Membuka-buka kembali sebuah komik yang saya beli tahun 2009 dengan judul "Filsuf Jagoan 1-2" karya komikus Fred van Lente dan Ryan Dunlavey. Alih-alih mengeryitkan kening, justru senyum dan tawa kecil terselip selalu saat lembar demi lembar gambar yang mengisahkan sejarah dan pemikiran tokoh-tokoh filsafat besar dan kontroversial dari klasik hingga kontemporer, dari Plato, Nietzhe, Sigmund Freud, Karl Marx, Sartre, Derrida, Kierkegaard.

Bagaimana bisa? Sejak kapan bahan bacaan filsafat identik dengan senyum geli atau tawa membahana? Nalar umum telah mendaulat bahwa Filsafat identik dan lekat dengan persoalan-persoalan pemikiran abstrak nan berat. Di sinilah letak persoalannya.

Jika otak manusia terbukti memiliki belahan kanan dan belahan kiri dan alam pikir terbagi antara kesadaran dan bawah sadar, maka membaca persoalan-persoalan pelik hanya dengan melibatkan satu sisi kerja otak dan kesadaran maka bukan hanya kita melalukan proses membaca dan berfikir secara parsial namun kita pun tidak beroleh hasil yang maksimal.

Otak kiri kerap diidentikkan dengan fungsi-fungsi dan kemampuan yang bersifat analitik (berhitung, memecahkan persoalan, logika) sementara otak kanan diidentikkan dengan fungsi-fungsi kreatif (imajinasi, warna, gambar, bahasa, apresiasi). Alam sadar berkaitan dengan kesadaran yang berlangsung saat seseorang berinteraksi dengan realitas melalui mata saat berjumpa atau membaca serta kata-kata saat berbicara pada sesama.

Sementara alam bawah sadar berkaitan dengan endapan kesadaran yang menyimpan semua ingatan dan kebiasaan, kepribadian serta citra diri entah yang bersifat traumatik maupun heroik dalam jiwa. Para cendekiawan mengatakan bahwa pikiran sadar hanya berkontribusi 10% sementara pikiran bawah sadar berkontribusi 80% dalam kehidupan.

Gambar, warna, bagan, aroma adalah cara bagi otak kanan dan pikiran bawah sadar menyimpan dan mengomunikasikan apa yang kita ingat dengan cara yang lebih kuat. Oleh karenanya saat konsep-konsep abstrak dan analitikal yang dibabarkan para filsuf lengkap dengan aneka istilah pelik dibalik tebalnya buku-buku yang mentransmisikan apa yang mereka pikirkan dituangkan dalam wujud gambar, komik, warna, bagan terasa lebih familiar di mata dan kesadaran kita.

Dengan cepat kita bisa mengenali istilah-istilah seperti "Dunia Gagasan dan Dunia Bentuk"-nya Plato, "Ubermensch (superman)-nya Nietzhe, "Nilai Lebih dan konsep Alienasi"-nya Karl Marx serta "Dekonstruksi"-nya Derrida bahkan "Tiga tahap kesadaran manusia (estetis, etis, religius)"-nya filsuf eksistensialis Kierkegaard.

Namun yang membuat kita tersenyum atau tertawa saat membaca pemikiran filsafat yang dikomikkan lebih dikarenakan pembaca telah familiar dengan sejumlah konsep dan terminologi yang diplesetkan komikus. Ini pararel saat Anda tertawa oleh sebuah lawakan karena Anda telah familiar dengan peristiwa dan istilah-istilah yang diplesetkan.

Oleh karenanya, membaca komik-komik sejenis di atas hanya akan berfungsi informatif dan membuka pemahaman dengan cepat serta menyenangkan untuk memahami sejarah dan makna-makna kunci konsep filsafati bagi para pembaca pemula. Sementara bagi mereka yang sudah familiar dengan sejarah dan konsep-konsep kunci yang ditelurkan para cendekiawan pemikiran, adegan-adegan yang digambarkan sungguh menjadi sebuah lelucon yang intelek sekaligus menghiburkan.

So, maksimalkan dan sinergikan pikiran sadar pikiran bawah sadar serta kemampuan otak kanan otak kiri saat membaca pikiran dan gagasan dalam tebal tipisnya sebuah buku bacaan.