“There are people in the world so hungry, that God cannot appear to them except in the form of bread.” ― Mahatma Gandhi

“Ask not what you can do for your country. Ask what’s for lunch.” ― Orson Welles

Suatu hari di keramaian Metro Manila, kami kebingungan mencari makanan yang menurut kepercayaan kami halal. Hingga sampailah informasi bahwa di sebuah supermarket ada mie instan produk Indonesia yang terkenal itu. Tentunya, dengan label halalnya. Bersorak gembiralah hati dan kalbu. Apalagi dengan mata kepala sendiri melihat label “halal” yang terdapat pada bungkus kemasan. 

Beberapa tahun kemudian, saya baru merenung. Tentang label halal di ruang publik, tentang halal-haram yang terwakili oleh “logo”. 

Begitu pede-nya label halal itu narsis di ruang publik yang banyak berisi kesepakatan-kesepakatan lainnya yang tentunya berbeda antara kelompok satu dengan lainnya. 

Logo halal yang akan memberikan tekanan impedansi terhadap produk lainnya yang tak berlogo halal. Kenapa hal tersebut tidak diimpedansikan saja di ruang privat? Bukankah itu ranah privat masing-masing individu?

Menilik lebih jauh tentang epistemi halal-haram yang sangat relatif sekali, maka kalau kita mau jujur dengan sebuah hikmah inkuiri ilmiah reflektif; bahwa tubuh kita itu sebagian tersusun dari zat paling hakiki, yaitu asam amino sebagai salah satu pendukung kehidupan dan metabolisme tubuh.

Salah satu penyusun asam amino tersebut adalah gugus Serin atau Serina yang mengandung alkohol. Dengan kata lain, alkohol yang terafiliasi dalam keharaman alcoholic drinks, misalnya, juga sama halnya dengan kedudukan serin yang alkohilik pada tubuh kita.

Serin yang alkoholik itu termasuk jenis asam amino yang menutrisi tubuh untuk keseimbangan metabolisme dan keterjagaan kesehatan kita.

Serin yang alkoholik itu juga penting bagi penjagaan fungsi DNA dan RNA. Serin yang alkoholik itu membantu metabolisme asam lemak dan lemak. Serin yang alkoholik itu membantu pembentukan otot dan juga kesehatan sistem kekebalan atau imunitas tubuh kita.

Serin yang alkoholik itu adalah senyawa nonesensial yang sangat berguna dalam membantu kita merawat dan menjaga fungsi otot tubuh, termasuk otot jantung kita yang sangat esensial dan kritis. Serin yang alkoholik itu memainkan peran dalam proses penyerapan keratin di dalam tubuh kita. 

Jadi, mantaplah tubuh kita dengan satu sebutan alcoholic Serina.

Akan lebih rumit dan susah lagi jika ditilik peranan alkohol dan bahan-bahan lainnya yang disepakati haram, ternyata banyak digunakan sebagai senyawa-senyawa pendukung industri kimia. 

Di situlah letak impedansi logo Halal yang sangat provokatif banget. Setiap belanja ke supermarket ataupun tempat niaga lainnya, mata kita dipaksa untuk terus menjeling ke logo yang sebagian terwakili huruf-huruf Arab itu. 

Sebagian lainnya, mata kita juga kadang menjeling ke label "fakta gizi". Apa sih sebenarnya hubungan logo dan angka-angka fakta gizi dengan barang yang kita beli yang kemudian masuk ke perut kita? 

Untuk pertanyaan yang berhubungan dengan angka-angka fakta gizi yang sering dimunculkan oleh para sejarawan dan filsuf sains dalam kaitannya dengan hakekat makanan yang menjadi salah satu bidang penelitian, akan menemukan jawaban yang mendekati kepuasan.

Sebab untuk pertanyaan "fakta gizi", merupakan pertanyaan yang mendasar tentang validitas hukum alam, terutama ilmu metabolisme serta struktur penelitian ilmiah atau pertayaan tentang siapa saja yang membiayai studi pada fakta gizi atau nutrisi yang sering kita temukan di label-label makanan.

Ketika sudah ditemukan jawabannya, maka itulah bagian dari filsafat kudapan atau filsafat makanan yang berisikan tentang dasar-dasar pemikiran bahwa makanan adalah cermin, "kita adalah apa yang kita makan." 

Aksi memakan makanan mencerminkan pembentukan  jati diri, yaitu serangkaian keputusan dan keadaan yang membuat kita makan seperti yang kita lakukan, yang tak perlu diatur atur di ruang publik.

Sebab, diaturpun tidak akan mampu memperlihatkan  gambaran umum diri kita secara terinci dan komprehensif dari hanya sebuah tindakan "mengambil" makanan yang berlogo halal. 

Filsafat makanan itu merefleksikan aspek etis, politis, sosial, artistik, dalam menentukan identitas makanan di sebuah riang privat, dan bukan sebaliknya di ruang publik. 

Filsuf sedikit sekali yang mencurahkan perhatiannya terhadap makanan. Sebab kebanyakan bab makan dan minum itu sering diperdebatkan oleh kaum beragama dan kaum konservatif pembuat aturan-aturan. 

Ketika kitab suci dan omongan orang-orang shalih dijadikan pegangan untuk menentukan halal-haram, maka di situ juga berkembang interaksinya menjadi ke arah yang sangat sensitif ke publik. 

Semisal akibat interaksi kekuatan-kekuatan dan kekuasaan manusia sebagai homo administrativus (manusia sebagai makhluk penuh aturan dan pembuat aturan).

Kuasa-kuasa administratif akan memberikan label ini dan itu untuk memberi tanda halal, dan selebihnya bisa jadi dianggap haram oleh sebuah provokasi publik. 

Sesuatu yang dibesar-besarkan oleh rohaniawan sehingga muncul ke permukaan sebagai sebuah aturan "Yang Maha" untuk berimpedansi ke ruang publik heterogen .  

Berbanding terbalik dengan rohaniawan, filsuf cenderung membicarakan bagaimana untuk menerapkan makan segar pertanian ke meja dapur. Bagaimana buah-buahan, biji-bijian dan sayuran segar itu tak tereduksi oleh zat kimia. 

Mereka lebih berbicara tentang mikronutrisi seperti amilase, protease, dan lipase yang membantu kelancaran pencernaan. Bukan sebaliknya, membuat impedansi-impedansi ruang publik yang provokatif.

Maksud pembahasan ini adalah sisi impedansi logo halal terhadap ruang publik yang heterogen. Untuk masalah ini halal itu haram, silahkan dipegang teguh menurut kitab suci masing-masing. 

Bagaimana sebuah kesepakatan sepihak itu tidak menimbulkan provokasi terhadap keserasian sebuah heterogenitas. 

Termasuk agar mereka tidak susah payah menuliskan "No Lard" atau "No Pork" di kaca-kaca warung mereka, yang sejatinya dan sebenarnya kita sudah paham apa yang dijual dan bahan utama masakannya. 

Juga tentang makanan-makanan yang terkemas yang sejatinya kita cukup menilai dari sesuatu yang umum saja. Misal, kalau di kemasan tertulis "Kripik Kulit Babi", ya, jelaslah dapat anda putuskan sendiri di ruang privasi menurut keyakinanya masing-masing. 

Kemudian sudah jelas terbaca "Kripik Pisang", kok, masih saja logo halal perlu disematkan umtuk membuat provokasi dan impedansi terhadap produk-produk "Kripik Pisang" lainnya yang tak ada logo halalnya. Sesuatu yang sia-sia dan terlalu mengekang. 

Sebagai refleksi kontradiktifnya, semisal di Singapura, kita akan dengan mudah menemui restoran yang bertuliskan "no pork no lard" yang artinya tanpa daging babi dan tanpa lemak babi. 

Namun "no pork no lard" di sana, tak sepenuhnya menjamin makanan tersebut halal. Sebab, satu restoran biasa menjual menu heterogen, baik yang halal ataupun yang haram, campur aduk jadi satu.

Bukankah menurut tafsiran kitab suci Anda dan sumber-sumber pendukungnya, bahwa halal itu juga berkaitan dengan proses pemotongan daging, higienisitas makanan, bagaimana daging atau bahan masakan tersebut disimpan, atau tentang peralatan yang dipakainya?