pemberani bukan orang yang tidak mempunyai rasa takut, akan tetapi orang yang bisa menaklukkan  rasa takut. 

Setelah saya putar kembali audio ngaji filsafat itu, hati mulai tenang dan kemudian energi positif masuk.