Ini adalah sebuah karya tulis yang sedikit gila. Saya akan bercerita tentang bagaimana seorang akademisi filsafat seperti saya bertualang dalam pertanyaan singkat namun sulit untuk dijawab. Saya akan bercerita tentang pencarian saya yang tak menemukan jawaban. Namun ternyata, jawaban itu terletak dalam ketidakadaan jawaban tersebut. Beginilah ceritanya.

Beberapa hari yang lalu saat saya sedang asyik bermain gawai, seorang teman melalui pesan singkat bertanya pada saya. Pertanyaan tersebut seolah melayang-layang di pikiran saya. Pertanyaan tersebut tentunya bukan sebuah pertanyaan dengan jawaban mudah. Pertanyaan tersebut adalah, “Bro, Filsafat di masa depan mau jadi apa sih?”

Pertanyaan tersebut tak langsung saya jawab. Saya hanya larut dalam pikiran saya sendiri. Di dalam pikiran saya, saya mengandaikan teknologi yang secara cepat berkembang di masa depan. Robot-robot sudah menguasai berbagai bidang pekerjaan seperti chef, accountant, masinis kereta api, bahkan ojek payung yang saya temui saat hujan adalah robot.

Masih di dalam pikiran saya sendiri, saya menemukan seseorang dengan bagian tubuh robot, semacam cyborg namun dengan permukaan kulit yang lebih halus. Bagian tubuh robot itu bisa berubah menjadi apapun, sesuai dengan keinginan sang pemilik. Saya masih terus melamun hingga senja berganti malam. Tak sadar bila Amun-Ra telah berlayar dengan perahu raksasanya.

Meskipun saya telah tersadar dari lamunan, pertanyaan tentang “Mau jadi apa?” terus terngiang. Barangkali inilah pertanyaan banyak orang terhadap akademisi filsafat seperti saya. Pertanyaan tersebut barangkali juga menjadi pandangan masyarakat tentang orang yang belajar “ilmu tak pasti.” Namun, bagi saya pertanyaan bukan sekedar pertanyaan. Ini adalah tantangan, pikir saya bersemangat.

Kemudian, saya menuju ke meja kerja dan mulai membuat suatu peta rancangan. Peta rancangan tersebut berisi apa yang akan terjadi di masa depan. Terlihat di sana, selembar karton putih yang kini sudah tak menjadi putih, beberapa tempelan pekerjaan yang tergantikan oleh robot dan segala sesuatu yang ada kaitannya dengan teknologi. Itu semua saya tempelkan di dalam peta rancangan.

Namun, entah mengapa saya merasa ada yang kurang. Saya merasa lupa terhadap tujuan awal saya membuat peta rancangan. Lalu saya tersadar ketika saya mengingat kembali pertanyaan “Mau jadi apa?” yang teman saya tanyakan pada saya. Ya, segala hal tentang filsafat belum ada di peta rancangan itu. Segala hal tentang filsafat inilah yang penting dalam menjawab pertanyaan tersebut.

Untuk mengatasi kekurangan dari peta rancangan itu, saya membuka laptop kemudian memilah apa-apa saja yang berbau filsafat. Setelah menemukan segala hal tentang filsafat, saya mencetak dan mengguntingnya menjadi semacam karya kerajinan anak SD. Lalu, saya menempelkan semuanya itu sesuai dengan bidang pekerjaan yang tergantikan oleh robot, atau bahkan menempelnya di sembarang sudut kertas.

Saya melihat kehancuran di dalam peta rancangan itu. Semua tempelan yang ada terkesan dipaksakan. Semua hal yang coba saya hubungkan terkait dengan masa depan dengan filsafat tak ayal hanya kertas yang ditempel. Alih-alih menemukan sebuah pengetahuan baru, saya malah membuat sampah baru. Dimana sampah tersebut akan memenuhi bumi sesaat setelah saya meletakkannya di tempat sampah.

Lalu, apakah saya gagal dalam menjawab pertanyaan “Filsafat mau jadi apa?”. Apakah saya gagal dalam menjawab pertanyaan kebanyakan orang tentang filsafat? Kemudian, saya frustasi dan membuang semua peta rancangan tersebut. Benar saja, peta rancangan yang dengan susah payah saya buat seketika menjadi sampah. Inilah jawaban yang saya cari selama ini!

Masa bodoh tentang narasi. Saya akan mulai masuk dalam teori berat dan khas filsafat, haha! 

 Setelah pencarian yang tidak membuahkan hasil, selain menambah sampah di bumi, saya mulai membuka buku yang berisi teori-teori filsafat. Buku yang sedang berada dalam genggaman saya adalah “Pengantar Filsafat dari Masa Klasik hingga Postmodernisme” karya Ali Maksum. Buku ini tidak terlalu tebal, mungkin hanya sekitar dua setengah centimeter jika diukur dengan penggaris.

Lembar demi lembar saya buka. Halaman demi halaman saya lewati, tentu saja itu dengan proses membaca. Lalu saya berhenti pada suatu halaman yang berisi tentang kegunaan filsafat. Nampaknya, ini adalah jawaban dari pertanyaan yang tiba-tiba masuk ke gawai saya, pesan yang ternyata saya tak mengenali pengirimnya. Mungkin saja pesan tersebut dari semesta, entahlah.

Kalimat demi kalimat saya baca dari halaman kegunaan filsafat. Satu kalimat menarik dan menggelitik membuat saya terpaku, “Benarkah ilmu pengetahuan telah sanggup merengkuh langit?”. Bagi mereka penggiat ilmu pengetahuan pertanyaan ini pasti menjadi sambaran petir yang menggelegar. Begitu pula dengan pertanyaan “Mau jadi apa?” bagi saya.

Dalam buku yang saya baca menyebutkan bahwa, “Fakta menunjukkan bahwa hasil-hasil yang dapat diraih oleh ilmu pengetahuan bersifat sementara, karena itu ia senantiasa membutuhkan perbaikan dan penyempurnaan.” Ternyata, semua ilmu pengetahuan tersebut memiliki batasan. Saya bersyukur telah menemukan kalimat ini. Saya menjadi lebih percaya diri sebagai seorang akademisi filsafat.

Ya, nyatanya, ilmu pengetahuan yang menjadi cita-cita pekerjaan bagi banyak orang dibatasi oleh bidang kekhususannya saja. Ilmu pengetahuan yang ada tersebut hanya sanggup meneliti bagian kecil dan detail saja, tanpa dapat melihat keseluruhan realitas. Di samping itu, ilmu pengetahuan konvensional tidak mempersoalkan asas dan hakikat realitas.

Bayangkan saja, jika anda tidak mengetahui apa yang sebenarnya anda lakukan, pasti pekerjaan anda akan kacau. Itulah gunanya mengetahui hakikat dari realitas. Juga itulah gunanya filsafat di masa depan. Filsafat ialah penuntun dan penunjuk arah dalam pencarian hakikat, atau bahasa kimianya inti atom dari suatu zat.

Filsafat yang kata para ahli merupakan ibu dari semua ilmu, katanya juga mempunyai sifat tak terbatas. Saya tak mudah percaya begitu saja terhadap anggapan tunggal ini. Saya ingin membuktikannya. Namun, karena saya tidak memiliki cukup waktu untuk menulis, saya lebih memilih untuk percaya saja, hehe.

Sifat tak terbatas yang dimiliki oleh filsafat inilah mampu menerobos segala batasan dari ilmu pengetahuan lain. Saya akan memberikan sebuah contoh. Jika seorang arsitek ingin membangun sebuah hotel megah dan memiliki nilai estetika tinggi. Namun, arsitek tersebut tidak mengetahui apa itu estetika. Maka, hotel yang ingin dibangun dengan penuh keindahan tersebut tak akan jadi hotel. Lalu, menjadi apa? Entahlah, jangan tanya saya. Saya bukan arsiteknya.

Namun, kembali lagi pada hal yang saya katakan lebih dari dua kali. Filsafat dengan sifatnya yang tak terbatas, ia mampu menerobos segala batasan dari ilmu pengetahuan. Termasuk juga persoalan pembangunan hotel yang mengandung nilai estetika tadi. Filsafat mampu memberikan jawaban atas definisi estetika.

Tetapi, jika anda ingin mencicipi bagaimana rasanya menjadi seorang akademisi filsafat, cobalah untuk berpikir dengan penuh kecurigaan dan radikal. Itulah kekhasan lain dari filsafat. Tak perlu susah-susah mempelajari teori berat filsafati, anda hanya perlu melamun, berpikir mendalam serta mengkaitkan segala sesuatunya agar anda dapat mencicipi menjadi seorang filsuf.

Lalu, pembicaraan ngalor-ngidul ini buat apa? Ya, tentu saja. Untuk menjawab pertanyaan semesta tentang, “Filsafat mau jadi apa sih?”. Jawaban atas pertanyaan ini telah saya temukan. Saya akan segera menulisnya. Segera. Sebentar lagi. Sedikit lagi. Setelah berganti paragraf saya akan menjelaskannya.

Filsafat tidak serta-merta menjadi ilmu yang praktis. Ia bukan ilmu yang dapat digunakan secara langsung untuk membangun atau memproses sesuatu. Bagi saya, ia adalah ilmu yang mulia. Tak sembarang orang dapat mencicipinya. Filsafat dengan kekhasannya, mampu mengingatkan manusia betapa ilmu pengetahuan yang mereka dambakan ternyata terbatas pada bidang kajiannya saja.

Sedangkan, filsafat mampu mengatasi segala pertanyaan atau permasalahan yang dihadapi. Namun, bukan berarti ilmu pengetahuan lain tidak ada gunanya. Ilmu pengetahuan bila ddibuat bekerja sama dengan filsafat, pasti akan menghasilkan sesuatu yang megah. Saya yakin dan percaya bahwa pengetahuan baru akan lahir bila filsafat dan ilmu pengetahuan mampu bekerja sama dengan baik.

Saya ingin mengutip perkataan seorang filsuf yang menurut saya keren, yaitu Rene Descartes. "Dubito ergo cogito, cogito ergo sum." Terjemahan sederhanya adalah saya ragu maka saya berpikir, saya berpikir berarti saya ada. 

Salam, seseorang dari antah-berantah.