Setiap orang adalah sama sekaligus berbeda. Satu perbedaan menyebabkan perbedan-perbedaan lainnya. 

Perbedaan posisi menentukan perbedaan sudut pandang, sedangkan perbedaan sudut pandang mempengaruhi sikap masing-masing. 

Semua orang berada di tempat yang sama dalam posisi yang berbeda-beda.

Setiap orang adalah potongan-potongan puzzle. Mereka saling menyusun diri mereka satu sama lain untuk menghasilkan suatu gambaran (makna) hidup. 

Tetapi, manusia tidak hanya bergantung pada sesamanya, namun mereka juga bergantung pada alam semesta. Sedangkan alam semesta berada di bawah kendali Tuhan. 

Segala sesuatu termasuk manusia ditugaskan untuk menjalankan sistem alam semesta (cosmos). Sistem yang baik akan menghasilkan output yang baik.

Sistem tidak dapat dipisahkan dari struktur. Struktur sendiri pada dasarnya adalah organisasi (tatanan) peran dan fungsi. 

Setiap organ (bagian-bagian penyusun struktur) berfungsi sesuai dengan perannya masing-masing. 

Jika salah satu organ tidak berfungsi dengan baik, maka akan terjadi gangguan pada sistem (chaos). Terutama jika kerusakan itu terjadi pada organ vital. 

Dampaknya akan seperti efek domino. Kehidupan merupakan aktivitas sistem. Sedangkan kematian merupakan kerusakan struktur yang menyebabkan sistem tidak lagi berfungsi. 

Misalnya, kerusakan organ paru-paru dapat menyebabkan sistem pernafasan berhenti berfungsi. Ini akan berakibat pada kematian (seluruh sistem mati total).


Perkembangan Sistem Sosial

Beberapa tadisi meyakini bahwa manusia memiliki kedudukan paling penting di dunia (antoposentrisme). 

Paham ini ditentang oleh banyak kalangan yang menyatakan bahwa kedudukan manusia tidak lebih penting dari yang lainnya. 

Memang benar. Tetapi, mereka juga harus ingat bahwa sepanjang sejarah manusia, ada begitu banyak kerusakan lingkungan yang diduga akibat ulah tangan manusia.

Seperti pemanasan global, penggundulan hutan, munculnya wabah penyakit baru dan kepunahan beberapa spesies. 

Manusia memiliki kesadaran yang tidak dimiliki oleh yang lainnya. Dengan kesadaran ini, manusia mempunyai kendali atas realitas. Inilah yang disebut dengan kehendak bebas. 

Paham antroposentris sedari awal tidak bermaksud untuk menempatkan kedudukan manusia di atas yang lainnya. 

Mereka hanya berupaya menegaskan bahwa manusia mempunyai tanggung jawab yang besar atas yang lainnya. 

Tugas manusia adalah mengoptimalkan ekosistem. Misalnya mencegah kepunahan suatu spesies, melakukan budidaya untuk mengoptimalkan sumber daya (pertanian dan peternakan), dan menekan ledakan suatu populasi yang dapat mengancam keberlangsungan populasi lainnya (Cth: mikrooganisme berbahaya). 

Ini hanya sebatas spesialisasi bagi umat manusia. Setiap mahluk adalah spesialis di bidangnya masing-masing. 

Semuanya harus bekerjasama menjalankan ekosistem demi keberlangsungan hidup.

Mengelola ekosistem adalah tugas pokok manusia. Dalam skala yang lebih kecil, sebagaimana sistem sosial (masyarakat), orang-orang biasanya akan berbagi tugas yang lebih spesifik. 

Para ahli menyebutnya dengan istilah yang berbeda-beda seperti peran sosial dan pembagian kerja. Sedangkan dalam tradisi Hindu dikenal dengan sistem kasta.

Namun, ada banyak kesalahpahaman mengenai sistem kasta tersebut. Mayarakat tradisional memandang sistem kasta secara kaku. 

Padahal, tujuan utama dari sistem kasta itu sendiri ialah pembagian tugas sosial. Setiap kasta memiliki kedudukan yang sama pentingnya di dalam masyarakat. 

Sebagai contoh, ksatria bertanggungjawab terhadap ketahanan negara sedangkan Waisya bertanggungjawab terhadap ketahanan pangan. 

Dengan demikian, klasiffikasi tanpa integrasi hanya akan menimbulkan diskiminasi.

Karena banyak terjadi penyimpangan dalam praktiknya, sistem kasta semakin ditinggalkan oleh masyarakat. Masyarakat modern mulai mengadopsi sistem pembagian tugas yang lebih fleksibel.

Orang-orang tidak lagi terpaku pada satu tugas tertentu. Tugas sosial tidak lagi ditetapkan, melainkan dipilih. Masyarakat bebas berpartisipasi. 

Meski demikian, Durkheim berpendapat bahwa pembagian kerja pada masyarakat modern lebih kuat daripada masyarakat tradisional. 

Menurut Durkheim, masyarakat modern sangat teroorganisir yang menyebabkan pembagian kerja menjadi lebih kompleks.

Adam Smith, dalam bukunya The Wealth of Nations, berpendapat bahwa peningkatan pembagian kerja merupakan penyebab utama kemakmuran suatu masyarakat.

Smith memberi contoh yang terkenal dari kasus produksi pin. 

Ia menegaskan bahwa sepuluh pekerja bisa menghasilkan 48.000 pin per hari jika setiap delapan belas tugas-tugas khusus ditugaskan untuk pekerja tertentu. 

Rata-rata produktivitas: 4.800 pin per pekerja per hari. Tapi absen pembagian kerja, pekerja akan beruntung untuk menghasilkan bahkan satu pin per hari.

Sistem sosial lahir seiring dengan lahirnya masyarakat karena sistem sosial merupakan kerangka dari masyarakat itu sendiri. 

Bentuk pertamanya adalah pembagian tugas keluarga inti antara suami dan istri. Di zaman pra-sejarah, pria bertugas untuk berburu dan wanita melindungi anak-anak dan memasak makanan. 

Sistem sosial purba semacam ini bahkan masih bertahan hingga saat ini. 

Sistem sosial kemudian berkembang seiring dengan cita-cita sosial yang semakin tinggi, memaksa lebih banyak orang dan kelompok untuk bekerja sama dan saling bergantung satu sama lain, mengembangkan lebih banyak tugas dan spesialisasi, dan membentuk masyarakat yang lebih besar dan kompleks. 

Itulah sebabnya masyarakat yang lebih besar dengan interaksi yang lebih luas seperti kerajaan dan negara lebih maju dalam hal peradabannya dibandingkan dengan masyarakat atau kelompok sosial yang lebih kecil dan terisolasi seperti suku-suku di pedalaman.


Dari Potensi ke Kompetensi

Tugas sosial didasarkan pada potensi diri. Potensi dimiliki oleh setiap orang, mereka bisa menggalinya ke dalam atau mencarinya keluar. 

Potensi akan terus berdialektika dengan lingkungan. Potensi adalah bibit, lingkunganlah yang akan menentukan ia tumbuh subur atau mati. 

Konsep ini digambarkan dengan cukup menarik oleh Pierre Bourdieu. Bourdieu memahami realitas sosial sebagai hubungan dialektis antara struktur subjektif (internal) dengan struktur objektif (eksternal). 

Seseorang akan menemukan potensinya sekaligus menyesuaikannya dengan lingkungannya melalui proses belajar dan interaksi terus menerus. 

Dalam proses ini jugalah seseorang akan menemukan tugas sosialnya.

Sebagai contoh, seorang siswa yang gemar menggambar mengikuti ekskul seni di sekolahnya. 

Di sana dia menemukan dirinya cukup berbakat dalam bidang seni rupa dua dimensi. Saat memasuki perguruan tinggi, dia mengambil jurusan animasi karena ketertarikannya pada teknologi komputer yang terus berkembang. 

Selama menjadi mahasiswa, dia sangat aktif mengikuti kompetisi animasi dan meraih banyak penghargaan. Dia juga sangat aktif membuat konten video animasi di youtube. 

Kemampuannya yang mengesankan semakin dikenal luas oleh publik. Setelah menyelesaikan pendidikan stratanya, salah satu perusahaan merekrutnya menjadi desainer video game.

Teori peran menyatakan bahwa setiap orang adalah aktor yang menjalankan sebuah skenario besar. Para sosiolog menyebut skenario ini sebagai struktur sosial. 

Menurut Giddens, struktur sosial terbentuk melalui proses yang disebut strukturasi. 

Strukturasi merupakan proses yang mana konsekuensi tindakan yang tidak disengaja menciptakan norma, aturan, peran, atau struktur sosial lainnya yang akan mempengaruhi atau menghambat tindakan di masa depan. 

Giddens meyakini bahwa hubungan agen (orang) dengan struktur itu berifat dualitas (timbal-balik), internal, mengekang (constraining) namun juga membuat agen mampu (enabling) melahirkan tindakannya sekaligus. 

Dualitas struktur itu terjadi dalam praktik sosial yang berulang (reproduksi sosial) dan terpola dalam lintas ruang dan waktu.

Teori strukturasi lahir pada masa kejayaan liberalisme postmodern. Dimaksudkan sebagai jalan tengah atas perdebatan panjang strukturalisme (makrososial) dan individualisme (mikrososial) yang lahir lebih awal pada masa kejayaan sistem-sistem sosial sebelumnya. 

Jadi, teori strukturasi lebih relevan dalam mendeskripsikan tentang dinamika sosial saat ini. 

Dalam ilmu sosial, setiap teori hanya relevan dengan zamannya masing-masing. 

Teori-teori strukturalisme relevan dalam menjelaskan sistem sosial seperti monarki dan totaliter, dimana struktur masih sangat kuat dan mendominasi masyarakat. Individu-individu dianggap tidak memiliki cukup pengaruh terhadap struktur.

Pemudaran struktur sosial kuno yang ketat dan kaku terbukti telah mengubah jalannya cerita, kehidupan sosial semakin banyak berimprovikasi. 

Bagi sebagian orang mungkin tampak acak dikarenakan dinamika dan perubahan yang lebih terasa, sehingga menjadi lebih sulit diprediksi. 

Tapi oleh karena itu juga lebih banyak kemungkinan peluang yang tersedia. Semakin banyak peluang yang tampak oleh kita, maka semakin banyak pilihan.

Bukankah kebebasan diukur dari semakin banyaknya pilihan? Hal itu terbukti dengan kemunculan banyak profesi, disiplin, spesialisasi atau bidang baru. 

Meski begitu, persaingan semakin ketat karena didorong oleh ledakan populasi dan menipisnya persediaan sumber daya alam. 

Sekarang, setiap orang bebas menyetir dirinya sendiri membawanya ke tujuan yang diinginkannya dan memilih rute terbaiknya sendiri. “Dimana ada kemauan, disitu selalu ada jalan”.