Mekanik
1 bulan lalu · 239 view · 5 menit baca · Politik 32212_35214.jpg

Filsafat Politik Piton dan Domba

Sore itu, di bawah bayang-bayang angkernya kemacetan kota, kami begitu bersemangat untuk menemuinya. Bercengkerama dengannya teramat penting, sebab peta jalan tentang impian, tentang hasrat, dan seterusnya ada terekam pada diary-nya, kami bisa curhat sebebas-bebasnya. 

Aku tidak tak begitu familiar dengan orang ini, tetapi percayalah, dalam diary-nya, episode kelamnya politik cukup lengkap. Sebagai seorang ‘pengisah’, kesepuhannya terkadang membuat ia hidup dalam persembunyian.

Singkat cerita, suasana hatiku seperti rentetan suara senjata otomatis, pada saat dia tiba-tiba bilang negeri kini sedang dirampok oleh para politikus yang bernasib Piton dan Domba. Maksudnya!? Seketika itu juga mencekam, dan kami pun tertawa lepas.

Berpikir keras, mengapa menggunakan simbolisme piton dan domba? Politikus, terutama wakil rakyat di semua level parlemen (mestinya), merupakan makhluk yang bermoral, agung, dan luhur. Menurutnya, pada era demokrasi sekarang ini tak sedikit politikus yang menyerupai simbolik spesies hewan tersebut, mereka menumpang, mereka mendadak muncul yang terkadang menjadikan semua mengagumkan dan memesona. 

Namun, lain dengan kenyataannya, justru menunjukkan kalau mereka lebih mirip satu dan lainnya dengan salah satu spesies.


Penggambaran mengenai kesamaan manusia parlemen dengan hewan ini telah banyak pemikir utilitarian kontemporer yang dengan apik 'menyentilnya’. Namun, sekilas alasan mengapa menggunakan simbolisme hewan? Sebab, selain memang dalam banyak hal para wakil rakyat (manusia) ini tak ada bedanya dengan perilaku beberapa spesies.

Perilaku kembar, seperti misalnya hewan, memiliki kapasitas bersikap altruis (perhatian terhadap kesejahteraan hewan lain tanpa memperhatikan diri sendiri). Hanya bedanya, para politikus wakil rakyat memiliki tingkat intelegensi yang baik, tetapi juga punya kapasitas mengembangkan altruismenya, tidak hanya pada orang-orang terdekat (keluarga dan kelompoknya), namun juga pada orang lain. 

Artinya, yang jelas karena para wakil rakyat adalah manusia, maka semua sangat potensial berevolusi menjadi organisme apa pun yang dikehendakinya.

Domba disemati stereotip (pelabelan) negatif rendah, bau, dan bodoh. Sementara Piton, spesies predator yang memiliki stereotip (pelabelan) negatif jahat dan pemangsa. Meskipun begitu, sedari kecil, Domba dan Piton, kedua spesies ini menanamkan stereotip, yakni berupa prasangka positif dan juga negatif yang terkadang dijadikan alasan untuk melakukan tindakan.

Sebagaimana spesies Piton dan Domba, karena para wakil rakyat atau beberapa dari mereka ini memendam naluri purba hewaniah. Sikap melakukan tindakan negatif dan sewenang-wenang terhadap spesies lain dan ekosistemnya.

Piton dan Domba di sini sebagai sebuah simbol alegoris politik yang menyimpang dari para wakil rakyat yang telah dipilih secara sukarela oleh masyarakat. Politisi simbolisme Piton dan Domba ini jelas tidak sejalan dengan nilai-nilai politik, sama sekali tidak ada dimensi kebaikannya; justru politik Piton dan Domba ini kejahatan, karena mengkhianati pemilihnya.

Politik simbolisme Piton menjadi simbol bagi politik siasat, politik yang setelah menang justru tidak mau kerja, politikus yang selain pemalas, alpa terhadap fungsi serta tugasnya, oportunis juga tidak punya malu. Seperti cara hidup piton, jika telah perutnya kenyang, piton akan tertidur pulas dalam waktu lama yang tak bisa diperkirakan. Dia baru akan terbangun dari tidurnya setelah habis makanan dalam perutnya.

Sedangkan politik simbolisme Domba dianalogikan sebagai simbol politik yang bodoh, rendah, dungu, dan tidak tahu hal apa yang dikerjakan karena sangat tak mempunyai keahlian. Di parlemen, wakil rakyat dalam simbolik politik Domba hanya menggunakan logika Datang, Duduk, Diam, Dengar, Dapat Duit.

Jaga, Cegah, Kita Kawal

Risalah tentang politik tipikal Piton dan Domba ini suka luput, seharusnya dirilis sebelum hari pencoblosan kemarin, agar menjadi pengingat, penyadaran, perhatian para pemilih cerdas untuk kenali pilihannya, melihat dan mempelajari rekam jejak data primer atau informasi sekunder dari calon. Misal, setidaknya mengetahui motivasi calon tersebut untuk menjadi wakil rakyat. 


Pemilu kali ini sesungguhnya bisa saja merupakan saat tepat untuk mempertahankan atau mengganti para pelaku politik yang dianggap mampu atau tidak berkemampuan. Sebab, seperti banyak peribahasa, ‘mencegah penyakit lebih baik daripada mengobatinya’. Atau jangan sampai ‘sakit menimpa, sesal terlambat, sesudah telanjur (terjadi), menyesal tidak ada gunanya’. Jangan menunggu penyesalan, setelah nanti baru tahu tentang politik solek yang menjebak.

Terhadap politik rezeki Piton dan Domba para politikus selama ini, perhatian kita sering luput. Terkadang baru diketahui mereka setelah telanjur lolos menjadi wakil rakyat di Parlemen. 

Lagi pula, selain tak akan ada gagasan-gagasan yang bisa ditelorkan, kemudian, ketika mereka merangsek naik, sewaktu-waku dapat bertindak pragmatis. Alih-alih di Parlemen mempunyai wakil rakyat atau orang-orang yang mempunyai integritas tinggi, berinteligensi di atas rata-rata, bahkan superior.

Oleh sebab itu, kita tidak lagi memakluminya. Sebab, jika pun nanti diteriaki, percuma dan sia-sia, tidak didengar. Karena dalam percekapan mereka hanya mengerti bahasa piton dan domba. Sebab dalam persepsi sosail manusia hewan politik yang bernama piton dan domba, hubungan dunia wakil rakyat dengan masyarakat pemilihnya (konstituen) sangat jauh antara bumi dan langit.

Manusia Politik di Parlemen

Politisi hanya bernalar dan berkehendak kuasa semata, belum tentu dia menjadi manusia politik. Sedangkan manusia politik punya rasa simpati besar terhadap masyarakat, melingkupi segala gugus dalam segenap dimensi persoalan sosial.

Paling tidak ada tiga alasan mengapa mereka layak dipilih: pertama, dia tahu mau melakukan apa; kedua, stok ide-idenya ada untuk kepentingan rakyat; ketiga, dia harus tahu di sana dia tidak sendirian, yang artinya harus terbiasa berorganisasi sebab mengurus organisasi besar, yaitu (re)publik.

Sebab kita semua sama-sama tahu, semua Caleg mendadak jadi tukang kecap, semuanya jadi manis, menggunakan gimmick (tipu muslihat). Sehingga sampai saatnya mereka menjadi wakil rakyat sulapan, instan. 

Padahal mereka sesungguhnya tidak memiliki kualifikasi sebagai manusia politik, tetapi celakanya lolos menjadi wakil rakyat. Praktik politik yang seperti inilah cikal-bakal menetesnya manusi-manusia kurop, politikus-politikus yang tak hanya lihai menyalahgunaan wewenang.

Namun, kali ini kita harapkan kekuasaan di parlemen semoga diisi minimal 30 persen orang-orang genius, tidak sekadar pintar. Meminjam kalimat Budiman Sudjatmiko, parlemen harusnya diisi 30 persen itu manusia-manusia politik. manusia-manusia politik yang tahu apa dilakukan, mereka tahu apa artinya menjadi manusia politik, punya bekal pengetahuan yang cukup apa artinya menjadi wakil rakyat.


Kita menaruh harapan pada 30 persen wakil rakyat itu untuk membereskan persoalan- persoalan publik. Mereka tidak hanya berpikir masuk DPR itu datang, duduk, diam, tidur. Yang kita butuhkan, minimal orang yang duduk di sebuah lembaga yang terhormat ini orang yang mengerti tentang sebuah ide tertentu.

70 persen itu kita tolerir, bahwa 30 persen harus orang-orang yang tahu tentang membagi antara kepentingan bersama dengan kepentingan pribadinya, yakinlah republik ini akan sehat.

Artikel Terkait