Kadangkala hidup terasa seperti olahraga (sport). Ia menarik, riuh, penuh tantangan dan harapan-harapan. Tapi hidup juga menegangkan, mencemaskan, tiada lain kecuali senda-gurau dan permainan. Ada kalanya hidup terasa menyenangkan, tapi bersamaan dengan itu rasa cemas dan takut menebar ancaman.

Dalam sebuah pertandingan olahraga, hasil akhirnya cuma dua: menang atau kalah, jadi juara atau pecundang. Karena hanya ada dua pilihan, setiap atlit atau tim olahraga berupaya saling kejar, saling tekel, saling jegal, berupaya menyingkirkan dan mengalahkan lawan. Olahraga adalah persaingan demi tujuan yang sama: kemenangan atau gelar juara.

Untuk mendapatkan kehormatan itu, atlit-atlit dan tim-tim olahraga disibukkan oleh persiapan-persiapan. Mereka harus menyiapkan berbagai kelengkapan, baik materi (perlengkapan bertanding, kebugaran fisik, dan lain-lain) maupun gagasan (taktik, strategi, ide pemompa semangat juang, dan lain-lain).

Dalam sebuah kompetisi, agar dapat melaju babak demi babak, setiap atlit dan tim harus menyingkirkan satu persatu pesaingnya. Sekalipun mereka kemudian berhasil melewati lawan-lawan yang menghadang di babak-babak awal, ancaman tersingkir di babak-babak selanjutnya terlihat di pelupuk mata.

Bagi setiap atlit dan tim olahraga, kompetisi merupakan tantangan yang memikat. Tapi bersamaan dengan itu, hati diliputi rasa tegang dan cemas. Hasil akhir boleh jadi berpihak padanya, tapi kemungkinan terburuk juga tetap terbuka.

Pandangan terhadap lawan-lawan bertanding merupakan sesuatu yang unik dalam olahraga. Di satu sisi, tanpa mereka pertandingan dan kompetisi takkan berlangsung. Sementara di sisi lain, lawan adalah pihak yang harus ditaklukkan, karena menjadi penghalang antara diri dengan kemenangan. Lawan-lawan, karena itu, dihormati sekaligus dibenci.

Uniknya, perasaan-perasaan itu tidak hanya dimiliki atlit dan para pemain dalam sebuah tim olahraga, melainkan juga para fans, terlebih yang fanatik. Para penggemar ini merasakan hal yang sama: kenikmatan, kecemasan, penghormatan dan kebencian, seakan merefleksikan jiwa idola-idola mereka.

[Gambaran tentang lika-liku para fans pernah saya tuliskan dalam artikel berjudul Agamaku Sepakbola di Harian Radar Banjarmasin, 8 Januari 2020]

Apakah kehidupan kita serupa dengan pertandingan dan kompetisi olahraga? Pada aspek tertentu kenyataannya memang demikian. Setiap hari kita saling bersaing meraih kesuksesan, entah itu dalam karir ataupun percintaan. Setiap saat pula kita saling berkompetisi meraih kehormatan, entah itu dalam jabatan ataupun pergaulan.

Tentu saja, agar keinginan-keinginan itu tercapai, kita memerlukan segala persiapan. Dalam persiapan tersebut diperlukan perangkat-perangkat yang bersifat materiil, disertai dengan ide, gagasan dan nilai-nilai yang kiranya menopang upaya mencapai tujuan-tujuan itu. Semua itu kita dapatkan lewat pendidikan, agama, ideologi dan lain sebagainya.

Layaknya lawan bertanding dan berkompetisi, di satu sisi keberadaan saingan-saingan menegaskan eksistensi kita, seperti tiadanya tinggi tanpa ada rendah, atau seperti tiadanya mulia tanpa adanya hina. Namun di sisi lain, merekalah yang harus dikalahkan supaya kesuksesan dan kehormatan diraih. Merekalah kawan-kawan yang pantas dihormati sekaligus lawan-lawan yang harus dibenci.

Tidaklah keliru kiranya jika Frederic Gros dalam A Philosophy of Walking (terjemahan Inggris oleh John Howe, 2014) mengatakan “there is a kinship between war and sport”. Ada hubungan “genetik” antara olahraga dan perang. Jika ada kemiripan antara olahraga dan perang, hidup dalam persaingan juga punya unsur-unsur peperangan.

Yang pasti, perang selalu menghasilkan penderitaan. Penderitaan dimaksud bukan hanya rasa cemas dan benci di hati mereka yang berkompetisi, melainkan juga orang-orang di sekitar. Sebab, dalam setiap perang selalu ada korban-korban tak bersalah.

Namun ada satu hal yang menarik dalam olahraga bila kompetisi digelar dengan sistem liga. Di sana, tim olahraga keluar sebagai juara setelah mengumpulkan poin lebih banyak dari tim-tim pesaingnya. Dengan sistem dan standar ini, boleh jadi sebuah tim jadi juara dengan mengumpulkan poin sedikit, tapi jumlah poin tim-tim lain di akhir muslim liga lebih sedikit lagi.

Jadi selain faktor usaha sendiri, keberuntungan menjadi faktor lainnya yang menghasilkan kemenangan seseorang. Kejayaan satu pihak juga berarti kegagalan lawan-lawan bertanding. Dalam hal ini, kompetisi bergulir layaknya suatu struktur sosial.

Karena setiap individu hidup dalam struktur sosial masyarakatnya, persaingan hidup tak ubahnya jejaring struktur. Dalam suasana semacam ini, jika sukses dicapai, itu berarti ada orang lain yang gagal. Jika kemenangan diraih, itu berarti ada orang lain yang kalah. Jika ada putih, berarti ada hitam. Jika ada tinggi, berarti ada rendah, begitu seterusnya.

Dengan struktur kehidupan ini, di samping usahanya sendiri, tak jarang orang berupaya merekayasa faktor-faktor lain alias berbuat curang demi membantunya menuju sukses. Kalaupun tidak berbuat curang, orang paling tidak berharap agar saingannya jatuh, cedera, lemah, hina dan gagal. Lagi-lagi, ini bentuk lain dari penderitaan.

Hidup dalam persaingan dan perlawanan menjadikan eksistensi diri bergantung pada eksistensi diri yang lain. Diri menjadi tidak otonom kemudian terasing manakala kehidupan berhenti karena tiada lawan yang harus dihadapi. Untuk itu, kita harus membebaskan diri dari kungkungan persaingan dan perlawanan ini.

Setelah menyatakan bahwa ada kemiripan antara olahraga dan peperangan, Frederic Gros, dalam bukunya yang memenangkan English PEN Award sebagaimana disebut di atas, menggagas kebebasan eksistensial dalam aktivitas jalan kaki. “Walking is not a sport”, jalan kaki bukanlah olahraga, tegasnya dalam salah satu bab.

Olahraga menyoal teknik-teknik, aturan-aturan, skor dan persaingan. Dalam olahraga orang mengincar tempatnya dalam ranking-ranking dan hasil akhir pertandingan. Sementara dengan berjalan kaki, yang ada hanyalah menempatkan satu kaki setelah kaki lainnya secara berulang-ulang. Ketika para pejalan kaki bertemu tak ada perbincangan soal skor dan hasil.

Mungkin para pejalan kaki hanya akan saling bertanya dari mana masing-masing datang. Mungkin pula ada sedikit persiapan yang bersifat materiil, seperti sepatu yang nyaman, kaos kaki yang bagus atau pakaian yang pantas. Tapi persoalannya takkan lebih dari itu dan bahkan bukan itu yang terpenting.

Yang jelas menurut Gros, jalan kaki adalah cara terbaik untuk melaju lebih pelan, tapi memberikan ketenangan dan kebahagiaan. Hanya ada satu hal yang menjadi perhatian dalam berjalan kaki: jernihnya langit dan indahnya pemandangan. Sekalipun pelan, ketika sudah melangkah, orang pasti meninggalkan tempat ia sebelumnya berada.

Hidup yang penuh kompetisi membuat eksistensi diri terpenjara dalam kebergantungan dengan diri yang lain. Maka perlu kiranya kita sedikit menurunkan tempo kehidupan dan melaju lebih pelan. Hal itu demi memberi kesempatan bagi batin untuk melakukan perenungan diri.

Jalan kaki berarti melaju lebih pelan, hanya ada kita dan alam, jauh dari kebisingan dan penderitaan. Seperti halnya jalan kaki, perenungan dan pengenalan diri adalah jalan sunyi yang dapat memberi kita kebebasan.

Jalan kaki memberi kita satu pelajaran berharga. Kebahagiaan kadang ditemukan di dalam hal-hal yang sederhana.